Menyimak Biografi Pangeran Antasari
Ilustrasi biografi pangeran antasari
Hampir di seluruh Nusantara, selama peperangan mengusir penjajah, terdapat orang-orang yang berjasa terhadap negara. Mereka itu yang disebut pahlawan nasional karena jasanya mengorbankan jiwa raga demi kehormatan Indonesia mengusir Belanda.
Misalnya, Cut Nyak Dien dan Teuku Umar pahlawan dari serambi Mekkah, Aceh. Tuanku Sisimanganraja memimpin masyarakat Batak untuk berperang melawan Belanda di tanah Sumatera Utara. Berikut ini sekilas biografi Pangeran Antasari, panglima perang dari Kalimantan Selatan.
Riwayat Singkat Antasari
Di Tanah Kalimantan, kita mengenal pahlawan besar Pangeran Antasari yang berasal dari Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan. Beliau lahir pada 1809, di Desa Kayu Tangi, Kabupaten Banjar.
Pangeran Antasari merupakan keturunan darah biru. Ayahnya Pangeran Maso’ud dan ibu kandung yang bernama Gusti Hadijah. Keluarga Pangeran Antasari merupakan pemimpin Kerajaan Banjar. Bahkan, karena kebesaran dan kegigihannya melawan Belanda, beliau diyakini memimpin masyarakat Ngaju, Murung, Bakumpai, sampai di Kutai.
Silsilah Pangeran Antasari
Berdasarkan biografi Pangeran Antasari, semasa mudanya nama beliau adalah Gusti Inu Kartapati. Ayah Pangeran Antasari adalah Pangeran Masohut (Mas'ud) bin Pangeran Amir bin Sultan Muhammad Aminullah. Ibunya Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman.
Pangeran Antasari mempunyai adik perempuan yang bernama Ratu Antasari atau Ratu Sultan yang menikah dengan Sultan Muda Abdurrahman tetapi meninggal lebih dulu sebelum memberi keturunan.
Pangeran Antasari tidak hanya dianggap sebagai pemimpin Suku Banjar, beliau juga merupakan pemimpin Suku Ngaju, Maanyan, Siang, Sihong, Kutai, Pasir, Murung, Bakumpai dan beberapa suku lainya yang berdiam di kawasan dan pedalaman atau sepanjang Sungai Barito.
Setelah Sultan Hidayatullah ditipu belanda dengan terlebih dahulu menyandera Ratu Siti (Ibunda Pangeran Hidayatullah) dan kemudian diasingkan ke Cianjur, maka perjuangan rakyat Banjar dilanjutkan pula oleh Pangeran Antasari.
Sebagai salah satu pemimpin rakyat yang penuh dedikasi maupun sebagai sepupu dari pewaris kesultanan Banjar. Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi di Banjar bagian utara (Muara Teweh dan sekitarnya), maka pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah, dimulai dengan seruan “Hidup untuk Allah dan mati untuk Allah”.
Seluruh rakyat, pejuang-pejuang, para alim ulama dan bangsawan-bangsawan Banjar; dengan suara bulat mengangkat Pangeran Antasari menjadi "Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin", yaitu pemimpin pemerintahan, panglima perang dan pemuka agama tertinggi.
Tidak ada alasan lagi bagi Pangeran Antasari untuk berhenti berjuang, ia harus menerima kedudukan yang dipercayakan oleh Pangeran Hidayatullah kepadanya dan bertekad melaksanakan tugasnya dengan rasa tanggung jawab sepenuhnya kepada Allah dan rakyat.
Sang Panglima Perang dari Kerajaan Banjar
Masa pemerintahan Pangeran Antasari dimulai sejak 1862, menggantikan ayahnya yang ditangkap Belanda dan dibuang di Tanah Sunda. Pangeran Antasari dinobatkan sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin.
Setelah ditasbihkan menjadi pemimpin Kerajaan Banjar, seorang panglima perang dan ulama Islam yang disegani, Pangeran Antasari bersama balatentara dan pengikutnya melakukan perlawanan terhadap Belanda. Beliau pantang sekali berkompromi dengan penjajah, mengingat ayahnya yang kena umpan tipu muslihat Belanda.
Beberapa kali, jenderal Belanda membujuk Pangeran Antasari untuk berunding, tetapi langsung ditampiknya. Berkali-kali juga, Belanda mengadakan penyerbuan di tempat yang diduga markas tentara Pangeran Antasari, tetapi tak berhasil.
Pangeran Antasari bersama para pengikutnya selalu lolos dalam penyergapan Belanda. Alam Kalimantan yang dipenuhi hutan lebat serta sungai yang luas dan dalam memberikan keuntungan bagi tentara rakyat Banjar untuk bergerilya.
Perjuangan Pangeran Antasari
Belanda melaksanakan perang kolonialnya, antara lain dengan maksud melakukan annexasi wilayah Kalimantan Selatan. Sebagaimana tertulis dalam sejarah nasional, Banjarmasin merupakan pusat kesultanan yang cukup maju. Tapi pada permulaan abad ke 19, relatif mereka sudah dikuasai pihak Belanda.
Ketika Sultan Adam (1825-1857) meninggal dunia, Belanda mengangkat cucunya yaitu Pangeran Tamjidillah menjadi Sultan. Putra Sultan Adam yaitu Pangeran Abdulrachman, ayah Tamjidillah, telah meninggal lebih dahulu pada tahun 1852.
Pengangkatan ini rupanya menimbulkan masalah, karena Ibu Tamjidillah adalah orang Cina yang merupakan hal amat memberatkan masyarakat muslim untuk dapat menerimanya. Apakah ini berkaitan soal sara barangkali, tentunya perlu dilakukan penelitian kearah itu. Tapi rupanya keberatan lain pada pengangkatan Tamjidillah, adalah kesenangannya pada minuman keras dan bermabuk-mabukan.
Rupanya kalangan umum lebih menyukai putra Abdulrachman yang lain yaitu Pangeran Hidayatullah. Dia selain putra dari Ibu bangsawan, juga berperangai baik. Tetapi Tamjidillah sudah didukung dan ditetapkan Belanda sebagai suksesor.
Keruwetan politik dalam negeri Kesultanan banjar ini ahirnya menimbulkan meletusnya Perang banjar selama 4 tahun (1859 – 1863). Pada periode konflik fisik itulah, yaitu pada tahun 1859, muncul seorang pangeran setengah baya yang telah disingkirkan haknya, memimpin perlawanan terhadap Belanda. Dialah Pangeran Antasari yang lahir tahun 1809.
Pangeran berwajah ganteng ini, telah bekerja sama dengan para petani. Dua tokoh pimpinan kaum petani saat itu Panembahan Aling dan Sultan Kuning, telah membantu Antasari untuk melancarkan serangan besar-besaran.
Mereka menyerang pertambangan batubara Belanda dan pos-pos misionaris serta membunuh sejumlah orang Eropah. Sehingga pihak Kolonial mendatangkan bantuan besar-besaran.
Antasari kemudian bergabung dengan kepala-kepala daerah Hulu Sungai, Marthapura, Barito, Pleihari, kahayan, Kapuas, dan lain-lain. Mereka bersepakat mengusir Belanda dari Kesultanan Banjar. Maka perang makin menghebat, dibawah pimpinan Pangeran Antasari. Pernah pihak Belanda mengajak berunding, tetapi Pangeran Antasari tidak pernah mau.
Daerah pertempurannya meliputi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Pada tahun 1862 Pangeran Antasari merencanakan suatu serangan besar-besaran terhadap Belanda, tetapi secara mendadak, wabah cacar melanda daerah Kalimanatan Selatan, Pangeran Antasari terserang juga
Pangeran Antasari Anti Kompromi dengan Penjajah
Lanting Kotamara semacam panser terapung di sungai Barito dalam pertempuran dengan Kapal Celebes dekat pulau Kanamit, Barito Utara Perang Banjar pecah saat Pangeran Antasari dengan 300 prajuritnya menyerang tambang batu bara milik Belanda di Pengaron tanggal 25 April 1859.
Selanjutnya peperangan demi peperangan dipkomandoi Pangeran antasari di seluruh wilayah Kerajaan Banjar. Dengan dibantu para panglima dan pengikutnya yang setia, Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang sungai Barito sampai ke Puruk Cahu.
Pertempuran yang berkecamuk makin sengit antara pasukan Khalifatul Mukminin dengan pasukan Belanda, berlangsung terus di berbagai medan. Pasukan Belanda yang ditopang oleh bala bantuan dari Batavia dan persenjataan modern, akhirnya berhasil mendesak terus pasukan Khalifah. Dan akhirnya Khalifah memindahkan pusat benteng pertahanannya di Muara Teweh.
Dalam peperangan, belanda pernah menawarkan hadiah kepada siapa pun yang mampu menangkap dan membunuh Pangeran Antasari dengan imbalan 10.000 gulden. Namun sampai perang selesai tidak seorangpun mau menerima tawaran ini.
Setelah berjuang di tengah-tengah rakyat, Pangeran Antasari kemudian wafat di tengah-tengah pasukannya tanpa pernah menyerah, tertangkap, apalagi tertipu oleh bujuk rayu Belanda pada tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang, dalam usia lebih kurang 75 tahun.
Begitu sulitnya menangkap Pangeran Antasari dan pasukannya sampai-sampai Jenderal Belanda pernah mengeluarkan sayembara kepada khalayak umum. Barang siapa bisa menangkap Pangeran Antasari dan pengikutnya, akan diberi hadiah sebesar sepuluh ribu gulden. Sayangnya, sayembara dengan hadiah menggiurkan itu tidak mengundang seorang pun yang berniat mengikutinya.
Karena terkenal dengan keteguhannya pantang menyerah dan kompromi dengan Belanda, hingga akhir hayatnya, pemimpin Kerajaan Banjar ini belum pernah sekalipun kalah berperang dengan Belanda.
Pangeran Antasari wafat di usia 75. Beliau meninggal karena penyakit kronis pada paru-parunya yang diidap selama berperang di Tanah Kampung Bayan. Selain itu, beliau terkena cacar dan tak pernah mendapatkan pengobatan medis.
Awalnya, beliau dimakamkan di tepi Sungai Barito. Setelah Indonesia merdeka, atas keputusan pemerintah daerah dan persetujuan kerabat Kerajaan Banjar, jenazah beliau dipindahkan ke makam yang sudah disediakan di Kabupaten Banjar.
Peninggalan-peninggalan semasa Perang Banjar di bawah kepimpinan Sultan Agung bisa Anda saksikan di Museum Lambung Mangkurat, Kabupaten Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Jaraknya 60km dari Banjarmasin, ibu kota Kalimantan Selatan.
Jika dalam biografi Pangeran Antasari, beiau selalu menekankan bahwa "Haram Menyerah" kepada musuh, maka semestinya ini bisa kita jadikan pencerahan untuk diri kita. Bisa saja kita menyemangati diri kita dengan semangat "Haram Menyerah" kepada kemiskinan, ketidak adilan atau apa saja yang hendak kita capai.
Terkadang dengan kata semangat dan keingin dari diri sendiri, bukan mustahil ini bisa menjadi penambah kekuatan untuk diri kita dalam menggapai apa yang kita inginkan-dalam arti tujuan yang mulia tentunya.

