logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Pengetahuan Umum    Flora dan Fauna

Binatang Buas Bukan Hewan Peliharaan


Ilustrasi binatang buas

Seringkah Anda melihat binatang buas dijadikan hewan peliharaan rumah? Sungguh sangat mengenaskan, misalnya burung rajawali yang terlihat gagah terbang di angkasa mengintai dan melesat menujam ke bumi untuk menerkam mangsanya. Namun ternyata burung rajawali menjadi tak berdaya ketika dijadikan hewan peliharaan. Hilanglah kesan binatang buas yang melekat pada sosok rajawali tersebut.

Tak hanya rajawali yang sering dijadikan sebagai hewan peliharaan. Datanglah ke pasar hewan atau pasar burung di kota Anda. Di sana banyak sekali pedagang yang menjajakan secara terang-terangan aneka binatang buas asli Indonesia seperti kucing hutan, biawak, dan lain sebagainya.

Sungguh mengkwatirkan melihat fenomena perdagangan liar binatang buas di Indonesia. Mereka tak sadar bahwa menangkap, memelihara, dan membeli binatang buas adalah perbuatan ilegal yang melanggar undang-undang kelestarian alam.

Pihak yang berhak memlihara binatang buas adalah institusi resmi yang diberi izin oleh pemerintah, misalnya kebun bintang, balai penelitian dan konversi alam. Tujuannya untuk melindungi dan mengembangbiakkan binatang buas yang masuk dalam kategori langka.

Binatang Buas Dipelihara Akan Mempercepat Kepunahan

Memiliki peliharaan binatang buas di rumah bisa membuat gengsi di kalangan masyarakat Indonesia. Kebiasaan memelihara hewan buas sudah berlangsung sejak lama, terutama di kalangan pejabat dan orang yang berduit banyak.

Rumah mewah dan harta benda banyak rasanya tak cukup kaya dan mentereng kalau rumahnya tak ada hewan peliharaannya. Maka hewan buas pun dibeli dari pemburu liar, misalnya kucing hutan atau macan untuk dikandangkan di halaman rumah. Binatang buas dijadikan binatang kesayangan. Semakin langka dan mahal hewan yang dipelihara, gengsinya kian naik.

Perilaku semacam itu secara langsung mempercepat kepunahaan binatang bebas di alam bebas. Manusia merebut hak hidup binatang liar dari alam dan disimpan dalam kandang sehingga tak bisa bereproduksi dan harapan hidupnya pun menjadi pendek lantaran pasokan makanan sangat tergantung dengan pemberian pemiliknya.

Memlihara binatang buas di rumah kalau hanya tujuannya untuk kesenangan belaka sepatutnya harus disudahi. Biarkan binatang buas hidup bebas di alam dan bereproduksi agar populasinya terus bertambah.

Faktor Penyebab Binatang Buas Punah

Kerap kita mendengar berita terjadi penyerangan binatang buas terhadap manusia, misalnya petani di Sumatera tewas diterkam harimau. Ada lagi kawanan gajah merusak ladang pertanian di Lampung sehingga petani gagal panen.

Sebenarnya yang salah bukannya binatang buas. Binatang buas tersebut hanya mengikuti nalurinya untuk mencari makan dan mempertahankan wilayah teritorialnya. Dalam kasus ini, yang salah adalah manusia karena merambah hutan untuk dijadikan lahan pertanian, padahal hutan merupakan habitat asli binatang buas seperti harimau sumatera dan beruang madu. Hutan adalah tempat mencari makan, di mana makanan utamanya adalah mamalia kecil seperti kancil, tupai, monyet, dan lain sebagainya.

Ketika manusia mulai membabat hutan, berarti di sana terjadi ketidakseimbangan alam. Rantai makanan binatang buas yang merupakan hewan karnivora menjadi terganggu. Terjadilah perebutan wilayah antara binatang buas dan manusia. Akhirnya binatang buas seperti macan dan beruang masuk ke area perkampungan rakyat dan akhirnya membuat heboh. Korban di kedua belah pihak pun tak terelakkan.

Terjadinya perburuan ilegal secara masiv menambah runyam masalah kelestarian hayati Indonesia. Perburuan liar dipicu dari faktor ekonomi, di mana penduduk di pinggir hutan terbelit kemiskinan. Untuk mencari uang, dia mau saja disuruh oleh cukong penadah binatang buas untuk memburu binatang buas seperti harimau. Harga kulit harimau di pasar gelap sangat mahal. Demikian juga organ harimau banyak dicari untuk pengobatan di negari Cina.

Tergoda imbalan yang besar dari cukong pengepul organ bintang buas, membuat pemburu termotivasi menangkap harimau sumatera dan badak sumatera. Masih banyak lagi binatang buas yang dijadikan target buruan oleh pemburu liar. Sungguh mengenaskan melihat binatang buas dibantai hanya untuk uang semata tanpa menyadari bahwa tindakanya melawan hukum.

Bintang Buas yang Dilarang Dipelihara

Berikut ini merupakan macam-macam binatang buas yang dilarang keras dipelihara tanpa ada tujuan yang jelas. Binatang buas dilindungi oleh negara karena masuk dalam kategori hewan langka dan terancam punah.

Binatang Buas - Harimau Sumatera

Binatang buas yang paling berisiko punah adalah harimau sumatera yang habitat aslinya di Pulau Sumatera. Harimau sumatera dengan nama latinnya Panthera tigris sumatrae, merupakan anggota family harimau jawa dan harimau bali yang sudah lama musnah dari bumi Indonesia. Diperkirakan sisa harimau sumatera yang berada di hutan Sumatera tinggal 400-500 ekor. Jumlahnya diyakini makin menyusut karena habitatnya terdesak oleh perambahan hutan yang dilakukan oleh manusia.

Ciri-ciri fisik raja rimba asli Sumatera ini panjang tubuhnya mencapai 1, 7 meter dan tinggi 1 meter. Motif loreng pada badan cenderung tipis dan jarang-jarang. Harimau Sumatera betina hanya beranak setahun sekali dengan jumlah maksimal tiga sampai empat ekor saja.

Raja rimba Sumatera ini memangsa rusa, babi hutan, dan hewan lainnya yang berada hutan. Radius jelajah dari sarang mencapai 90 kilometer. Karena perburuan liar, populasi binatang buas ini mulai menyusut.

Binatang Buas - Beruang Madu

Beruang madu merupakan salah satu hewan asli Kalimantan yang terancam punah. Dahulu beruang madu dijadikan hewan peliharaan oleh masyarakat setempat. Beruang madu memiliki nama latin Ursidae. Habitat aslinya ada di rimba Kalimantan. Binatang buas ini merupakan hewan soliter, maksudnya dia ke mana-mana lebih suka sendirian, termasuk mencari makan dan berkelana.

Ciri khas binatang buas yang dijadikan sebagai ikon Kota Balikpapan ini antara lain, fisik beruang madu tak begitu besar, tingginya hanya 70 cm, panjangnya 1,2 meter, dan sekujur tubuhnya diselimuti bulu warna hitam.  Beruang madu memiliki empat cakar yang berfungsi mengais makanannya dan alat perlindungan diri.

Pola makan beruang madu adalah omnivor. Binatang buas ini memakan apa saja baik hewan kecil, ikan, tumbuhan, buah-buahan, dan madu. Aktivitas beruang lebih banyak pada malam hari karena binatang buas ini dikategorikan sebagai hewan nocturnal.

Binatang Buas - Elang Jawa

Elang jawa/Spizaetus bartelsi merupakan salah satu binatang buas yang terancam punah. Elang jawa atau elang jambul merupakan ikon Indonesia. Pencipta burung Garuda diilhami oleh sosok elang jawa yang besar dan gagah. Elang jawa bisa ditemukan di lereng Gunung Slamet dan Gunung Muria Jawa tengah, Hutan Pangrango Jawa Barat. Makanan binatang buas dari langit ini adalah burung kecil, monyet, anak ayam dan tupai.

Namun ironisnya elang jawa yang digadang-gadang jadi simbol negara  ini ternyata nyaris musnah dari habitat aslinya. Perburuan liar dan rusaknya hutan menjadi sebab utama bintang buas dari langit menjadi langka.   Populasi di alam liar diperkirakan tak lebih dari 600 ekor saja. Tingkat reproduksi elang betina sangatlah rendah. Dalam masa perkawinan, elang jawa hanya menetaskan dua ekor anak elang.

Binatang Buas - Macan Kumbang

Dahulu macan kumbang dipelihara oleh masyarakat, terutama di kalangan kerajaan dan pejabat Belanda. Macan kumbang atau macan pohon merupakan salah satu bintang buas asli Pulau Jawa yang eksistensinya mendekati kepunahan. Kucing besar yang bernama latinnya Panthera pardus melas, sebaran habitatnya antara lain di lereng Gunung Merapi (Sleman Yogyakarta), hutan di kaki gunung Slamet dan Gunung Lawu (Magetan).

Sekarang sulit melihat macan kumbang berkeliaran di habitat aslinya karena faktor kelangkaan sumber makanan utama macan kumbang, yakni mamalia kecil dan burung mulai berkurang.

Ternyata masih banyak lagi binatang buas yang terancam punah karena berbagai sebab. Lakukan tindakan preventif agar kelestarian alam tetap terjaga. Sebaiknya jangan pernah memelihara bintang buas. Jangan pernah membeli benda-benda yang terbuat dari organ binatang buas seperti hiasan gading, obat kuat, dan lain sebagainya. Menyayangi binatang buas tak harus dipelihara. Biarkanlah binatang buas hidup bebas di alam liar.

Mari lindungi binatang buas Indonesia agar tetap lestari!

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Klasifikasi Tumbuhan Jambu Biji dan Cara Membudidayakannya
  • Mengenal Ikan Kerapu Macan
  • Aneka Hewan dan Tumbuhan Langka di Indonesia
  • Manfaat, Olahan, dan Cara Budidaya Buah Mata Kucing
  • Pohon Jati – Pohon Berkualitas Prima dari Burma
  • Mengenal Sphinx, Jenis Kucing Aneh Tanpa Bulu
  • Aneka Tanaman Obat Tradisional
  • Binatang Zaman Purba yang Mempesona
  • Masyarakat Dapat Mencintai Pohon Melalui Poster Hutan
  • Lumut - Tumbuhan Perintis yang Kaya Manfaat
  • Tips Merawat Tanaman Adenium
  • Mengenal Lebih Jauh Tanaman Mangga Gedong Gincu
  • Mengenal Cara Stek Daun
  • Kicau Mania - Hobi yang Menguntungkan
  • Kayu Akasia: Alternatif Pengganti Jati
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA