Bioskop Tradisional, Riwayatmu Dulu

Bioskop merupakan salah satu tempat yang menjadi tujuan masyarakat untuk mencari hiburan. Semenjak teknologi audio visual mulai dikenal masyarakat, seiring itu pula industri perfilman tumbuh pesat. Hal ini mendorong melonjaknya sektor industri pendukung lainnya. Salah satunya ditandai dengan makin menjamurnya gedung bioskop di tanah air.
Puncak kejayaan gedung bioskop tanah air terjadi pada kurun waktu akhir 70an hingga akhir dekade 90an. Pada masa tersebut, gedung bioskop tumbuh dengan cepat hingga ke wilayah kecamatan. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa sektor industri perfilman tanah air, mengalami masa keemasan.
Pada tahun-tahun tersebut, film yang diputar di berbagai gedung bioskop masih didominasi oleh film lokal. Serbuan film asing yang masuk ke pentas hiburan perfilman Indonesia, belumlah segencar yang terjadi pada saat ini.
Akibatnya, film produksi anak bangsa benar-benar mampu menjadi raja di berbagai gedung bioskop yang ada. Tema film yang diputar di gedung-gedung bioskop pun beragam. Mulai dari film bertema cinta yang banyak diperankan oleh Rano Karno, film bertema laga yang dibintangi Barry Prima, Willy Dozan, hingga ke film bergenre komedi.
Pada masa itu, film bertema komedi terhitung paling banyak menarik penonton di bioskop. Akibatnya, bermunculanlah komedian-komedian yang melejit namanya melalui film layar lebar. Sebut saja seniman asal Betawi, almarhum Benyamin S yang selalu berpasangan dengan artis wanita serba bisa Ida Royani. Generasi berikutnya diwarnai dengan film komedi slapstik ala trio Warkop yaitu Dono, Kasino dan Indro.
Trio ini cukup lama malang melintang di berbagai gedung bioskop karena jenis lawakan mereka yang terhitung segar pada saat itu. Kesuksesan trio ini kemudian diikuti dengan kehadiran duet komedian Doyok-Kadir yang juga mampu menarik minat banyak penonton untuk datang ke gedung bioskop.
Pasca Krisis
Kejayaan gedung bioskop dan industri film nasional mulai menunjukkan kemunduran sejak krisis ekonomi mulai melanda Indonesia. Hal ini ditambah dengan serbuan film-film asing yang mulai marak masuk ke tanah air sebagai dampak dibukanya perdagangan bebas.
Selain itu, kehadiran film asing yang semakin mudah melalui kemajuan teknologi pun menjadi salah satu penyebab mati surinya industri bioskop tanah air. Film-film berkualitas bisa dinikmati secara mudah melalui berbagai keping baik yang berbentuk piringan hitam maupun keping hitam.
Kehadiran film-film tersebut pun tidak kalah cepat dengan tayangan di gedung bioskop. Sehingga bagi mereka yang memiliki fasilitas pemutar keping cakram serta tidak memiliki banyak waktu longgar untuk datang ke gedung bioskop, memiliki alternatif lain untuk menikmati hiburan.
Teknologi audio yang semakin maju pun, semakin mudah untuk dimiliki guna menghadirkan sensasi suara sedahyat di gedung bioskop. Perangkat home theater bisa menjadi pilihan bagi mereka yang ingin merasakan sensasi suara gedung bioskop di dalam rumah.
Dan semenjak tahun 2000, pergeseran tren gedung bioskop pun terjadi. Industri bioskop mulai beranjak mengikuti perkembangan jaman. Gedung bioskop tradisional pun mulai tergeser oleh kehadiran gedung bioskop modern yang dilengkapi pendingin ruangan dan kursi dari sofa yang menyamankan penonton.
Gedung bioskop modern inilah yang kemudian menggusur gedung bioskop tradisional, karena film yang ditayangkan pun selalu terkini. Hal ini diakibatkan adanya jaringan dengan produsen film asing terutama dari Hollywood.






