Buah Salak, Jenis dan Kegunaannya
Ilustrasi buah salak
Kebanyakan buah salak rasanya sepet-sepet manis. Namun tetap disukai banyak orang karena rasa buahnya yang lembut. Salak Pondoh termasuk yang paling populer diantara banyak jenis salak, karena dagingnya yang tebal dan rasanya lebih manis sekalipun bentuk buah salaknya kecil-kecil. Buah salak dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan snake fruit karena kulitnya bersisik seperti ular. Secara ilmiah, buah ini dikenal dengan nama salacca zalacca. Di Indonesia, salak tumbuh secara liar di berbagai daerah seperti Jawa bagian barat daya dan Sumatera Selatan. Selain di Indonesia, salak juga dibudidayakan di negara seperti Thailand dan Malaysia.
Selain dimakan langsung, buah salak juga bisa dioleh menjadi manisan dan asinan salak. Baik dalam bentuk olahan seperti asinan dan manisan salak, ciri khas buah salaknya itu sendiri memang tidak benar-benar hilang. Di beberapa daerah banyak pula yang mengolah buah salak menjadi keripik salak dan manisan salak kering. Rasanya memang tak kalah lezatnya.
Jenis-Jenis Salak
Di beberapa daerah Indonesia, buah salak telah lama dibudidayakan dan hasilnya menjadi salah satu andalan baik untuk daerahnya maupun untuk masing-masing petaninya. Terdapat sekitar 30 jenis salak yang memiliki rasa sepat dan manis. Salak yang terkenal di antaranya adalah salak Pondoh (dari Yogyakarta), salak Sidempuan dari Sumetara Barat, salak condet dari Jakarta, dan salak Bali. Tentu saja masing-masing salak tersebut memiliki ciri khas dan rasa yang berbeda-beda. Namun dari sekian banyak salah, salak Pondok yang dibudidayakan di kawasan Yogyakarta memang paling terkenal.
Salak Pondoh
Salak Pondoh merupakan buah yang sangat populer di Yogyakarta, bahkan menjadi ciri khas daerah tersebut. Banyak yang menggandrungi salak ini karena rasanya yang khas, garing dan manis. Bahkan ketika dikonsumsi dalam kondisi mentah, salak ini tidak terasa sepat. Aromanya menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen. Wangi khas buah salak.
Tidak mengherankan bila para peminat salak Pondoh ini terus meningkat, sehingga para petani di Yogyakarta yang membudidayakan buah salak sampai memproduksi besar-besaran. Bahkan, pada 1999 produksi meningkat hingga 100% dan mencapai 28.666 ton (angka ini bertahan hingga 5 tahun). Tentu saja sebuah langkah yang tepat bila pemerintah Yogyakarta semakin memperhatikan nasib budidaya salak ini sehingga bisa semakin menembus pasar yang lebih luas lagi, tidak saja di pasar tradisional dan supermarket di Indonesia melainkan diekspor ke berbagai belahan dunia lainnya yang lainnya sehingga menambah nilai devisa sekaligus kebanggaan bagi perekonomian Indonesia.
Salak pondoh memiliki varietas yang bermacam-macam. Jenis salak yang terkenal adalah pondoh super, pondoh hitam, pondoh gading (juga dikenal dengan yellowish-skinned pondoh), dan pondoh nglumut. Dari berbagai jenis salak Pondok tersebut, rasanya tetap sama manis, legit dan garing.
Salak Bali
Salak Bali memiliki ciri khas ukuran buahnya besar dan rasanya unik (seperti campuran antara buah nanas dan jus lemon), serta renyah. Salak ini sangat populer di kalangan penduduk Bali ataupun para turis asing. Namun di daerah lain memang tidak sepopuler salak Pondoh.
Salak Bali yang terkenal paling mahal adalah salak gula pasir yang ukurannya lebih kecil daripada salak bali umumnya, namun rasanya terkenal paling manis diantara salak Bali lainnya. Harganya salak Bali bisa mencapai Rp.15.000,- sampai Rp.30.000,- per kilogramnya bergantung musim. Harganya tentu akan semakin mahal bila sedang bukan musim panen, sementara permintaan pasar tetap saja tinggi.
