logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Profil    Tokoh

Biografi Tokoh Pendidikan: KH. Ahmad Dahlan, Sang Pencerah yang Inspiratif


Ilustrasi biografi tokoh pendidikan

Daftar Isi
  1. Masa kecil KH. Ahmad Dahlan
  2. Masa remaja KH. Ahmad Dahlan
  3. KH. Ahmad Dahlan menepis fitnah

Membaca biografi tokoh pendidikan, seperti K.H. Ahmad Dahlan akan dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi kita. Terutama bagi Anda yang berkecimpung di dalam dunia pendidikan. Mengapa demikian? K.H. Ahmad Dahlan merupakan salah satu tokoh yang berjasa dalam bidang pendidikan.

Melihat kemajuan pendidikan di Indonesia saat ini, mungkin di satu sisi kita akan melihat gemerlapnya fasilitas, kurikulum, dan beberapa prestasi yang layak dibanggakan. Namun, pendidikan karakter ternyata tidak mampu menunjukkan kemajuannya yang berarti.

Menelaah perjuangan KH. Ahmad Dahlan dalam biografi tokoh pendidikan ini, kita akan menyaksikan bagaimana usaha beliau dalam memajukan pendidikan Indonesia. Melalui sebuah ormas Muhammadiyah yang didirikan, KH. Ahmad Dahlan sangatlah concern dengan kemajuan pendidikan bagi pribumi saat itu.

Hal ini senada dengan dakwah Islam yang dikembangkannya secara lugas, mendobrak tradisi yang salah, dan membersihkan bidah dan sirik yang mengotori pelaksanaan syariat Islam.

Masa Kecil KH. Ahmad Dahlan

Muhammad Darwisy adalah nama kecil Kiai Ahmad Dahlan. Lingkungan yang membesarkan dan mendidik Darwisy sangatlah mendukung perkembangan pemikiran dan karakter Darwisy. Orang tua Darwisy adalah Kiai Haji Abu Bakar yang merupakan Imam Besar Masjid Kesultanan Yogyakarta. Sementara ibunya bernama Nyai Abu Bakar merupakan putri penghulu Yogyakarta.

Sejak kecil, Darwisy telah berinteraksi dengan dunia pesantren dan keislaman yang taat. Ia mendapatkan didikan langsung dari sang Ayah, Darwisy telah mumpuni menguasai dasar-dasar pengetahuan syariat. Pada usia 15 tahun, Darwisy menunaikan ibadah haji, sekaligus menetap di Makkah untuk menimba ilmu agama sekaligus memperdalam bahasa Arab.

Apabila seorang bayi bernama Muhammad Darwisy tidak ditakdirkan terlahir di Kampung Kauman, utara alun-alun Yogyakarta, mungkin hingga kini nama Kampung Kauman kurang terdengar gemanya.

Kauman tidaklah memiliki keistimewan apa-apa, hanya saja Kauman terletak di dekat Masjid Besar Yogyakarta yang ramai oleh jamaah.

Pada tahun 1886, lahirlah Muhammad Darwisy yang memiliki garis keturunan ke-12 dengan Sunan Maulana Malik Ibrahim. Menelaah kembali biografi tokoh pendidikan ini akan membuat kita menyelami apa dan bagaimana Kauman telah membentuk karakternya sejak kecil.

Selama lima tahun Darwisy menghabiskan waktu menimba ilmu agama dan berinteraksi dengan ulam-ulama tersohor. Interaksi pemikiran dengan ulama-ulama dunia inilah yang mengantarkan Darwisy muda menjadi sosok yang mumpuni dalam menelaah kajian agama Islam.

Ulama-ulama dunia tersebut, antara lain Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridla, serta Ibnu Taimiyah. Pemikiran tentang pembaharuan dan pemurnian Islam begitu kental dalam perjuangan dan dakwah ulama-ulama besar tersebut, inilah yang nantinya akan mewarnai perjuangan Darwisy di Indonesia.

Masa Remaja K.H. Ahmad Dahlan

Pola pikir yang masih dihinggapi takhayul, khurofat, sirik, dan bidah juga membuat keadaan masyarakat menjadi semakin terpuruk. Ini sangat berkebalikan dengan keadaan pemerintah kolonial yang sejahtera dan dominan di Indonesia.

Pada usia 20 tahun, Darwisy pulang kembali ke tanah air dengan membawa semangat yang membara untuk memajukan Indonesia. Sekembalinya beliau dari Makkah, beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.

Hal ini sesuai dengan kebiasaan masyarakat di saat itu, yang memiliki kebiasaan untuk mengganti nama sekembalinya dari ibadah haji. Ahmad Dahlan kemudian menikah dengan Siti Walidah, seorang putri Kiai Penghulu Haji Fadhil. Kemudian, mereka dikarunia enam orang anak.

Dalam biografi tokoh pendidikan ini, kita akan melihat perjuangan Ahmad Dahlan dalam pendidikan di Indonesia sudah tampak dari keprihatinannya terhadap masyarakat Indonesia yang kurang dapat mengakses pendidikan secara layak.

Selain itu, Ahmad Dahlan adalah sosok yang sangat teliti dan lugas dalam bersikap. Ketelitiannya terlihat dlaam sikap hati-hati karena muraqabatullah yang demikian tajam dalam jiwanya. Sikap ini dipraktikkannya dan tertuang dalam buku catatannya dan tertulis dalam bahasa Arab.

Inti dari catatan tersebut adalah tentang kemawaspadaan yang harus dimiliki setiap manusia terutama dirinya. Ahmad Dahlan mengibaratkan dirinya berada di sebuah pengadilan, yang akan mengantarkannya ke neraka atau ke surga, sementara hisab harus dijalankan.

Dari catatan itulah sikap pedulinya kepada manusia dan mempersiapkan diri menuju akhirat menjadi sebuah misi penting dalam hidupnya.

Kesemuanya itu tentunya tidak akan dapat dicapai tanpa kebersamaan dan usaha kolektif yang terorganisir dengan baik. Untuk itu, ia melihat bahwa harus ada usaha kolektif dan tepat untuk mewujudkan misi penting dalam hidupnya ini.

Dengan embaca biografi tokoh pendidikan ini, Anda akan melihat bagaimana usaha pertama Dahlan untuk memajukan masyarakat Indonesia melalui pengajaran. Dakwah kepada Allah swt. sebagai umat rahmatan lil alamin, membuatnya sibuk membina remaja yang tergabung dalam angkatan muda.

Dengan membina angkatan muda maka dakwah lewat pendidikan yang digagasnya akan semakin kuat dan tajam. Salah satu strategi jitu yang ditempuh oleh Dahlan adalah mendidik calon pamongpraja (calon pejabat pemerintahan) yang tergabung dalam sekolah tinggi OSVIA Magelang.

Selain itu, Dahlan juga membina para calon guru yang ada dalam Kweekshcool Jetis. Harapan Dahlan dengan mendidik para calon guru dan pejabat, maka peluang untuk melebarkan sayap dakwah dan membina umat lewat pengajaran ini akan semakin terbuka lebar.

Cara lain yang dilakukan Dahlan adalah dengan mendirikan sekolah calon guru yang bernama Madrasah Mu’allimin (Kweekshcool Muhammadiyah) dan Madrasah Mu’allimaat (Kweekshcool Putri Muhammadiyah). Inilah sekolah pertama yang didirikan oleh kaum pribumi pada masa kolonial Belanda. Ahmad Dahlan telah menunjukkan perhatiannya yang demikian besar dalam dunia pendidikan di Indonesia.

K.H. Ahmad Dahlan Menepis Fitnah

 Semakin jauh menyelami biografi tokoh pendidikan ini, tentu tak lengkap jika tidak menelaah kapan Muhammadiyah didirikannya secara resmi. Tepat pada tahun 1912, Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan cita-citanya membangun kesadaran secara kolektif.

Muhammadiyah merupakan ormas Islam yang berpikiran maju ke depan, dengan membawa misi diantaranya kembali memurnikan praktik ibadah dan syariat yang telah lama ternodai oleh adanya berbagai praktik syirik seperti bid’ah, syirik, takhayul, dan kejawen. Organisasi Muhammadiyah ini dijadikan Ahmad Dahlan sebagai organisasi yang begitu peduli dan mengembangkan dakwah Islam lewat pendidikan.

Bukan hal mudah saat Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Ia mendapatkan resistensi dari keluarga, masyarakat sekitar, dan pemerintah kolonial. Berbagai ujian dihadapinya dengan tegar, mulai dari hasutan, fitnah, tuduhan, dan berbagai macam teror diterimanya. Bahkan, ia dianggap membawa ajaran agama baru yang bertentangan dengan Islam.   

