Bioskop : Nonton Film Rame-rame
Ilustrasi bioskop
Mencari hiburan itu tidak susah. Manusia saja yang terkadang merasa tidak puas kalau tidak mendapatkan hiburan yang katanya berkelas dengan harga yang tentunya juga pasti mahal. Salah satu hiburan yang menarik tapi murah itu adalah berkumpul dengan keluarga dan teman-teman. Dengan mereka, berbagai hal bisa dilakukan dengan senyum yang terus mengembang. Jenis hiburan yang tergolong murah meriah dalam kebersamaan untuk zaman sekarang ini bisa jadi salah satunya adalah menonton. Menonton sebuah film di bioskopmerupakan hiburan yang banyak dipilih. Selain harga tiketnya yang tidak terlalu mahal, film yang diputar pun selalu update alias tidak ketinggalan zaman.
Tiket Bioskop Masih Murah
Dengan membayar tiket seharga sepuluh hingga lima puluh ribu Anda bisa menikmati film-film terbaru bersama dengan calon penonton yang lain. Menonton film secara beramai-ramai memberikan nilai tambah sendiri bagi bioskop. Pemasukan akan banyak dan keberadaan tempat menonton itu pun akan terus terjaga. Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan teknologi yang memungkinkan orang untuk menonton film di mana pun dan dengan siapa pun, telah cukup mengurangi pemasukan bagi para pemilik tempat menonton tersebut.
Jenis film yang diputar pun bervariasi. Genre yang disuguhkan mulai dari komedi, drama, horor, hingga film-film untuk keluarga. Di tempat nonton film ini, kita bisa menyaksikan berbagai film produksi luar negeri maupun dalam negeri. Semuanya tersaji dan menunggu kita untuk menontonnya.
Kata bioskop sendiri berasal dari bahasa Yunani. Pengertian bioskop adalah tempat yang besar yang digunakan untuk menonton pertunjukkan film menggunakan layar yang juga besar. Gambar pada roll-roll film itu diproyeksikan oleh sebuah alat bernama proyektor, sehingga gambar dapat dilihat dengan jelas pada layar yang lebar.
Menonton di tempat umum seperti di bioskop memang ada peraturan yang tidak tertulis. Misalnya, dilarang membuat gaduh dengan bercakap-cakap dan menimbulkan suara berisik lainnya termasuk suara dering ponsel. Tidak boleh melakukan hal-hal yang dilarang agama. Orang-orang yang sering melakukan sesuatu dalam kesempitan itu terkadang terlihat oleh penonton lainnya sehingga hal itu membuat risih. Sangat diharapkan bahwa masing-masing penonton menghormati hak orang lain.
Antara Bioskop dan Layar Tancep
Pada zaman dahulu, sebelum gedung-gedung bioskop mulai banyak di Indonesia masyarakat, Indonesia juga sudah mengenal istilah layar lebar dan film. Jika Anda ingat, Anda mungkin pernah mengalami masa kejayaan dari layar tancep.
Sebuah pertunjukan rakyat yang menyuguhkan hiburan berupa film pada layar besar. Perbedaan antara bioskop dan layar tancep adalah sarana dan prasarananya saja.
Jika di bioskop kita akan disuguhkan dengan fasilitas yang membuat nyaman dan betah, seperti kursi besar yang empuk, maka ketika menyaksikan layar tancep kenyamanan itu hanya impian.
Masyarakat yang ingin menyaksikan film pada layar tancep harus rela duduk beralaskan koran, dan jika hujan turun, maka pertunjukkan akan berhenti seketika. Sebuah hiburan yang benar-benar “hiburan”. Walaupun begitu, menonton bersama di tanah lapang ini masih cukup diminati oleh orang-orang yang berada di pedalaman dan jauh dari gemerlap kota dan jauh dari memperoleh DVD player. Bukan saja harga yang mahal, tetapi juga cara mendapatkannya yang sulit. Memang tidak banyak lagi yang melakukan hal ini bahkan di pedesaan yang dekat dengan perkotaan, tetapi keberadaan layar tancep tetap harus dihargai sebagai bagian dari sejarah menonton film.
Sejarah Bioskop di Indonesia
Bioskop pertama kali muncul di Indonesia pada 1900. Bisa jadi, negara Belanda lah yang memperkenalkan tempat menonton film ini pada masyarakat Indonesia. Pelafalan bioskop sendiri dalam Bahasa Indonesia, ternyata juga merupakan pengaruh dari bahasa Belanda, bioscoop.
