Blora, Dari Situs Wura-Wuri Hingga Grup Musik Wali - ANNEAHIRA.COM
Ilustrasi blora
Blora adalah satu kabupaten yang secara administrasi masuk ke Provinsi Jawa Tengah. Blora mendadak menjadi pusat perhatian dunia ketika ditemukan cadangan minyak bumi ratusan juta barel di Blok Cepu, bagian timur Kabupaten Blora. Kabupaten Blora berbatasan langsung dengan Kabupaten Pati dan Rembang di utara, Kabupaten Ngawi di sebelah selatan, di sebelah barat berbatasan langsung dengan Kabupaten Grobogan dan di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro dan Tuban.
Blora merupakan tempat kelahiran tokoh-tokoh nasional seperti Aryo Penangsang, Pramoedya Ananta Toer, Samin Surosentiko, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Mukti Ali, Ali Moertopo, LB Moerdani dan tentu saja personil grup Wali, semuanya kelahiran Blora.
Kabupaten Blora merupakan daerah perbukitan setinggi 280 meter dpl dan dataran rendah yang tingginya 20 meter dpl. Daerah perbukitan di Kabupaten Blora ini merupakan kawasan di bagian utara rangkaian dari Pegunugan Kapur Utara, sementara perbukitan di daerah selatan merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng.
Kota Blora sendiri terletak pada cekungan pegunungan Kapur Utara. Pada bagian selatan, utara dan timur dari Kabupaten Blora merupakan wilayah yang tertutup hutan. Tentu saja hal ini merupakan potensi bagi Kabupaten Blora. Selama ini Blora merupakan penghasil kayu jati terbaik di Pulau Jawa. Dataran rendah di Kabupaten Blora selain dipergunakan untuk pemukiman penduduk, mayoritas berupa tanah pesawahan yang masih produktif.
Sekalipun hampir separuh Kabupaten Blora merupakan kawasan hutan, tapi pada setiap musim kemarau, Kabupaten Blora termasuk salah satu daerah yang sering mengalami krisis air, terutama untuk wilayah yang didominasi pegunungan kapur. Air baik untuk irigasi maupun air minum bagi masyarakat, menjadi barang mahal pada saat musim kemarau. Mungkin karena daerah utara sebagian didominasi oleh daerah perbukitan kapur, pada saat musim hujan, di beberapa titik merupakan daerah yang rawan terjadinya longsor.
Sampai dengan 2012 ini, Kabupaten Blora terdiri dari 16 kecamatan yang di dalamnya sebanyak 24 kelurahan dan 271 desa. Dari komposisi desa dan kelurahan ini bisa diperhatikan bahwa mayoritas Kabupaten Blora terdiri dari perkampungan.
Dari 16 kecamatan yang terdapat di Kabupaten Blora, baru empat kecamatan yang sudah menjadi pusat perhatian secara nasional terutama karena potensinya dalam menunjang perekonomian daerah Kabupaten Blora, antara lain Cepu, Randublatung, Jiken dan Ngawen. Cepu merupakan kecamatan di Kabupaten Blora yang diharapkan mampu mendongkrak lebih tinggi lagi pendapatan per kapitanya.
Untuk menuju ke Blora, bisa ditempuh melalui jalur darat dari jalur Semarang ke Surabaya melewati Purwodadi. Jalur ini merupakan jalur utama masuk ke Blora dengan infrastruktur yang mendukung. Berbeda dengan jalur Semarang-Surabaya melewati Rembang, terutama karena kondisi jalannya yang tidak mendukung.
Kabupaten Blora juga dilewati jalur kereta api, sekalipun tidak ada yang langsung melintasi pusat Kota Blora. Kereta Api Surabaya-Jakarta, Surabaya-Semarang, dan kereta api Semarang-Bojonegoro singgah di Stasiun Cepu, salah satu stasiun besar yang ada di Kabupaten Blora. Alat transportasi di dalam kota sendiri beragam dan menjadi ciri khas kota Blora, antara lain cikar, dokar dan becak.
