Buaya Raksasa Kalimantan
Ilustrasi buaya raksasa kalimantan
Buaya raksasa Kalimantan adalah hewan pemangsa yang kuat. Buaya raksasa Kalimantan adalah golongan reptil air yang bisa hidup di dua alam. Buaya masih mempunyai kerabat dekat dengan hewan reptil purba, crocodilusuaurus, yaitu nenek moyang buaya yang mempunyai panjang hampir 30 meter. Namun karena pengaruh alam dan lingkungan, crocodilusaurus tubuhnya menyusut hingga menjadi buaya muara dengan ukuran maksimal empat meter dengan berat 200 kilogram.
Di kalimantan, tepatnya di desa Kenyamukan, Kutai Timur, ditemukan seekor buaya dengan panjang sembilan meter dengan berat 800 kilogram. Buaya raksasa kalimantan ini bukan sebuah cerita bualan atau mitos orang-orang kampung. Namun ini adalah buaya nyata, buaya yang di hidup selama bertahun-tahun di dalam sungai Kenyamukan dan menjadi legenda bagi orang-orang setempat, bahwa ada monser Sangatta yang menjadi momok bagi masyarakat setempat yang selalu memangsa banyak orang desa.
Wilayah Kenyamukan, Kutai, Kalimantan Timur adalah wilayah yang disinyalir memiliki korban terbanyak kedua dimangsa buaya setelah wilayah sungai Nil. Di Indonesia, Kenyamukan adalah wilayah yang berbahaya pertama yang dihuni banyak buaya raksasa Kalimantan, sehingga adanya korban dimangsa buaya di Kenyamukan adalah hal yang biasa.
Kemunculan Buaya Raksasa Kalimantan
Buaya pemangsa dari Sangatta diperkirakan yang mempunyai bobot lebih dari 800 kilogram ini ditemukan oleh pawang buaya bernama Arbain. Arbain mencoba menangkap buaya raksasa Kalimantan tersebut karena sudah meresahkan masyarakat dan sudah memangsa banyak korban. Salah satu korban terakhirnya adalah Sugiarto, bocah 13 tahun yang sedang bermain di dekat sungai yang hilang tiba-tiba dan ketika ditemukan, jasadnya sudah tercabik-cabik gigi buaya. Maka buayalah yang harus bertanggung jawab atas peristiwa ini.
Padahal, tak seorang pun yang melihat bagaimana Sugiarto dimangsa. Mungkin saja Sugiarto mati tenggelam karena terpeleset dan si buaya memakan ketika sudah jadi bangkai. Namun, kita perlu mencari kambing hitam dalam sebuah perkara agar jelas ujung pangkalnya dan buaya muaralah yang patut kita persalahkan karena dia adalah hewan terbuas di sungai Kenyamukan.
Arbain memancing buaya tersebut dengan bangkai seekor rusa. Tak pelak, buaya yang tak punya otak itu keluar dari sarangnya dan memakan umpan tersebut. Kemudian, Arbain menaklukannya dan mengikatnya. Saat tertangkap, buaya tersebut masih hidup, namun kemudian masyarakat ramai-ramai menghakiminya karena dianggap sudah banyak memangsa manusia.
Padahal, buaya yang ditangkap Arbain adalah golongan buaya langka. Buaya purba ini termasuk dalam golongan Crocodilus Porosus, yaitu buaya muara atau buaya air payau, yang memang ukuran sangat besar dan bisa terus tumbuh.
Setelah buaya tersebut tertangkap, masyarakat masih khawatir karena mungkin masih ada seekor buaya yang mungkin ukurannya lebih besar dari yang telah ditangkap oleh Arabin. Mungkin ukurannya dua kali lipat dari buaya betina yang telah tertangkap. Konon, ada yang pernah melihat buaya tersebut panjangnya 1/3 dari lebar sungai, sekitar 15 meter dengan mocong yang lebih besar daripada pongpong (perahu nelayan untuk menangkap ikan).
Buaya Raksasa Kalimantan - Buaya Terbesar di Dunia
Berdasarkan catatan rekor dunia, buaya terbesar pernah ditemukan di mangrove tepi laut kepulauan nusantara di pesisir pantai Australia. Buaya tersebut hanya mencapai 7 meter dengan berat 700 kilogram. Padahal, buaya yang ditemukan di Kalimantan ukurannya jauh lebih besar. Bahkan ada yang lebih besar lagi yang belum tertangkap. Adapun buaya yang terkenal buas dan besar yang lain adalah buaya sungai Nil atau Crocodylus Niloticus di afrika yang bisa mencapai panjang enam meter.
Muara sungai Kenyamukan ini memang cocok untuk habitat buaya raksasa Kalimantan. Daerah yang tenang dengan aliran sungai lambat dan dalam dan dipenuhi oleh hutan bakau yang padat menjadikan buaya senang untuk bersarang. Sayangnya, aktivitas pembangunan pemukiman penduduk dan membukaan lahan tambak udang dan ikan bandeng menjadikan ekosistem buaya terseret dan bentrok dengan ekositem manusia.
Itulah yang menjadi salah satu penyebab banyaknya kejadian manusia dimangsa oleh buaya. Daerah teritori buaya untuk memangsa binatang lain hilang, sehingga manusia menjadi sasarannya. Jadi, siapa yang harus disalahkan, buayakah yang memangsa manusia atau manusia yang mengambil alih daerah teritorial buaya?
Kita harus banyak merenung. Bukan mencari kambing hitam dan beberburu buaya yang tergolong hewan langka.
Penangkapan Buaya Raksasa Kalimantan
Pada 5 Maret 2011, buaya raksasa Kalimantan kembali berhasil ditangkap warga, buaya Sangatta namanya. Buaya raksasa Kalimantan ini ukuran tubuhnya besar sekali dan sangat berat. Buaya raksasa Kalimantan ini berhasil ditangkap setelah dipancing dengan menggunakan kulit kambing.
Warga sekitar, yaitu di Desa Sangkimah Lama, Sangatta Selatan, Kutai Timur, menangkap buaya raksasa Kalimantan yang berasal dari Sungai Sangkimah ini karena dianggap meresahkan dan seering memasuki kolong rumah warga. Wajar saja, Sungai Sangkimah yang dekat dengan rumah-rumah warga ini terkenal sebagai habitat buaya raksasa Kalimantan yang ganas.
Saat diukur, panjang buaya raksasa Kalimantan ini sekitar 4,3 meter, lebar perutnya sekitar 70cm, bentang kakinya sekitar 1,5 meter, dan moncong mulutnya sekitar 80cm dengan taring yang telah tanggal karena menabrak batu atau kayu. Warga sekitar yang menangkap buaya raksasa Kalimantan ini mengatakan bahwa mereka menangkap buaya raksasa Kalimantan ini karena telah meresahkan banyak warga, seperti memangsa ternak dan manusia pun sudah ada yang menjadi korban keganasan buaya rakasasa Kalimantan ini.
Informasi lainnya juga menyebutkan bahwa ayam, kucing, dan anjing peliharaan warga banyak yang hilang. Semua warga yakin bahwa binatang periharaan mereka dimangsa buaya raksasa Kalimantan tersebut karena hewan buas ini sering memasuki kolong rumah warga untuk mencari mangsa.
Walaupun kekuatan buaya raksasa Kalimantan ini jauh lebih kuat daripada manusia, warga sekitar memburunya dengan alat sederhana. Kulit kambing seberat 3kg dipakai sebagai umpan, sedangkan mata pancingnya terbuat dari besi yang dibengkokkan. Mata kailnya diikat menggunakan kawat dan disambungkan ke tali plastik, sedangkan di ujung tali dipasang jeriken yang kosong.
Penangkapan buaya raksasa Kalimantan ini cukup menegangkan karena buaya raksasa Kalimantan ini tetap melawan walaupun mulutnya sudah tersangkut mata pancing. Cara menjinakkannya adalah dengan cara menungganginya di dalam air lalu mulutnya diikat menggunakan tali plastik. Selanjutnya buaya raksasa Kalimantan ini diangkat ke darat oleh enam orang.
Buaya raksasa Kalimantan yang ditangkap kali ini adalah buaya yang keempat, tetapi ukurannya tidak sebesar buaya raksasa Kalimantan kedua yang ditangkap lalu diawetkan di Museum Tenggarong, Kutai Kartanegara. Buaya raksasa Kalimantan ini juga lebih kecil dari buaya yang ditangkap di Desa Manubar pada 2010.
Tertangkapnya buaya raksasa Kalimantan yang keempat ini tidak berarti warga sudah bebas beraktivitas di sungai. Menurut warga, masih ada satu lagi buaya raksasa Kalimantan yang sering muncul di muara sungai. Tapi, buaya raksasa Kalimantan ini sifatnya penakut dan tidak pernah meresahkan warga sekitar.
Hingga saat ini, keresahan warga akan buaya raksasa Kalimantan masih belum hilang. Banyak warga yang tidak berani mandi dan mencuci pakaian di sungai. Mereka takut menjadi korban keganasan buaya raksasa Kalimantan. Sejak 1999, empat nyawa telah melayang karena menjadi korban keganasan buaya raksasa Kalimantan.