Awal masuk ke Indonesia, tempat menonton film ini tidak memiliki fasilitas yang menyenangkan seperti sekarang ini. gedung bioskop pertama di Indonesia terletak di Jakarta Pusat. Jakarta Pusat dipilih karena tempat itu dianggap sebagai tempat yang paling banyak didatangi oleh masyarakat Jakarta pada masa itu. Bisnis tetaplah bisnis yang membutuhkan keuntungan agar tetap bisa bertahan.
Gedung bioskop saat itu berbentuk lebih seperti bangsal. Dindingnya terbuat dari gedek atau anyaman bambu dengan atap terbuat dari seng. Bioskop pertama ini ternyata bisa dipindah-pindah. Jika filmnya sudah selesai, maka pemutaran dilakukan di daerah selanjutnya. Tidak jauh berbeda dengan Layar tancep.
Jumlah tempat menonton film di zaman dulu ternyata sudah cukup banyak. Semuanya adalah milik para orang Belanda. Nama-nama bioskop di Indonesia pada zaman dahulu pun semuanya bernuansa Eropa. Seperti, bioskop Schwarz, De Calonne, Elite, Cinema, Astoria, Centraal, Rialto, Thalia, Olimo, Orion, Al Hambra, Oost Java, Rembrant dan Rivoli. Tempat-tempat menonton film itu bersaing ketat pada sekitaran tahun 1940-an.
Film-film yang diputar pun tidak seperti film-film zaman sekarang. Dulu, film yang diputar adalah film-film gagu yang pemainnya hanya bergerak. Selama film diputar biasanya pemain hanya akan diringi oleh suara musik orkes. Salah satu film bisu yang terkenal di zamannya bahkan hingga kini adalah Charlie Caplin.
Tempat nonton film di Indonesia pun mengalami perkembangan. Tempat menonton film pertama di Indonesia yang sudah mulai menyediakan beberapa fasilitas diresmikan pada 1951. Bioskop Metropole tersebut didirikan di Jakarta dengan kapasitas 1.700 tempat duduk. Semenjak peresmian tempat nonton film dengan kapasitas cukup besar itulah, tempat-tempat nonton film lain mulai banyak bermunculan di Indonesia.
Perkembangan Bioskop Atau Tempat Nonton Film Di Indonesia Sekarang
Semakin banyaknya sarana hiburan, seperti waterboom, tempat pemancingan, dan arena permainan lainnya yang juga berbiaya rendah, ternyata cukup membuat banyak orang tidak melirik keberadaan tempat nonton film lagi. Ditambah juga dengan peralatan modern untuk memutar film di rumah dengan perangkat yang canggih dan bahkan bisa seolah menghadirkan suasana menonton film bersama keluarga dan sahabat dengan kualitas yang cukup baik, telah membuat suasana bioskop tidak seramai dahulu.
Bahkan ada beberapa tempat menonton film itu yang akhirnya bangkrut dan tempat yang cukup besar itu terpaksa dialihfungsikan menjadi tempat bisnis lain. Mau tidak mau suasana perfilman di Indonesia yang lebih banyak berisi film-film yang berhubungan dengan seks dan kuntilanak bersama dengan teman-temannya sebangsa jin, telah membuat banyak orang mengurungkan niatnya untuk menonton film di tempat seperti itu.
Ada juga isu yang mengatakan bahwa bangku di tempat menonton film yang sekarang banyak terdapat di beberapa mal itu telah dipasangi jarum suntik yang berisi virus mematikan seperti virus HIV dan AIDS. Menyeruaknya isu ini tentu saja membuat banyak orang khawatir walaupun bagi para penonton fanatik, hal itu bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan. Mereka tetap saja pergi menonton film dan tidak merasa terganggu sama sekali dengan isu seperti itu.
Kalau ada film yang bagus dan cukup mendidik, biasanya, bioskop cukup ramai oleh para keluarga yang berniat menyaksikan film itu. Misalnya, ketika ada pemutaran film Ketika Cinta Bertasbih 1 dan Ketika Cinta Bertasbih 2, penonton membludak hingga mencapai angka jutaan. Begitu juga film relijius sebelumnya yang berjudul Ayat-Ayat Cinta. Film The Raid yang menampilkan teknik pembuatan film yang cukup luar biasa menurut ukuran Indonesia, juga mendulang sukses yang cukup bagus.
Apalagi ketika terdengar kabar bahwa salah satu pihak pembuat film terbesar dan terhebat di jagad raya, Hollywood, berminat membuat The Raid versi Hollywood, para penikmat film merasa sangat bangga dan mereka pun telah berencana menonton film The Raid yang tentunya akan semakin keren setelah mendapatkan polesan dari para pembuat film Hollywwod. Terdengar kabar bahwa Keenu Reeve, bintang The Matrix, akan juga terlibat dalam pembuatan film The Raid versi Hollywood itu. Publik film Indoniesia semakin tidak sabar menanti kedatangan film itu di bioskop kesayangan mereka.
Ternyata perkembangan zaman memang menuntut begitu banyak perubahan yang lainnya termasuk jagad hiburan yang murah meriah. Tak mampu membuat perubahan, maka pasti akan digerus oleh perubahan tersebut. Begitu pun dengan perkembangan bioskop. Film-film yang bagus dan bermutu yang akan membawa dampak pada perkembangan jiwa dan mental sangat diharapkan agar uang, waktu, dan energi yang telah dikeluarkan tidak sia-sia serta kedatangan ke bioskop membawa dampak yang baik dan bukan untuk menghabiskan waktu percuma.
Bioskop Tradisional, Riwayatmu Dulu
Bioskop merupakan salah satu tempat yang menjadi tujuan masyarakat untuk mencari hiburan. Semenjak teknologi audio visual mulai dikenal masyarakat, seiring itu pula industri perfilman tumbuh pesat. Hal ini mendorong melonjaknya sektor industri pendukung lainnya. Salah satunya ditandai dengan makin menjamurnya gedung bioskop di tanah air.
Puncak kejayaan gedung bioskop tanah air terjadi pada kurun waktu akhir 70an hingga akhir dekade 90an. Pada masa tersebut, gedung bioskop tumbuh dengan cepat hingga ke wilayah kecamatan. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa sektor industri perfilman tanah air, mengalami masa keemasan.
Pada tahun-tahun tersebut, film yang diputar di berbagai gedung bioskop masih didominasi oleh film lokal. Serbuan film asing yang masuk ke pentas hiburan perfilman Indonesia, belumlah segencar yang terjadi pada saat ini.
Akibatnya, film produksi anak bangsa benar-benar mampu menjadi raja di berbagai gedung bioskop yang ada. Tema film yang diputar di gedung-gedung bioskop pun beragam. Mulai dari film bertema cinta yang banyak diperankan oleh Rano Karno, film bertema laga yang dibintangi Barry Prima, Willy Dozan, hingga ke film bergenre komedi.
Pada masa itu, film bertema komedi terhitung paling banyak menarik penonton di bioskop. Akibatnya, bermunculanlah komedian-komedian yang melejit namanya melalui film layar lebar. Sebut saja seniman asal Betawi, almarhum Benyamin S yang selalu berpasangan dengan artis wanita serba bisa Ida Royani. Generasi berikutnya diwarnai dengan film komedi slapstik ala trio Warkop yaitu Dono, Kasino dan Indro.
Trio ini cukup lama malang melintang di berbagai gedung bioskop karena jenis lawakan mereka yang terhitung segar pada saat itu. Kesuksesan trio ini kemudian diikuti dengan kehadiran duet komedian Doyok-Kadir yang juga mampu menarik minat banyak penonton untuk datang ke gedung bioskop.
Pasca Krisis
Kejayaan gedung bioskop dan industri film nasional mulai menunjukkan kemunduran sejak krisis ekonomi mulai melanda Indonesia. Hal ini ditambah dengan serbuan film-film asing yang mulai marak masuk ke tanah air sebagai dampak dibukanya perdagangan bebas.
Selain itu, kehadiran film asing yang semakin mudah melalui kemajuan teknologi pun menjadi salah satu penyebab mati surinya industri bioskop tanah air. Film-film berkualitas bisa dinikmati secara mudah melalui berbagai keping baik yang berbentuk piringan hitam maupun keping hitam.
Kehadiran film-film tersebut pun tidak kalah cepat dengan tayangan di gedung bioskop. Sehingga bagi mereka yang memiliki fasilitas pemutar keping cakram serta tidak memiliki banyak waktu longgar untuk datang ke gedung bioskop, memiliki alternatif lain untuk menikmati hiburan.
Teknologi audio yang semakin maju pun, semakin mudah untuk dimiliki guna menghadirkan sensasi suara sedahyat di gedung bioskop. Perangkat home theater bisa menjadi pilihan bagi mereka yang ingin merasakan sensasi suara gedung bioskop di dalam rumah.
Dan semenjak tahun 2000, pergeseran tren gedung bioskop pun terjadi. Industri bioskop mulai beranjak mengikuti perkembangan jaman. Gedung bioskop tradisional pun mulai tergeser oleh kehadiran gedung bioskop modern yang dilengkapi pendingin ruangan dan kursi dari sofa yang menyamankan penonton.
Gedung bioskop modern inilah yang kemudian menggusur gedung bioskop tradisional, karena film yang ditayangkan pun selalu terkini. Hal ini diakibatkan adanya jaringan dengan produsen film asing terutama dari Hollywood.