Asal Usul Kota Blora
Menelisik asal mula Kota Blora, ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan bahwa Blora asal dari kata belor yang berarti lumpur, lalu berkembang mengikuti lapal lidah masyarakat di sana jadi mbeloran dan akhirnya menjadi Blora.
Lalu, apa hubungannya Kota Blora dengan lumpur? Apakah karena sebagian kawasan Kabupaten Blora yang terdiri dari perbukitan kapur sehingga pada setiap musim penghujan rawan longsor, membawa lumpur gerusan? Ada pendapat lain bahwa Blora berasal dari kata Wai dan Lorah. Wai artinya air dan Lorah berarti tanah rendah atau jurang.
Seperti yang sering terjadi dalam ilmu lingustik Jawa yakni sering terjadi pertukaran antara huruf W dan huruf B, maka Wailorah pun mengalami perkembangan menjadi Bailora, lalu berubah menjadi Balora sampai akhirnya Blora. Dari pengertian ini merujuk kepada tanah rendah berair. Tentu pengertian ini dekat dengan asal kata belor yang berarti lumpur tadi.
Namun pada saat Kadipaten Jipang berkuasa pada abad 16, Blora merupakan daerah kekuasaannya. Kadipaten Jipang sendiri merupakan wilayah dari pemerintahan Demak. Pada saat Kadipaten Jipang dipegang oleh Adipati Jipang yang lebih dikenal dengan Aria Jipang atau Aryo Penangsang, daerah kekuasaan Jipang meliputi Jipang, Blora, Pati dan Lasem. Hanya saja ketika Jaka Tingkir atau Pangeran Hadiwijaya berkuasa, Blora menjadi daerah yang masuk ke dalam kekuasaan Kerajaan Pajang.
Blora pada Zaman Mataram
Pada saat Kerajaan Mataram berkuasa, Kerajaan Pajang termasuk salah satu daerah yang takluk, sehingga Blora pun menjadi bagian dari Mataram yang masuk ke Bang Wetan atau daerah kekuasaan sebelah timur. Pada saat Paku Buwana I berkuasa, daerah Blora saat itu luasnya hanya 3000 karya, satu karya setara dengan tiga per empat hektar.
Blora termasuk salah daerah penting sejak jaman pemerintahan Pajang, terutama karena hasil hutannya berupa pohon jati. Sejak tanggal 11 Desember 1749, Blora beralih status menjadi Kabupaten dengan bupati pertama Wilatikta. Dalam sejarah Kabupaten Blora, yang tak akan pernah terhapus dari perkembangannya adalah peristiwa para petani yang memberontak penjajahan kolonial Belanda terutama setelah peristiwa penetapan pajak kepala yang sungguh sangat memberatkan para petani.
Seorang petani bernama Samin Surosentiko pada 1888 berhasil menggerakan para petani untuk menentang penjajah. Sekalipun menentang tidak melalui angkat senjata, tapi gerakan Samin ini telah membuka mata penjajah kolonial Belanda, bahwa para petani ketika bersatu memiliki kekuatan yang luar biasa.
Potensi Daerah Blora
Berbicara masalah potensi daerah, Blora termasuk daerah yang dengan potensi yang komplit, dari mulai situs purbakala sampai dengan potensi minyak bumi yang belakangan menjadi perhatian internasional setelah Blok Cepu ditemukan. Tentu saja semua potensi itu tidak akan menjadi sumber mensejahterakan kehidupan rakyat apabila ada salah urus dalam pengelolaannya.
Terletak di Dukuh Kawung dan Singget, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, terdapat sebuah situs fosil hewan purba. Lokasi persisnya dari situs fosil hewan purba ini sekitar 65 km ke arah selatan dari pusat kota Blora, berada di aliran Sungai Bengawan Solo yang melewati Blora.
Menurut penelitian terakhir, fosil hewan purba yang ditemukan di Blora ini diperkirakan berumur antara 200-300 ribu tahun berupa kura-kura purba, gajah dan kepala kerbau purba. Tim peneliti yang terdiri dari antropolog dari Wolongong University, Australia dan Fahrul Azis, peneliti lokal dari Bandung, terus mengadakan penelitian untuk memastikan tentang keberadaan fosil hewan purba ini.
