Biografi Seniman Indonesia: S. Sudjojono
Ilustrasi biografi seniman indonesia
S. Sudjojono, dalam biografi seniman Indonesia tercatat sebagai seorang pelukis dan juga kritikus seni yang lahir di Kisaran, Sumatera pada tanggal 14 Desember 1917. Beliau mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) di Jakarta, tahun 1937 yang menjadi awal mula sejarah seni rupa modern Indonesia.
Nama lengkapnya adalah Sindudarsono Sudjojono, akrab dipanggil Sudjojono atau Pak Djon. Pendidikan melukisnya dimulai sejak ia belajar melukis pada R.M. Pirngadie dan pelukis Jepang, Chioji Yasaki, di Jakarta. Dalam perjalanan hidupnya, ia dikenal bukan hanya sebagai seorang pelukis yang sangat menguasai teknik melukis, tetapi juga kritikus dan pemikir seni rupa.
Biografi Seniman Indonesia - Kisah Hidup S. Sudjojono
Sudjojono hidup sejak tahun 1913 sampai 1985. Ia adalah legenda di bidang seni lukis Indonesia. Ia juga dianggap sebagai Bapak Seni Lukis Modern Indonesia. Keluarganya adalah transmigran dari Pulau Jawa. Ayahnya bernama Sindudarmo, seorang matri kesehatan yang bertugas di perkebunan karet Kisaran, Sumatra Utara. Sindudarmo kemudian menikah dengan seorang buruh kebun.
Sudjojono diangkat anak oleh seorang guru HIS yang bernama Yodhokusumo. Ayah angkat inilah yang mengajak Soedojono hijrah ke Jakarta pada tahun 1925. Sudjojono mengenyam pendidikan di HIS Jakarta lalu melanjutkan pendidikannya di sebuah SMP di Bandung. Setelah itu, ia bersekolah di SMA Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta. Di kota pelajar inilah ia berguru kepada R. M. Pirngadie dan menyalurkan kesukaannya kepada melukis. Setelah itu ia kembali ke Jakarta dan belajar kepada Chioji Yazaki, seorang pelukis dari Jepang.
Lulus SMA, ia memasuki sekolah Taman Guru yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara. Setelah lulus dari sana ia mengajar di Taman Siswa, lantas membuka sebuah sekolah baru di Banyuwangi pada tahun 1031. Meskipun dibentuk untuk menjadi guru, ia justru memutuskan untuk menjadikan seni lukis sebagai bidangnya. Artinya, ia mulai serius menekuni karier sebagai pelukis.
Pameran pertama yang diikutinya adalah Kunstkring Jakarya, yang dilaksanakan di Jakarta pada tahun 1937. Dari sana namanya mulai dikenal. Di tahun yang sama, ia mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia, atau Persagi. Saat itu adalah titik awal kebangkitan seni lukis modern yang bercirikan Indonesia. Di Persagi, ia aktif menjadi juru bicara dan pernah menjabat sebagai sekretaris.
Objek yang banyak dilukis oleh Sudjojono adalah suasana, pemandangan alam, dan sosok manusia. Lukisan-lukisannya memiliki ciri khas pada goresan dan sapuan yang kasar. Selain aktif melukis, ia juga menjadi kritikus seni rupa. Di masanya sangat belum ada orang Indonesia yang menjadi kritikus seni rupa, ialah yang pertama. Ia adalah kritikus seni rupa dengan jiwa yang nasionalis.
Basoeki Abdullah sering menjadi bulan-bulanannya karena lukisan-lukisannya tidak nasionalis. Pasalnya, Basoeki Abdullah banyak melukiskan pemandangan alam dan sosok perempuan. Keduanya pun menjadi musuh bebuyutan yang lantas bersatu dalam sebuah pameran di Pasar Seni Ancol, Jakarta. Pameran tersebut diadakan oleh Ciputra, seorang pengusaha yang menyukai seni rupa. Dalam pameran itu, ditampilkan karya-karya S. Sudjojono, Basoeki Abdullah, dan Affandi.
Selain bergelut di bidang seni rupa, ia pun aktif di bidang politik. Ia tergabung dalam Lekra, dan Partai Komunis Indonesia menjadi pilihan naungan karier politiknya. Ia kemudian sempat menjabat wakil partai ini di parlemen. Akan tetapi ia kemudian dipecat pada tahun 1957 dengan dalih pelanggaran etik karena tak bisa setia kepada istri. Ini karena ia berselingkuh dengan Rosaline Poppeck, seorang penyanyi sekaligus sekretaris.
Pada tahun 1959, istri resmi Sudjojono, Mia Bustam mendesak meminta cerai. Akhirnya Sudjojono dan Mia yang telah dikaruniai 8 orang anak pun bercerai. Lantas Rosaline Poppeck pun dinikahinya. Sang istri baru ini mengganti namanya menjadi Rose Pandanwangi.
