Ciri-ciri Pecandu Blue Film
Blue film adalah tayangan berupa adegan mesum, objek tanpa busana atau busana sangat minim yang dimaksudkan untuk meningkatkan gairah seksual penontonnya.
Kecanggihan teknologi tidak selamanya menguntungkan. Dikarenakan teknologi, tayangan blue film semakin mudah diakses melalui internet, bioskop, VCD/ DVD yang dijual bebas, bahkan melalu telepon genggam.
Para remaja atau orang dewasa tanpa malu-malu merekam hubungan intim mereka. Kemudian dengan sengaja, atau tanpa sengaja, tayangan blue film hasil rekaman itu beredar dan dilihat oleh jutaan mata dari berbagai kalangan dan usia.
Beberapa production house juga memproduksi blue film terselubung demi mengeruk keuntungan materi yang berlipat. Beberapa film remaja yang konon dibuat dalam rangka pendidikan seks ternyata isinya menjeremuskan, penuh adegan mesra dan intim di luar nikah. Belum lagi film-film horor yang diselipi adegan tidak senonoh yang bisa meningkatkan nafsu birahi.
Blue film tidak ada bedanya dengan narkoba. Berawal dari coba-coba melihat tayangan mesum, kemudian berlanjut untuk mengulanginya di kali kedua.
Semakin lama semakin penasaran dan ingin menonton adegan yang lebih syur lagi. Terus dan terus ingin melihat adegan yang lebih dahsyat daripada sebelumnya. Akhirnya jadilah ia pecandu blue film.
Jika seseorang telah menjadi pecandu blue film, kelainan yang jelas pun akan tampak dari berbagai sisi kehidupannya.
Pertama, ia menganggap bahwa pacaran, berciuman dan berpelukan adalah hal yang wajar. Bahkan tinggal satu atap dengan lawan jenis yang belum dinikahinya pun tidak menjadi masalah bagi dia. Ia bisa berpendapat seperti itu karena sering dicekoki tayangan blue film yang isinya seputar pergaulan bebas dan kumpul kebo.
Kedua, arah pembicaraannya selalu mengarah kepada kegiatan seksual. Isi candaannya bermuatan istilah-istilah pornografi. Obrolan orang lain pun selalu diplesetkan ke arah sana. Otaknya seakan dipenuhi oleh kegiatan pornografi.
Ketiga, ia banyak menyimpan berkas blue film di gadgetnya, entah itu laptop, flash disk, harddisk komputer, memori telepon genggam, dan lain sebagainya. Ia selalu mencuri-curi waktu untuk menontonnya. Jika sehari dilalui tanpa menonton blue film, batin serasa tersiksa.
Keempat, munculnya penyimpangan seksual seperti onani dan masturbasi, yaitu kegiatan seksual yang dilakukan sendiri untuk menuntaskan hasrat birahinya akibat menonton blue film. Dampak negatif dari kegiatan tersebut adalah kerusakan otak karena senyawa yang mengatur kenikmatan terus dikeluarkan.
Jika otak rusak, maka orang tersebut akan menjadi pelupa, dan berkurang kecerdasannya. Belum lagi infeksi alat kelamin atau robeknya selaput dara serta keputihan jika perbuatan itu dilakukan berlebihan.
Perilaku menyimpang juga terlihat dari bagaimana ia memandang lawan jenis sebagai objek pelampiasan hasrat seksualnya. Tak heran beberapa kasus pemerkosaan atau pelecehan seksual disebabkan karena pelaku ingin melampiaskan hasratnya setelah menonton blue film.
Kelima, pecandu blue film terlihat sebagai orang yang tertutup dan mengisolasi diri karena menyimpan rasa bersalah. Tapi, bisa juga ia menjadi orang yang pandai bersosialisasi serta jual pesona demi memikat perhatian lawan jenis untuk melakukan seks bebas.
Keenam, ia akan rentan terjerumus pada pergaulan yang penuh maksiat dan dosa seperti perselingkuhan, homoseks/lesbian, seks bebas, aborsi atau pada alkohol dan obat-obatan terlarang. Sudah bisa dipastikan hidupnya tidak akan tenang karena mendapat tentangan dan penolakan baik dari segi agama maupun norma.
Lain halnya dengan orang-orang yang masih memiliki akal sehat. Ia lebih memilih keimanan dan menjauhkan diri dari maksiat. Meskipun godaan untuk menonton blue film lalu lalang dihadapannya, tapi ia memiliki keteguhan hati untuk tidak mendekatinya.
Lebih baik mencegah diri dari menonton blue film daripada terjerumus secara perlahan tapi pasti yang akan berdampak buruk bagi kesehatan, emosi dan perilaku sosial.