Selain itu ada pula petilasan Kadipaten Jipang Panolan berupa makam Gedong Ageng, yang berjarak sekitar 8 km dari pusat kota Cepu. Di tempat inilah dahulunya berdiri bandar perdagangan dan pusat pemerintahan Kadipaten Jipang. Selain makam kerabat kerajaan, di daerah ini juga masih bisa disaksikan petilasan semayam Kaputren, petilasan Siti Hinggil, petilasan mesjid dan petilasan Bengawan Sore.
Perkembangan pendidikan termasuk yang mengalami perkembangan pesat di Blora. Sampai saat ini di Kabupaten Blora terdapat 1 buah TK dan 518 TK swasta, sementara Sekolah Dasar didominasi SD Negeri yakni 647 unit dan swasta 76 unit. Pada jenjang Sekolah Menengah Pertama antara negeri dan swasta terlihat seimbang yaitu 60 unit SMP Negeri dan 78 SMP Swasta, ini juga sebagai indikator animo masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jengjang lebih tinggi cukup baik.
Di Kabupaten Blora juga terdapat 9 SMA Negeri dan 33 SMA Swasta, 2 unit SMK Negeri dan 26 unit SMK Swasta. Hanya saja pada jenjang perguruan tinggi, di Kabupaten Blora masih tampak minim yakni hanya terdapat 1 unit Perguruan Tinggi Swasta.
Seperti mayoritas daerah di Indonesia, sektor pertanian masih menjadi andalan utama perekonomian masyarakat. Demikian pula dengan yang terjadi di Kabupaten Blora. Hasil perkebunan dari Kabupaten Blora yang menjadi andalan adalah kayu jati dengan kualitas paling bagus di Pulau Jawa. Dan sumber perekonomian yang belakangan menjadi andalan utama tentu saja adalah sumber minyak bumi di Blok Cepu yang mulai menjadi perhatian dunia internasional.
Menurut taksiran di Blok Cepu ini tak kurang terdapat 250 juta barel sumber minyak bumi. Eksplorasi sumber minyak bumi di Kabupaten Blora ini sebenarnya sudah ada sejak jaman kolonial Belanda, namun berkat perkembangan teknologi, ditemukan sumber baru sebanyak itu di Blok Cepu. Untuk mengolah sumber minyak bumi di Blok Cepu ini, sekarang telah disepakati kerjasama ekploitasi antara pemerintah dengan pihak kontraktor diantara Exxon Mobil dan PT Ampolex Cepu.
Untuk menunjang kesehatan masyarakat, tak kurang dari lima buah rumah sakit besar di Kabupaten Blora yakni RS Dr. R Soetijono, RS PPT Migas Cepu, RS Umum Supraptp Cepu, RS Permata dan RS PKU Muhammadiyah yang terletak di Cepu.
Bagi anda yang senang berjalan-jalan, banyak potensi pariwisata di Kabupaten Blora baik tempat-tempat menarik, situs purbakala, kesenian maupun wisata kuliner. Kesenian Barongan dan Tayub merupakan kesenian yang sering dipentaskan untuk menyambut para wisatawan. Sementara tempat wisata yang banyak dikunjungi para wisatawan yang terletak di Kabupaten Blora Waduk Tempuran, Goa Terawang dan tentu saja yang sudah jadi ikon Blora, yaitu wisata dengan lokomotif kuno menelusuri hutan jati.
Buah tangan dari Blora yang akan melengkapi perjalanan anda berwisata di kota ini, jangan sampai ketinggalan untuk membawa aneka tanaman hias khas dari Blora, disamping itu aneka kerajinan kayu jati khas dari Jepon, sebuah sentra kerajinan yang letaknya 7 km dari kota Blora. Sementara untuk yang senang jajanan khas Blora, anda bisa mencicipi sate kambing khas Blora, limun kawis, lontong tahu, keripik tempe, dan serabi khas Blora.

