logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Ilmu Sejarah

Sejarah Bhineka Tunggal Ika – Pemersatu Bangsa Indonesia


Ilustrasi bhineka tunggal ika

Bhineka Tunggal Ika merupakan semboyan Negara Kesatuan Republik indonesia. Semboyan Bhineka Tunggal Ika memiliki arti "walaupun berbeda-beda, tapi tetap satu jua". Tulisan semboyan ini terpangpang jelas di bawah lambang Indonesia, burung Garuda. Dalam lambang Garuda, tulisan Bhineka Tunggal Ika berada dalam balutan pita yang dicengkeram kaki burung Garuda.

Semboyan Bhineka Tunggal Ika sangat menggambarkan keberagaman suku, bangsa, ras, dan agama yang ada di Indonesia. Keberagaman unsur budaya, bangsa, dan lainnya yang ada di Indonesia menggambarkan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Jadi, dapat disimpulkan bahwa semboyan tersebut merupakan semboyan pemersatu berbagai bangsa, suku, agama, dan unsur lainnya sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejarah Bhineka Tunggal Ika

Awalnya, semboyan yang dijadikan semboyan resmi Negara Indonesia sangat panjang, yaitu Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharmma Mangrwa. Semboyan Bhineka Tunggal Ika dikenal untuk pertama kalinya pada masa Majapahit era kepemimpinan Wisnuwardhana. Perumusan semboyan Bhineka Tunggal Ika ini dilakukan oleh Mpu Tantular dalam kitab Sutasoma.

Perumusan semboyan ini pada dasarnya merupakan pernyataan kreatif dalam usaha mengatasi keanekaragaman kepercayaan dan keagamaan. Hal itu dilakukan sehubungan usaha bina Negara kerajaan Majapahit saat itu. Semboyan Negara Indonesia ini telah memberikan nilai-nilai inspiratif terhadap sistem pemerintahan pada masa kemerdekaan. Bhineka Tunggal Ika pun telah menumbuhkan semangat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam kitab Sutasoma, definisi Bhineka Tunggal Ika lebih ditekankan pada perbedaan dalam hal kepercayaan dan keanekaragaman agama yang ada di kalangan masyarakat Majapahit. Namun, sebagai semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia, konsep Bhineka Tungggal Ika bukan hanya perbedaan agama dan kepercayaan menjadi fokus, tapi pengertiannya lebih luas. Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan Negara memiliki cakupan lebih luas, seperti perbedaan suku, bangsa, budaya (adat istiadat), beda pulau, dan tentunya agama dan kepercayaan yang menuju persatuan dan kesatuan Nusantara.

Jika diuraikan kata per kata, Bhineka berarti Berbeda, Tunggal berarti Satu, dan Ika berarti Itu. Jadi, dapat disimpulkan bahwa walaupun berbeda-beda, tapi pada hakekatnya satu. Dengan kata lain, seluruh perbedaan yang ada di Indonesia menuju tujuan yang satu atau sama, yaitu bangsa dan Negara Indonesia.

Berbicara mengenai lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia, lambang Garuda Pancasila dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika ditetapkan secara resmi menjadi bagian dari Negara Indonesia melalui Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 pada 17 Oktober 1951 dan di-Undang-kan pada 28 Oktober 1951 sebagai Lambang Negara. Usaha pada masa Majapahit maupun pada masa pemerintahan Indonesia berlandaskan pada pandangan yang sama, yaitu pendangan mengenai semangat rasa persatuan, kesatuan dan kebersamaan sebagai modal dasar untuk menegakkan Negara.

Sementara itu, semboyan "Tan Hana Darma Mangrwa dipakai sebagai motto lambang Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas). Makna dari semboyan itu adalah "Tidak ada kebenaran yang bermuka dua". Namun, Lemhanas kemudian mengubah semboyan tersebut mejadi yang lebih praktis dan ringkas, yaitu "Bertahan karena benar". Makna "Tidak ada kebenaran bermuka dua" sebenarnya memiliki pengertian agar hendaknya manusia senantiasa berpegangan dan berlandaskan pada kebenaran yang satu.

Semboyan Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa adalaha ungkapan yang meamaknai kebenaran aneka unsur kepercayaan pada Majapahit. Tidak hanya Siwa dan Budha, tapi juga seajumlah aliran (sekte) yang sejak awal telah dikenal lebih duku sebagian besar anggota masyarakat Majapahit yang memiliki sifat majemuk.

Sehubungan dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, cikal bakal dari Singasari, yakni pada masa Wisnuwardhana sang dhinarmeng ring Jajaghu (candi Jago), semboyan tersebut dan Candi Jago disempurnakan pada masa Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, kedua simbol tersebut lebih dikenal sebagai hasil peradaban masa Kerajaan Majapahit.

Dari segi agama dan kepercayaan, masyarakat Majapahit merupakan masyarakat yang majemuk. Selain adanya beberapa aliran agama dan kepercayaan yang berdiri sendiri, muncul juga gejala sinkretisme yang sangat menonjol antara Siwa dan Budha serta pemujaan terhadap roh leluhur. Namun, kepercayaan pribumi tetap bertahan. Bahkan, kepercayaan pribumi memiliki peranan tertinggi dan terbanyak di kalangan mayoritas masyarakat.

