The Amish: Melihat Budaya Amerika Serikat dari Sisi Lain
Orang Amerika memang begitu modern. Tamasya ke bulan pun bukan impian lagi. Apapun bentuk modernitas kehidupan ada di Amerika. Namun, pernahkah berpikir bahwa masih ada sekelompok masyarakat Amerika yang berdiam di Ohio. Memilih untuk tidak larut dalam ke modernitasan tersebut dan tetap mempertahankan kehidupan tanpa listrik, tanpa hingar-bingar yang berbau teknologi.
Itulah kehidupan yang dipilih oleh suku Amish. Kehidupan kemasyarakan yang mirip dengan masyarakat Badui Dalam yang ada di di daerah Banten. The Amish membuat masyarakat di luar suku itu melihat budaya Amerika Serikat dari sisi lain.
Bila ingin membayangkan pakaian wanita masyarakat Amish, bayangkanlah pakaian abad ke-19. Wanitanya berpakaian sangat sederhana dengan gaun panjang hingga dengkul. Bahkan, hingga lutut dengan warna yang tidak mencolok, seperti putih, abau-abu, dan hitam.
Begitupun dengan pakaian prianya. Celana baggy bergasper, kemeja putih lengan panjang, dan bertopi. Sangat sederhana dan hampir tidak dapat dipercaya bahwa mereka hidup selama berabad-abad di Amerika yang ultra modern.
Suku Amish adalah penganut agama Kristen yang taat dan sangat ketat menjaga hubungan kekeluargaan. Apalagi, sudah menyangkut makan. Mereka wajib makan di meja yang sama. Suku Amish tidak memperbolehkan keluarga berencana hingga satu keluarga bisa memiliki 7-8 orang anak.
Setiap anak Amish diberikan waktu yang cukup apakah akan tetap menjadi Amish atau keluar dari Amish dan hidup seperti masyarakat kebanyakan. Sebelum dibaptis, anak tersebut masih bebas menentukan jalan hidupnya. Mereka masih diperbolehkan untuk merasakan kehidupan modern, seperti menggunakan mobil, telepon genggam, musik, dan sebagainya.
Namun, bila sudah dibaptis, dia harus menjalani kehidupan seperti suku Amish yang lain. Mereka harus memiliki komitmen yang teguh kepada gereja. Oleh karena itu, suku Amish tidak memilih pembaptisan di waktu bayi.
Pilihan untuk tidak menjalani kehidupan Amish disebut meidung atau keluar dari suku Amish. Bila pilihan ini yang diambil, semua komunikasi terputus dengan suku Amish. Menikah dengan orang yang bukan suku Amish pun sudah disebut meidung dan harus keluar dari komunitas Amish.
Kehidupan sederhana dari suku Amish tecermin dari tidak digunakannya listrik dan alat transportasi bermesin lainnya. Mereka menggunakan lampu minyak tanah sebagai penerangan. Bila tidak ada listrik, itu berarti tidak ada TV, radio, dan alat hiburan lainnya. Bosankah mereka menjalani hidup tanpa TV atau radio?
Ternyata, karena mereka masih harus memotong kayu, bercocok tanam, hingga mengolah makanan sendiri dari awal, hidup mereka sudah terasa sangat sibuk hingga tidak terpikirkan untuk mendapatkan hiburan dari TV atau radio.
Alat transportasi mereka masih menggunakan kuda. Mereka tidak ingin difoto. Jadi, bila berkunjung ke tempat komunitas Amish yang telah dijadikan objek wisata, jangan coba-coba menjadikan mereka atau properti mereka berupa rumah, kereta kuda, atau apapun sebagai objek ‘keanehan’ yang harus diabadikan.
Hal ini akan membuat mereka merasa terhina karena merasa apa yang mereka lakukan bukanlah suatu keanehan. Itu adalah pilihan hidup mereka. Mereka memang berusaha tidak terlalu banyak melakukan kontak dengan orang-orang di luar suku. Kalaupun akan mengabadikan, jangan memotret wajah mereka.
Walaupun terkesan sangat religius, mereka tidak mau merendahkan orang lain atau menganggap orang lain para pendosa. Bagi suku Amish, tidak ada satu orang pun boleh merasa lebih baik dari orang lain.
Kalau ingin bertanya, jangan bertanya kepada wanita Amish. Tanyalah kepada kaum prianya. Suku Amish sangat menghormati para wanitanya. Wanita Amish tidak berhias. Ini membuat mereka semakin tampak berbeda dengan sebagian wanita Amerika lainnya.
Kehidupan yang terkesan sangat bersahaja dengan lingkungan berbukit yang indah, suku Amish memang mengundang banyak orang penasaran untuk sekedar bertandang ke sana. Namun ingat, hormati mereka sebagai manusia biasa yang sama seperti kita.