Selain salak Bali dan Pondoh, banyak jenis budidaya lain yang memiliki ciri khas rasa dan ukuran buah berbeda-beda. Namun masing-masing memiliki kegunaan yang sama. Bahkan di Cina, salak dijadikan bahan baku obat tradisional. Di Indonesia sendiri budidaya salak hanya baru sebatas untuk bahan konsumsi saja belum merambah pada dunia medis. Kalau saja telah bisa mengembangkan untuk keperluan medis, tentu saja permintaan buah salak akan semakin meningkat dengan sendirinya.
Manfaat Buah Salak
Secara tradisional di masyarakat kita sendiri sebenarnya secara terbatas buah Salak dikenal sebagai obat mencret. Karena sifat buahnya yang sepat itulah diyakini masyarakat secara turun-temurun yang dapat memampet mencret. Sehingga bila buang besar anda sedang tidak lancar, sangat dipantang untuk mengkonsumsi buah salak karena akan menyebabkan buang air besar anda semakin susah. Selain untuk pengobatan penyakit mencret, salak juga bisa dimanfaatkan untuk pembuatan manisan, asinan, bahkan keripik.
Dibanding dengan mengkonsumsinya langsung secara mentah, mengkonsumsi buah salak yang telah dibuat asinan, manisan atau keripik jauh lebih enak. Manisan buah salak misalnya rasanya manis buah tapi buahnya terasa semakin renyah dan empuk. Sementara ketika dimakan dalam bentuk asinan, rasa asin dan pedas menawarkan rasa buah salak yang khas yaitu agak sepet. Apalagi kalau dinikmati dalam bentuk keripik, rasa salaknya sudah benar-benar hilang.
Beberapa orang tidak suka menanam pohon salak disebabkan bentuk pohonnya yang penuh duri dan daunnya yang bersisik. Padahal jika mereka jeli, pohon salak dapat dimanfaatkan sedemikian rupa untuk anyaman ataupun pelindung (pagar) rumah. Ya, selain buahnya yang bisa dikonsumsi dan keperluan lainnya seperti yang telah disebutkan tadi, pohon salak yang tidak terlalu tinggi namun memiliki daun dan pelepah daun yang rimbun dan berduri, di beberapa daerah cukup baik dijadikan pagar hidup. Selain itu daun salak juga bisa dijadikan salah satu bahan untuk anyaman. Pengolahan daun salak untuk bahan anyaman sama saja seperti memanfaatkan daun kelapa, mendong maupun daun pandan yaitu bahan daun salak dibuang durinya, dikeringkan, lalu dipotong-potong sesuai dengan keperluan dan bentuk anyaman yang akan dibuat. Sejauh ini memang belum terlalu banyak yang memanfaatkan daun salak untuk keperluan bahan anyaman ini.
Duri yang terdapat pada pohon dan daun salak juga banyak dimanfaatkan orang untuk pagar. Caranya dipotong sesuai dengan keperluan tanpa menghilangkan durinya. Keberadaan duri salak yang dibiarkan ini justru sebagai salah satu pengaman agar pencuri enggak melewatinya. Namun tentu saja penggunaan pohon dan daun salak sebagai pagar ini hanya di kalangan tertentu saja terutama untuk memagari area perkebunan. Jadi, tidak bisa dimanfaatkan untuk tujuan komersial.
Begitulah keberadaan pohon salak, dari buanya sampai dengan daunnya tetap bisa dimanfaatkan bila jeli melihatnya sebagai peluang. Dalam hal budidaya salak juga tidak memerlukan keahlian khusus karena menanam pohon salak memang tidak terlalu menuntut perlakuan khusus. Pohon salak bisa ditumbuh pada daerah bersuhu sedang cenderung kering. Tanah yang baik untuk menanam pohon salak adalah tanah gembur yang kering. Di beberapa daerah pohon salak tidak menghasilkan buah yang manis dan optimal bila musim panennya berdekatan dengan musim hujan baik pada awal maupun pada akhir musim. Ini menandakan bahwa menanam pohon salak tidak membutuhkan curah air yang tinggi. Tentu saja menguntungkan ditanam di daerah-daerah yang agak jauh dari sumber air.