Hal terlihat dari sikap masyarakat saat menyatakan bahwa arah salat di masjid besar saat itu tidak menghadap ke kiblat melainkan ke Afrika. Untuk itu, perlu adanya pembenahan dalam hal arah salat. Selain itu, Ahmad Dahlan sangat menentang adanya bidah, takhayul, dan khurafat yang dianut masyarakat dengan mencampurkan ajaran Islam dengan sajian sesajen di tempat tertentu.

Selain itu, melakukan tahlilan selama berhari-hari secara berlebihan yang seringkali semakin menyusahkan masyarakat yang tertimpa musibah. Ada juga beberapa perayaan yang sebenarnya tidak ada di dalam ajaran Islam yang masih dilakukan oleh masyarakat setempat.

Sang ayah, K.H. Abu Bakar seringkali berdiskusi dengannya tentang keadaan masyarakat saat itu. Dahlan mempertanyakan kenapa masyarakat mencampuradukkan ajaran Islam dengan hal-hal yang di luar Islam, seperti sesajen, mistik, dan kebiasaan yang mengantarkan kepada perbuatan sirik.

Seharusnya sebagai seorang yang dituakan dan ditaati, para kiai dan sesepuh memberikan pengarahan yang benar bagaimana Islam memandang itu semua secara lugas. 

Namun, sang ayah menjawab bahwa agama tidak hanya persoalan akal saja, tetapi juga hati. Dahlan bertanya-tanya,hati yang manakah yang dimaksud? Apakah hati para sesepuh dan pamongpraja yang telah dinodai ketamakan terhadap jabatan, materi, dan hal-hal yang berbau duniawi semata.

Tidak dapat dipastikan bahwa hatilah yang membedakan mana yang benar dan salah. Untuk itu, ketika di Makkah, Dahlan seringkali berdiskusi dan membaca buah pikiran para pembaharu dalam Islam yang mengajak untuk memurnikan ajaran Islam, seperti uah pikiran Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah mampu menjawab segala persoalannya.

Menurut mereka, Islam bersifat tegas dan lugas dalam pelaksanaan syariat. Mendidik dengan penuh kelembutan dan mengajarkan akal sebagai penimbang mana yang halal dan haram sesuai dengan tuntunan Alquran dan Hadis. 

Ahmad Dahlan dengan sikapnya yang lugas dan tegas tanpa rasa takut telah membuat pendirian Muhammadiyah di awal menjadi semakin kokoh. Muhammadiyah berkonsentrasi mengembangkan dakwahnya lewat pendidikan.

Politik kolonial Belanda yang tidak menginginkan kaum pribumi mendapatkan pendidikan, membuat gerak Ahmad Dahlan semakin terbatasi untuk mengembangkan Muhammadiyah.

Namun dengan cerdik, Ahmad Dahlan memberikan intruksi untuk mengubah nama Muhammadiyah di beberapa cabang di nusantara dengan nama lain agar pemerintah kolonial Belanda tidak curiga. Sejalan dengan itu, pendidikan yang digagasnya pun semakin meluas dengan didirikannya sekolah Muhammadiyah di berbagai penjuru Nusantara.

Inilah salah satu biografi tokoh pendidikan Indonesia yang demikian inspiratif dan patut dijadikan suri tauladan bagi kita, generasi muda Indonesia!

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Pemerintahan Gus Dur: Dua Tahun Penuh Keunikan
  • Kesederhanaan Tokoh Islam Khalifah Umar bin Abdul Aziz
  • Tokoh Perawat: Tiga Wanita, Tiga Dunia
  • Profil Muhammad Abduh dan Corak Tafsirnya
  • Mengenal Tokoh Perumus Pancasila
  • Perjalanan Timur Pradopo sebagai Kapolri
  • Pancasila - Ideologi Bangsa Indonesia
  • Tokoh Wayang Arjuna - Kisah di Balik Sepuluh Nama Arjuna
  • Kedatangan Obama, Sang Komunikator Ulung
  • Tokoh-Tokoh Indonesia Pioner Bangsa
  • Kilasan Singkat Biografi Rain
  • Tokoh-Tokoh Geografi Penjelajah Bumi
  • Kisah Alexander Graham Bell, Sang Penemu Telepon
  • Tokoh Naruto yang Pantang Menyerah
  • Karikatur Gus Dur: Hayati Kearifan Gus Dur Lewat Goresan
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA