Biografi Aa Gym: Belajar Sabar dari Sang Adik
Abdullah Gymnastiar adalah nama aslinya. Namun, masyarakat Indonesia lebih akrab dengan sebutan Aa Gym. Sosok ulama yang kemudian terkenal dengan konsep "Manajemen Qalbu" itu cukup menggemparkan dunia dakwah Islam. Betapa tidak, konsep yang sederhana dalam menyampaikan pesan-pesan agama terasa menyentuh dan dekat dengan permasalahan masyarakat.Berikut sepenggal biografi Aa Gym.
Kita memang jarang sekali mendapati Aa Gym mengutip ayat dan hadits. Dia juga mungkin tidak fasih membaca Al-Qur’an. Namun, begitulah. Aa Gym yang selalu apa adanya itulah yang membuat namanya dikenal warga Indonesia. Dia sukses dengan dunia bisnis dan dakwah dengan konsep apa adanya saja. Dia belajar dari jamaah dan lingkungan sekitarnya. Pun, ketika dihujat dan ditinggalkan jamaahnya karena poligami, Aa Gym tetap mengatakan bahwa dirinya adalah manusia biasa.
Dia juga tidak mau jika para jamaah datang mengaji ke Daarut Tauhid, pondok pesantren milik Aa Gym, hanya karena sosok Aa Gym-nya saja, bukan dalam rangka mencari ilmu. Namun, Aa Gym selalu memukau karena memang dia tidak berlebihan dalam berkata dan berbuat. Selalu apa adanya.
Apa yang dipegang teguh Aa Gym dalam bersabar, merupakan bekal yang didapat semasa dia menjalani hari-hari dengan sang adik yang mengajarkannya banyak hal tentang agama dan kesabaran.
Putra Tentara
Aa Gym lahir pada Senin, 29 Januari 1962 di Bandung, dan menjadi anak tertua dari empat bersaudara; Abdurrahman Yuri, Agung Gunmartin, dan Fathimah Genstreed. Ayah Aa Gym bernama Letkol H. Engkus Kuswara, sementara ibunyanya bernama Hj. Yeti Rohayati. Sebagai putra perwira angkatan darat, kondisi keluarga Aa Gym dikenal sangat disiplin, serta cukup religius seperti keluarga pada umumnya. Namun, bicara kedisiplinan dan suasana demokratis keluarga adalah makanan sehari-hari Aa Gym sejak kecil. Inilah yang kemudian menjadikannya hidup prihatin, pantang menyerah, dan setia kawan.
Guru Pertama
Sosok sang adik bernama Agung Gunmartin (almarhum) mempunya andil besar dalam pencarian spiritual Aa Gym. Adiknya yang lumpuh selalu mengajarkan hal-hal yang semakin membuka mata hati Aa Gym. Di saat-saat ajalnya yang kian menjemput, A Agung, begitu adiknya akrab disapa, selalu menampakkan sikap sabarnya yang membuat hari-hari Aa Gym pun seolah ditarik-tarik untuk mengingat Allah.
Konon, Aa Gym selalu menggendongnya saat adiknya kuliah. Adiknya selalu mengatakan, meski dia lumpuh setidaknya keinginan tetap belajar pada dirinya bernilai ibadah. Lalu, saat melihat adiknya yang tak pernah mengeluh, Aa Gym pernah mendapat jawaban yang semakin menguatkan hatinya akan kebesaran Allah. Sang adik menjawab, jika orang-orang mempersiapkan bekal mati dengan berbuat sesuatu, dirinya mengaku hanya punya sabar sebagai bekal. A Agung pun meninggal di pangkuan Aa Gym sebagai guru agamanya yang pertama. Dari sinilah titik balik perjalanan spiritual Aa Gym dimulai.






