Budaya Batak

Anda salah mengira apabila orang Batak hanya tampak pada keras hati, mata melotot, sopir angkot, Ruhut Sitompul serta barisan pengacara kayaraya lainnya, atau orang-orang di pelabuhan.
Orang batak adalah pegunungan yang menjaga bumi tidak runtuh, keras hati mereka kehormatan, kegenitan mereka adalah banyak keturunan, dan kekayaan merupakan bagian dari falsafah hidup, sebagaimana apa yang ada di balik gunung.
Di balik semua itu ada kebaikan tidak bisa dihitungi, dan kekuatan untuk memuja Tuhan, sebagaimana Sisimangaraja XII pada masa itu, ketika Ibundanya ditawan penjajah Belanda. “Lakukan apa yang kalian mau, karena Allah lah yang menjaga Ibunda.”
Maka tidak heran hasil budaya Batak tampak pada kerumitan dan kecerdasan geometrikal yang tampak pada motif kain Ulos. Jika tidak punya keras hati dan daya juang tinggi, bukan Ulos yang dihasilkan barangkali hanya kain normal beli satu gratis tiga.
Lantas bisa Anda lihat, Sapa Godang, rumah batak yang berdiri tanpa sebiji paku, namun tahan gempa. Sejatinya, tidak ada nikmat Tuhan yang diingkari oleh orang batak yang berkualitas tinggi.






