Biografi Sastrawan: Emha Ainun Nadjib
Ilustrasi biografi sastrawan
Sastrawan di Indonesia begitu banyak jumlahnya. Dari yang sudah mendunia maupun masih pemula. Biografi sastrawan juga sudah banyak. Mulai dari yang berbentuk otobiografi atau malah semi fiksi. Sastrawan yang akan kita bedah kali ini adalah seorang tokoh lintas disiplin, Emha Ainun Nadjib.
Emha Ainun Nadjib lahir Jombang pada 27 Mei 1953. Dia pernah mencicipi gemblengan ala pesantren di Gontor, Ponorogo, tapi hanya bertahan selama tiga tahun karena ia mendemo pemimpin pesantren. Alasannya, dia tidak setuju dengan sistem yang ada di pesantren itu. Setelah itu, dia juga sempat mampir ke Fakultas Ekonomi UGM. Namun hanya betah selama satu semester.
Dia lalu berguru kepada “Ustad” Umbu Landu Paranggi di jalanan Malioboro, Yogjakarta. Umbu adalah budayawan setengah sufi yang menjadi inspirasi Emha. Dalam “perguruan” ini, Emha mulai belajar menulis sastra dan bersyair. Sebenarnya, ia sudah mulai menulis sejak di pesantren, namun di Malioboro inilah dia mendapat pembimbing.
Umbu menilai bahwa Emha lebih menonjol dalam menulis esai. Namun, dia juga sering menulis puisi dan bersyair. Dia juga aktif dalam kegiatan sosial dan teater. Luasnya pengalaman Emha, dari dunia pesantren sampai dunia jalanan di Malioboro, membuat karyanya sarat makna. Ia terkadang menggabungkan beberapa hal sekaligus, misalnya pengajian dengan pembacaan puisi, atau teater dengan bumbu pagelaran musik.
Biografi Sastrawan - Karya-Karya dan Aktivitas Emha
Kegiatan Emha sudah banyak sejak muda. Selain aktif menulis, dia juga pernah menjadi wartawan di harian Masa Kini. Dia juga pernah terlibat dalam Teater Dinasti dan grup musik Kyai Kanjeng. Dia juga pernah melanglangbuana ke luar negeri, seperti Jerman, Belanda, Amerika, dan Fillipina untuk mementaskan teater dan baca puisi.
Kini, Emha lebih banyak aktif di kegiatan sosial. Dia banyak mengadakan kegiatan yang memadukan hiburan, agama, seni, bahkan ekonomi. Salah satu kegiatannya adalah berkeliling ke kota-kota bersama grup Kyai Kanjeng.
Mereka mementaskan musik pembacaan puisi sambil menyelipkan dakwah agama Islam. Kegiatan ini sering berisi pengajian, konser musik, ceramah, dan pertunjukan budaya lainnya. Kota-kota yang sering disinggahi adalah Yogyakarta, Jombang, Semarang, Surabaya, dan Sidoarjo. Dia juga aktif mendampingi korban lumpur Sidoarjo yang belum jelas nasibnya sampai sekarang.
Emha juga aktif dalam kegiatan teater. Pertunjukan drama yang dipentaskan contohnya Geger Wong Ngoyak Macan (1989) yang dianggap berisi tentang pemerintahan Soeharto atau Patung Kekasih (1989) yang berisi tentang pengkultusan. Dia juga sering menyajikan cara yang unik dalam memertunjukkan lakon drama. Misalnya pementasan Santri-Santri Khidir (1990) bersama Teater Salahudin, yang pemainnya diperankan oleh ribuan Santri Gontor.
Sebagai sastrawan, Emha telah menelurkan banyak buku. Mulai dari kumpulan puisi, kumpulan esai, atau novel. Buku yang berisi kumpulan sajaknya antara lain :
- "M” Frustasi (1976),
- Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978),
- Sajak-Sajak Cinta (1978),
- Nyanyian Gelandangan (1982),
- 99 Untuk Tuhanku (1983),
- Suluk Pesisiran (1989),
- Lautan Jilbab (1989),
- Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990),
- Cahaya Maha Cahaya (1991),
- Sesobek Buku Harian Indonesia (1993),
- Abacadabra (1994), dan
- Syair Asmaul Husna (1994).
Sedangkan kumpulan esainya adalah :
- Dari Pojok Sejarah (1985),
- Sastra Yang Membebaskan (1985)
- Secangkir Kopi Jon Pakir (1990),
- Markesot Bertutur (1993),
- Markesot Bertutur Lagi (1994),
- Opini Plesetan (1996),
- Gerakan Punakawan atawa Arus Bawah (novel, 1994),
- Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996),
- Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994),
- Slilit Sang Kiai (1991),
- Sudrun Gugat (1994),
- Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995),
- Bola- Bola Kultural (1996),
- Budaya Tanding (1995),
- Titik Nadir Demokrasi (1995),
- Tuhanpun Berpuasa (1996),
- Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997),
- Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997),
- Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997),
- 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998),
- Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998),
- Kiai Kocar Kacir (1998),
- Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998),
- Keranjang Sampah (1998)
- Ikrar Husnul Khatimah (1999),
- Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000),
- Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000),
- Menelusuri Titik Keimanan (2001),
- Hikmah Puasa 1 & 2 (2001),
- Trilogi Kumpulan Puisi (2001),
- Segitiga Cinta (2001),
- Kitab Ketentraman (2001),
- Tahajjud Cinta (2003),
- Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun (2003),
- Folklore Madura (Agustus 2005),
- Puasa Itu Puasa (Agustus 2005),
- Syair-Syair Asmaul Husna (Agustus 2005),
- Kafir Liberal (2006),
- Kerajaan Indonesia (Agustus 2006),
- Istriku Seribu (Desember 2006),
- Orang Maiyah (Januari 2007),
- Tidak. Jibril Tidak Pensiun (Juli 2007),
- Kagum Pada Orang Indonesia (Januari 2008),
- Dari Pojok Sejarah; Renungan Perjalanan Emha Ainun Nadjib (Mei 2008), dan
- DEMOKRASI La Raiba Fih (Mei 2010).
Saat ini Emha tinggal di Jogja bersama istrinya, penyanyi Novia Kolopaking. Tahun 2011, dia menerima penghargaan Satyalancana Kebudayaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hal ini karena Emha memiliki sumbangan yang besar di bidang seni, sastra, dan banyak kegiatannya yang berguna bagi masyarakat.
Biografi Sastrawan - Pemikiran Emha
Pemikiran Emha terhitung unik. Dia adalah seorang sastrawan, budayawan, pekerja sosial, pengamat politik, musisi, dan juga pendakwah. Dia enggan disebut sebagai ustadz atau kyai haji, karena menurutnya memang dia tidak layak dilabeli seperti itu.
Dia pernah mengritik gampangnya seseorang mendapat gelar ustadz, padahal belum mencapai tingkatan ulama. Hal ini dianggapnya sebagai penurunan, karena sebutan ustadz atau ulama itu seharusnya disematkan bagi yang benar-benar layak.
Dia sepakat mengenai pluralisme. Menurutnya, nusantara itu aslinya sudah plural sejak dulu. Namun karena terjajah, terjadi pendikotomian suku dan agama. Hal ini masih berlanjut sampai sekarang.
Menurutnya, pluralisme bukanlah menyamakan atau mencampuradukan paham, namun saling menghargai antara satu dan lainnya. Juga, ada batasan jelas antara satu paham dengan lainnya. Namun, hal itu tidak akan menimbulkan perselisihan karena tingginya kedewasaan dan rasa tenggang rasa antara satu dan lainnya.
Walaupun berhaluan Islam, namun Emha toleran terhadap budaya lain, baik lokal maupun internasional. Menurutnya, budaya merupakan media, baik itu musik atau sajak. Jika digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka hal itu tidak bertentangan dengan Islam. Hal ini dianggapnya sebagai penggambaran bahwa Islam merupakan agama yang dapat merangkul semua paham.
Dia banyak membahas masalah sosial dalam banyak esainya. Menurutnya, agama tidak hanya dihabiskan dengan ibadah kepada Tuhan. Agama juga harus dipakai untuk berbuat baik kepada sesama. Negara yang agamanya baik seharusnya memiliki masyarakat yang sejahtera secara ekonomi dan beradab.
Dalam melakukan dakwah, Emha banyak menggunakan metode budaya tadi. Dia mendeklamasikan puisinya dengan iringan musik tradisional. Atau menyanyikan shalawat dengan iringan lagu gospel. Pernah juga melakukan lagu “Assalamualaikum” dengan bahasa Ibrani dan iringan gamelan Jawa.
Hal ini karena dia percaya akan universalitas. Karya seni dan sastra tidak semestinya menjadi tertuduh atau diharamkan. Karya sastra dan seni hanya merupakan instrumen, tergantung bagaimana manusia menggunakannya.
Karya puisinya juga banyak menyelami masalah sosial. Selain itu dia juga banyak menyinggung masalah tasawuf dalam puisi maupun esai.
Dalam menulis esai, dia tidak menggunakan bahawa baku atau bahasa intelektual. Dia bahkan sering menggunakan tokoh dari rakyat jelata dan sedikit aneh, seperti Kyai Sudrun dan Markesot. Dia sempat dituduh dekat dengan Orde Baru. Hal ini karena dia sering memandang sosok seperti Suharto dari sudut pandang yang tidak umum. Padahal di sisi lain, dia salah seorang yang ikut terlibat dalam era reformasi.
Emha tidak setuju pada konsep demokrasi ala barat. Dia melihat demokrasi ala barat memiliki kediktatorannya sendiri. Demokrasi boleh mengritik siapa saja, kecuali demokrasi itu sendiri. Dalam menganalisis, dia memilih memandang suatu tertentu hal secara menyeluruh, daripada hanya sebagian saja.
Dari biografi sastrawan ini, kita dapat melihat bahwa Emha sedikit beda dengan tokoh lainnya. Hal ini karena Emha tidak bisa dimasukkan dalam lingkup sastrawan saja, mengingat banyaknya disiplin kegiatan yang dilakukannya.

