Biografi Sayuti Melik, Penulis Naskah Proklamasi
Setiap bulan Agustus terutama menjelang hari keramat bagi seluruh rakyat Indonesia, yaitu 17 Agustus, di radio dan televisi sering berkumandang Presiden pertama Indonesia, Soekarno, sedang membacakan teks proklamasi. Suara jelas, tegas dan berwibawa. Tapi, apakah kita ingat siapa sebenarnya orang yang berjasa mengetik naskah teks proklamasi tersebut? Jangan-jangan anak muda sekarang sudah tidak mengetahuinya lagi.
Sayuti Melik. Dialah sosok yang mengetik teks proklamasi sebelum dibacakan Soekarno. Biografi Sayuti Melik -suami dari S.K Trimurti ini memang tak begitu banyak dipublikasikan. Sayuti Melik kemudian bercerai dengan S.K Trimurti, lalu menikah dengan perempuan lain.
Tentang siapa sosok Sayuti Melik memang tak banyak informasi yang bisa diperoleh. Dalam buku sejarah pun hanya sebatas menjelaskan bahwa Sayuti Melik adalah orang yang mengetik teks proklamasi. Ada pula sedikit informasi tambahan bahwa Sayuti Melik cukup lama menjadi sekretaris pribadi Soekarno.
Sayuti Melik adalah seorang wartawan dan pejuang nasional. Sebagai pejuang dan sekaligus wartawan, Sayuti Melik terlibat langsung dalam persiapan proklamasi tersebut. Dia termasuk satu dari “kelompok lima” yakni Soekarno, Mohammad Hatta, Sukarni dan Achamad Subarjo.
Keterlibatan Sayuti Melik terutama dalam merumuskan point-point penting yang kelak akan menjadi teks proklamasi. Kejadian itu berlangsung dini hari di rumah Maeda, seorang perwira tinggi Jepang berpangkat Laksmana Madya.
Sayuti Melik lahir di Dusun Kadilogo, Kelurahan Purwobinangun, Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ayahnya bernama Dul Maini seorang kepala kerohanian di kelurahan Sembung kala itu. Dalam perumusan naskah proklamasi tersebut –menurut beberapa rujukan– pernah terjadi perbincangan sengit tentang siapa yang menanda tangani naskah proklamasi tersebut.
Saat itu, redaksi naskahnya sendiri telah mendapat persetujuan bulat terutama pada langkah penentuan nasib bangsa Indonesia selanjutnya itu. Lalu setelah jeda, Sukarni maju ke muka dan menyatakan bahwa yang menandatangani naskah proklmasi tersebut tidak perlu semua dari kelompok lima, melainkan cukup oleh Soekarno dan Mohammad Hatta saja atasnama bangsa Indonesia.
Hadirin menyambut usulan itu dengan tepuk tangan. Tapi sesungguhnya yang mempunyai gagasan untuk mengusulkan hal tersebut tidak lain adalah Sayuti Melik dan diucapkan oleh Sukarno di podium. Kendati Mohammad Hatta yang awalnya mengusulkan agar naskah tersebut ditandatangani “Kelompok Lima” kecewa dengan diterimanya usul dari Sukarni tersebut, tapi sejarah kemudian mencatat bahwa yang menanda tangan naskah proklamasi pada akhirnya Soekarno dan beliau sendiri.






