logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Hiburan    Film    Film Porno    Bluefilm

Blue Film dan Rusaknya Mental Remaja

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Seorang Ibu muda kaget karena anaknya yang masih berusia SD sudah mengerti apa itu blue film. Banyak pelajar SMP yang terlibat pergaulan bebas karena banyak melihat blue film. Sepasang suami istri bahkan bercerai hanya karena suaminya kecanduan dengan blue film. Beberapa kenyataan miris yang saat ini sudah tak asing lagi kita temukan di lingkungan sekitar kita. 

Blue Film Lebih Mematikan daripada Racun

Ada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa bila ingin membunuh suatu bangsa jangan dengan menggunakan bom, namun rusaklah moral masyarakatnya. Blue film disinyalir sebagai salah satu cara pihak-pihak tertentu yang ingin merusak moral dan mental masyarakat di sebuah negara agar menjadi tak berdaya.

Bila dibandingkan dengan racun, blue film mungkin bisa dikatakan lebih ganas. Virus yang berakibat pada rusaknya moral bernama blue film ini juga lebih menakutkan daripada narkoba. Kerusakan otak yang disebabkan oleh blue film dikatakan permanen daripada kerusakan otak karena hal yang lain. Jadi, sudah jelas bahwa virus blue film tak bisa dianggap sebelah mata. 

Blue Film di Kalangan Remaja

Virus blue film saat ini rupanya semakin merajalela masuk pada dunia remaja. Lewat beragam cara virus mematikan tersebut bahkan menyusup ke dunia anak-anak. Game online, film kartun, anime, komik, buku bacaan yang seolah-olah untuk anak-anak padahal bukan, tayangan televisi, dll. Remaja digempur habis-habisan dengan tayangan blue film baik yang terlihat jelas maupun tidak, melalui media-media tersebut.

Ada dua faktor sebenarnya yang menyebabkan remaja jadi kehilangan arah dan menjadi kecanduan blue film. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.

1. Blue Film - Faktor Internal

Sudah menjadi naluri bahwa pelajar memang penasaran hal-hal yang seperti itu. Terutama bila mereka baru saja memasuki usia puber (SMP). Baik pelajar yang dalam kehidupan sehari-hari tergolong diam maupun yang sebaliknya, keduanya memiliki sifat dasar yang sama sebagai remaja puber, yaitu selalu ingin tahu dan penasaran terhadap hal-hal yang baru.

Pelampiasan akibat sebuah tekanan terhadap diri sendiri. Remaja yang berada pada usia puber memiliki dua kemungkinan, yaitu memiliki kepercayaan diri yang berlebihan atau tidak memiliki kepercayaan diri sama sekali.

Remaja yang memiliki kepercayaan diri yang berlebihan tidak bisa disebut aman, namun remaja yang tidak memiliki kepercayaan diri sama sekali malah lebih berbahaya karena mereka bisa melampiaskannya dengan hal-hal yang tidak baik salah satunya dengan mengonsumsi blue film.

Serial komik berjudul Train Man mungkin bisa kita jadikan pembelajaran di mana orang pendiam tak bisa selamanya disebut pendiam. Pendiam karena memang aslinya seperti itu (pendiam tanpa ada tekanan) tentu tidak berbahaya. Namun pendiam karena tertekan atau menutupi rasa tidak percaya diri akan sangat berbahaya bila tidak segera diatasi.

Dalam komik Train Man tersebut, diceritakan bahwa seorang laki-laki pecandu anime (otaku) yang tak hanya mengoleksi beragam anime melainkan juga blue film. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, laki-laki muda tersebut bisa dibilang cupu.

Hal tersebut bisa dijadikan peringatan untuk para orangtua atau pendidik, bahwa tak selamanya pelajar yang terlihat pendiam dan lugu itu memang aslinya seperti itu. Banyak kasus di mana pelajar yang lugu dan polos malah bisa berbuat hal-hal yang tidak-tidak. Dan ternyata setelah diselidiki pelajar tersebut gemar menonton blue film. Miris bukan. 

2. Blue Film - Faktor Eksternal

Sebenarnya faktor eksternal mengapa pelajar bisa kecanduan blue film sudah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Teknologi yang semakin canggih yang memudahkan banyak orang untuk men-download dan meng-upload foto dan video, termasuk foto dan video yang tidak layak.
  • Hubungan anak dan orangtua yang semakin renggang karena kesibukan menyebabkan si anak kadang melampiaskannya dengan hal-hal yang tidak benar.
  • Rumah yang hampir setiap hari selalu kosong, hanya ada anak dengan pembantu karena orangtua yang memang sering pergi ke luar.
  • Pengaruh teman yang sudah terinfeksi virus blue film terlebih dulu.

Industri Blue Film, Industri yang Tak Pernah Mati, Ironi!

Ingin bisnis dengan keuntungan yang tinggi? Blue film banyak menjadi pilihan. Bila dulu ada di negara-negara tertentu saja, sekarang ini industri blue film (terselubung) sudah beredar di mana-mana. Mirisnya, banyak remaja yang ikut menceburkan diri untuk menjadi salah satu bagian dari industri tersebut. Alasannya bermacam-macam, misalnya membutuhkan uang saku, ingin kaya selagi muda, ingin senang-senang, membantu orangtua, hingga coba-coba. Memang, bila dilihat dari sisi ekonomis, industri blue film adalah industri yang tidak pernah mati sehingga sudah pasti menguntungkan. 

Namun, tentu saja kita tak serta merta hanya berdalih alasan ekonomi saja sehingga membenarkan tindakan yang bisa merusak moral remaja sebagai generasi penerus bangsa. Aborsi yang semakin meningkat, sedikit banyak adalah karena pengaruh blue film. Pergaulan bebas, menjadi orang tua di bawah umur, hingga pemerkosaan, semuanya adalah karena pengaruh blue film.

Bisa kita bayangkan bila di masa depan industri ini semakin maju maka kondisi negara akan semakin kacau. Pun bisa kita bayangkan bila 90% remaja sudah kecanduan dengan virus tersebut, bagaimana mereka bisa nyaman dengan hidup mereka. Tak heran bila banyak remaja yang saat ini sedikit-sedikit stres dan galau. Bagaimana tidak, mereka dewasa sebelum waktunya karena virus blue film.

Jadi, apakah sebanding bila keuntungan dari sisi ekonomi yang sangat tinggi harus dibayar dengan kerapuhan mental serta penyakit psikis yang terus bertambah. Tentu jawabannya tidak.

Sayangnya masih banyak juga pihak yang dengan alasan ekonomi tidak mau menghentikan bisnis mereka. Dengan dalih blue film akan aman bila dikonsumsi oleh orang dewasa yang sudah menikah, para pebisnis tersebut tetap menjalankan aksinya.

Padahal, ditonton oleh siapa pun, dikonsumsi oleh orang dari kalangan usia mana pun, yang namanya virus tetap saja virus dan tak akan mungkin bisa berubah menjadi obat. Virus bukan obat. Pengaruh negatif blue film tak hanya bisa dirasakan oleh pelajar atau remaja saja namun juga semua kalangan.

Bila memang tak ada lagi alasan untuk mempertahankan blue film, lalu mengapa hingga saat ini blue film masih berjaya? Seperti pertanyaan telor atau ayam lebih dulu mana, pun dengan blue film yang masih tetap eksis hingga hari ini.

Permintaan konsumen ataukah penawaran dari pebisnis yang tinggi, tak ada yang tahu pasti. Yang jelas dua kubu tersebut sama-sama memberikan kontribusi sehubungan dengan masih eksisnya blue film. Sebanyak apa pun peredaran blue film, bila tak ada yang merespon, tentu lama-lama pebisnis di bidang tersebut akan menghentikan usahanya.

Bagaimanapun juga mereka tak mau rugi. Atau sebaliknya, setinggi apa pun permintaan masyarakat terhadap blue film, bila tak ada yang memproduksi tentu tidak akan terjadi “jual beli”. Namun, pemaparan tersebut hanyalah ilusi karena pada kenyataannya blue film masih beredar hingga saat ini.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Jangan Sedih Ketika Hati Menolak Filmsex
  • Ramainya Bandung Lautan Asmara
  • Tera Patrick, dari Perawat hingga Ratu Film Dewasa
  • Film Semi Indonesia - Berahi Tinggi Lepas Kendali!
  • Film Hot Indonesia: Obral Adegan Seronok Demi Rupiah
  • 6 Hal Buruk yang Diajarkan Film Biru
  • Film Semi Terbaik, Penasaran Jangan Minta Lebih!
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA