Bioskop : Nonton Film Rame-rame

Jenis hiburan yang tergolong murah meriah untuk zaman sekarang ini bisa jadi salah satunya adalah menonton. Menonton sebuah film di bioskop merupakan hiburan yang banyak dipilih. Selain harga tiketnya yang tidak terlalu mahal, film yang diputar pun selalu update alias tidak ketinggalan zaman.
Dengan membayar tiket seharga sepuluh hingga lima puluh ribu Anda bisa menikmati film-film terbaru bersama dengan calon penonton yang lain. Menonton film secara beramai-ramai memberikan nilai tambah sendiri bagi bioskop.
Jenis film yang diputar pun bervariasi. Genre yang disuguhkan mulai dari komedi, drama, horor, hingga film-film untuk keluarga. Di bioskop kita bisa menyaksikan berbagai film produksi luar negeri maupun dalam negeri. Semuanya tersaji dan menunggu kita untuk menontonnya.
Kata bioskop sendiri berasal dari bahasa Yunani. Pengertian bioskop adalah tempat yang besar yang digunakan untuk menonton pertunjukkan film menggunakan layar yang juga besar. Gambar pada roll-roll film itu diproyeksikan oleh sebuah alat bernama proyektor, sehingga gambar dapat dilihat dengan jelas pada layar yang lebar.
Antara Bioskop dan Layar Tancep
Pada zaman dahulu, sebelum gedung-gedung bioskop mulai banyak di Indonesia masyarakat, Indonesia juga sudah mengenal istilah layar lebar dan film. Jika Anda ingat, Anda mungkin pernah mengalami masa kejayaan dari layar tancep.
Sebuah pertunjukan rakyat yang menyuguhkan hiburan berupa film pada layar besar. Perbedaan antara bioskop dan layar tancep adalah sarana dan prasarananya saja.
Jika di bioskop kita akan disuguhkan dengan fasilitas yang membuat nyaman dan betah, seperti kursi besar yang empuk, maka ketika menyaksikan layar tancep kenyamanan itu hanya impian.
Masyarakat yang ingin menyaksikan film pada layar tancep harus rela duduk beralaskan koran, dan jika hujan turun, maka pertunjukkan akan berhenti seketika. Sebuah hiburan yang benar-benar “hiburan”.
Sejarah Bioskop di Indonesia
Bioskop pertama kali muncul di Indonesia pada 1900. Bisa jadi, negara Belanda lah yang memperkenalkan bioskop pada masyarakat Indonesia. Pelafalan bioskop sendiri dalam Bahasa Indonesia, ternyata juga merupakan pengaruh dari bahasa Belanda, bioscoop.
Awal masuk ke Indonesia, bioskop tidak memiliki fasilitas yang menyenangkan seperti sekarang ini. gedung bioskop pertama di Indonesia terletak di Jakarta Pusat.
Gedung bioskop saat itu berbentuk lebih seperti bangsal. Dindingnya terbuat dari gedek atau anyaman bambu dengan atap terbuat dari seng. Bioskop pertama ini ternyata bisa dipindah-pindah. Jika filmnya sudah selesai, maka pemutaran dilakukan di daerah selanjutnya. Tidak jauh berbeda dengan Layar tancep.
Jumlah bioskop di zaman dulu ternyata sudah cukup banyak. Semuanya adalah milik para orang Belanda. Nama-nama bioskop di Indonesia pada zaman dahulu pun semuanya bernuansa Eropa. Seperti, bioskop Schwarz, De Calonne, Elite, Cinema, Astoria, Centraal, Rialto, Thalia, Olimo, Orion, Al Hambra, Oost Java, Rembrant dan Rivoli. Bioskop-bioskop bersaing ketat pada sekitaran tahun 1940-an.
Film-film yang diputar pun tidak seperti film-film zaman sekarang. Dulu, film yang diputar adalah film-film gagu yang pemainnya hanya bergerak. Selama film diputar biasanya pemain hanya akan diringi oleh suara musik orkes. Salah satu film bisu yang terkenal di zamannya bahkan hingga kini adalah Charlie Caplin.
Bioskop di Indonesia pun mengalami perkembangan. Bioskop pertama di Indonesia yang sudah mulai menyediakan beberapa fasilitas diresmikan pada 1951. Bioskop Metropole tersebut didirikan di Jakarta dengan kapasitas 1.700 tempat duduk. Semenjak persemian bioskop itulah, bioskop-bioskop lain mulai banyak bermunculan di Indonesia.