Biografi Seniman Indonesia - S. Sudjojono sebagai Bapak Seni Lukis Modern
S.Sudjojono dijuluki Bapak Seni Lukis Modern Indonesia. Ia merumuskan pengertian "apa itu seni" dalam sebuah kalimat pendek yang belakangan menjadi kredo yang begitu populer di dunia seni rupa, yaitu, Jiwa Ketok atau Jiwa Tampak. Ia pula yang menciptakan dan mempopulerkan istilah Seni Rupa, Seniman, dan Sanggar.
Sejak tahun 1937 ia sudah mengikuti pameran di Kunstkring Jakarta, dan dikenal sebagai seorang pelukis. Pada tahun yang sama, ia mendirikan perkumpulan pelukis yang pertama Persagi bersama kawan-kawannya. Pada masa awal Persagi, lukisan Sudjojono cenderung bergaya ekspresifisme, seperti hendak melakukan perlawanan tren lukis pada waktu itu yang cenderung naturalis. Beberapa lukisannya di antaranya:
-
Main (1938)
-
Di Depan kelambu Terbuka (1939)
-
Cap Go Meh (1940)
Setelah Indonesia merdeka terjadi perubahan yang cukup radikal, karya Sudjojono kembali ke gaya realisme, dengan banyak menggambar figur-figur manusia dan benda-benda. Sepanjang dekade 1950 -1960-an lukisan-lukisan Sudjojono masih memunculkan citra realis, karyanya antara lain:
-
Kinderen met kat (anak-anak dengan kucing) mendapat penghargaan tahun 1937 ketika dipamerkan bersama pelukis Eropa di Kuntskring Jakarta.
-
Mr Uno and the Golden Princess, lukisan yang berukuran 1,80 x 2,50 meter dibuat pada 1970, yang merupakan pesanan Adam Malik, Menteri Luar Negeri saat itu sebagai hadiah hari jadi ke-25 bagi PBB dari pemerintahan Indonesia.
-
Pasar Ikan, dihadiahkan pemerintah Indonesia tahun 1973 kepada Ratu Elizabeth Inggris ketika berkunjung ke Indonesia. Pada tahun itu juga S. Sudjojono mengadakan pameran keliling, termasuk di Belanda atas undangan dari Lembaga Persahabatan Indonesia-Belanda di Jakarta.
-
Peperangan Sultan Agung melawan Jan Pieterzoon Coen,lukisan berukuran 3 x 10 meter ini kini masih terpampang di dinding Museum Sejarah-Jakarta.
-
Pada tahun 1979 wakil presiden Indonesia Adam Malik, member pesanan untuk membuat lukisan bersejarah, peristiwa sidang Volksrad sekitar tahun 1923. Di mana objek lukisannya terlihat para perwakilan Indonesia-Belanda sedang berdebat.
Biografi Seniman Indonesia: Perjalanan Karier Sudjojono
Keahlian Sudjojono bukan hanya dalam membuat lukisan, ia juga seorang pematung. Selain melukis, menulis, dan mematung, S. Sudjojono memiliki pengalaman kerja, yaitu:
-
Tahun 1933-1931 menjadi guru Taman Siswa di Rogojampi Jawa Timur.
-
Tahun 1938 mendirikan Persagi dan menjabat sebagai sekretaris.
-
Tahun 1942-1944 memimpin bagian seni rupa pada badan "Poesat Tenaga Rakyat (Poetra)".
-
Tahun 1944 mengajar melukis di Keimin Bunka Shidhoso (pusat kebudayaan pada masa Jepang) di Jakarta.
-
Tahun 1946 ikut mendirikan "Seniman Indonesia Muda" (SIM) di Madiun Jawa Timur.
-
Tahun 1947 menjabat ketua SIM di Surakarta Jawa Tengah yang kemudian pada 1948 SIM pindah ke Jogjakarta.
-
Tahun 1956-1957 menjadi Dewan Perwakilan Rakyat Sementara Republik Indonesia (DPRS-RI) di Jakarta.
-
Tahun 1957-1986 mendirikan sanggar kerja "Sanggar Pandan Wangi" di Jakarta.
Itulah informasi seputar S. Sudjojono. Semoga biografi seniman Indonesia yang satu ini dapat menginspirasi seniman-seniman muda untuk menghasilkan karya yang lebih baik dan berkualitas dengan bercermin pada kehidupan pelukis-pelukis maestro di masa lalu. Kini, sebagian besar karya S. Sudjojono dipamerkan di S.Sudjojono Center. Pameran-pameran yang menampilkan karyanya pun kerap kali diadakan, sepeeri pameran "Sang Ahli Gambar dan Kawan-Kawan" yang dilaksanakan tahun 2010 silam.