Pada saat itu, masyarakat majapahiat tebagi menjadi beberapa golongan. Pertama, golongan orang-orang Islam yang datang dari barat dan menetap di Majapahit. Kedua, golongan orang-orang China yang mayoritas beasal dari Canton, Chang-chou, dan Fukien yang kemudian bermukin di daerah Majapahit.

Namun, banyak dari mereka masuk agama Islam dan ikut menyiarkan agama Islam. Ketiga, golongan penduduk pribumi. Penduduk pribumi ini jika berjalan tidak menggunakan alas kaki, rambutnya disanggul di atas kepala. Penduduk pribumi sepenuhnya percaya pada roh-roh leluhur.

Bhineka Tunggal Ika Hanya Milik Indonesia

Menurut sejarah Bhineka Tunggal Ika, negara yang terkenal dengan keanekaragaman, Indonesia dikaruniai sejarah peradaban yang sangat besar dan unik. Indonesia berdiri di atas tanah yang pernah dikuasai Kerajaan Hindu, Kerajaan Budha, Kerajaan Islam, bangsa Portugis, Inggris, Jepang, dan Belanda.

Semuanya mempengaruhi bahasa dan kebudayaan Indonesia. namun, pada 1945, bangsa Indonesia bersatu yang kemudian baru bisa merdeka pada 17 Agustus 1945. Pada tanggal tersebut pun, selain memproklamasikan kemerdekaan dari penjajah, juga menunjukkan bahwa keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia telah menghasilkan kemerdekaan.

Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa Bhinek Tunggal Ika bukan hanya sekadar semboyan persatuan, bukan hanya sekadar visi bangsa Indonesia, tapi lebih dari itu, sebuah ide dari seluruh negara Indonesia. ide yang meningkatkan keberadaan Negara Indonesia.

Sejatinya, Bhineka Tunggal Ika merupakan ideologi bangsa Indonesia. Sebuah ideologi yang harusnya meningkatkan kecintaan masyarakat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semboyan itulah yang pernah membawa Indonesia menjadi Negara yang besar. Namun sekarang ini, nilai Bhineka Tunggal Ika sudah mulai memudar sehingga masyarakat sekarang cenderung egois. Hal itu membuat Negara Indonesia menjadi berantakan.

Semenjak masa reformasi, semboyan Bhineka Tunggal Ika mulai memudar. Sejatinya, reformasi yang terjadi harus membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Namun, yang terjadi malah sebuah reformasi yang kebablasan. Sistem otonomi daerah yang diterapkan pada setiap daerah telah membawa sistem reformasi menjadi tidak efektif alias tidak berjalan mulus.

Perhatikan para pemuda yang merupakan generasi penerus bangsa Indonesia ini. Banyak di antara para pemuda yang tidak mengenal semboyan tersebut. Banyak para orangtua yang lupa nilai-nilai yang terkandung dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Untuk memecahkan maslah yang sudah menjadi penyakit kronis ini, sebaiknya dilakukan langkah-langkah konkret yang mampu menjadi panduan bagi keberlangsungan bangsa Indonesia dan semboyan tersebut. Salah satu cara untuk mengembalikan nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika adalah dengan cara menerapkan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

Dulu, Bhineka Tunggal Ika menjadi semboyan pemersatu rakyat Indonesia. Namun sekarang ini, nilai-nilai semboyan tersebut semakin menghilang dalam kehidupan berbangsa maupun bernegara. Bahkan, para petinggi-petinggi Negara Indonesia ini cenderung atau tidak lagi mengenal semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Hal ini sangat memalukan karena Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, pernah menyinggung soal semboyan Bhineka Tunggal Ika dalam kuliah umumnya di Universitas Indonesia saat berkunjung ke Indonesia. Tentunya, kita sebagai penduduk Indonesia harusnya kembali menerapkan semboyan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berguna agar generasi penerus dapat menjalankan roda pemerintahan dengan mengacu pada semboyan tersebut, yaitu "Walaupun berbeda-beda, tapi tetap satu tujuan."

Nah, itulah penjelasan mengenai Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merupakan semboyan pemersatu bangsa Indoensia yang terdiri dari beragam suku, etnis, dan budaya yang ada di Indonesia.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Misteri Atlantis yang Hilang
  • Nasionalisme, Globalisasi, dan Evolusi
  • Cara Mudah Menulis Makalah Sejarah
  • Jatuh Bangun Kerajaan Majapahit Sejarah
  • Misteri Kapal Nabi Nuh
  • Prasasti Batutulis: Peninggalan Kerajaan Pajajaran
  • Pengertian Ilmu Komunikasi: Mudah atau Susah?
  • NU: Sejarah dan Kiprah Politik Nahdlatul Ulama
  • Di mana Peradaban Tertua di Dunia?
  • Sejarah Kerajaan Majapahit
  • Mengetahui Sejarah Peristiwa Bandung Lautan Api
  • Menebar Asa Kebangkitan (Kembali) Kerajaan Sriwijaya
  • Kerajaan Banten - Pusat Bisnis Internasional yang Tinggal Kenangan
  • Kerajaan Tarumanegara - Ceritanya dari Prasasti - ANNEAHIRA.COM
  • Pasang Surut Kutai Kartanegara
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA