Budaya Jawa dan Asal Kerajaan Demak
Berikut ini adalah sebuah tulisan yang akan menggambarkan sedikit budaya Jawa dan Asal kerajaan Demak.
Mengenal Kerajaan Demak
Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Fatah -atau disebut juga Pate Rodin oleh Tome Pieres- pada 1478. Raden Patah sendiri adalah anak kandung Raja Bre Kertabumi, Raja Majapahit. Karena senang anaknya kembali, Bre memberikan sebuah tempat bernama Bintoro pada Raden Fatah.
Di tempat tersebutlah Raden patah mendirikan Demak. Kemudian, menyerang kerajaan Majapahit dan memaklumatkan diri sebagai penguasa. Raden Patah menikah dengan tiga orang wanita dan memiliki beberapa anak, di antaranya adalah Pati Unus atau berjuluk Pangeran Sabrang Lor, Pangeran Seda Ing Lepen, dan Pangeran Trenggono.
Setelah Raden Patah meninggal pada 1518, tahtanya diwariskan pada Pati Unus yang memerintah hanya tiga tahun saja dan mati dalam perang menaklukkan Malaka. Saat itu kekuasaan kosong. Hal itu menimbulkan pertentangan antara Pangeran Seda Ing Lepen yang berusia lebih tua, namun lahir dari istri ke tiga, dan pangeran Trenggono yang lebih muda, namun lahir dari istri pertama.
Karena menginginkan tahta, Pangeran Prawata yang merupakan putra Raden Trenggono menghabisi Pangeran Seda Ing Lepen, berarti pewaris tahta berkurang, maka naiklah Pangeran Trenggono menjadi sultan Demak ketiga (1521).
Pemerintahan Pangeran Trenggono berjalan lama, dan kerajaan Demak mengalami masa jayanya. Sultan Trenggono memerintah Demak selama 25 tahun. Pada tahun 1546, sultan ini meninggal karena sakit. Tahtanya diwariskan pada putra sulungnya Pangeran Prawata, namun Arya Penangsang yang merupakan Adipati Jipang merasa dendam atas kematian ayahnya.
Dia membunuh Pangeran Prawata dan membakar habis Keraton Demak. Menantu Pangeran Prawata menuntut balas, dia menyerang balik Arya Penangsang dan membunuhnya, lalu atas kebijaksanaannya memutuskan untuk mendirikan kerajaan Pajang. Maka, berakhirlah dinasti Demak yang hanya bertahan selama 71 tahun saja.
Lahirnya Para Sunan
Kerajaan Demak identik dengan masuknya Islam di Jawa. Ditambah lagi, saat Demak berdiri, saat itulah sembilan wali bergerak di negara Demak, wilayahnya melingkupi daerah Jawa Tengah sampai Timur. Terutama berpusat di Timur. Para sunan ini disebut Wali Songo, mereka banyak merubah fitur Budaya Jawa yang banyak dipengaruhi dengan Budaya Hindu.
Misalnya, ketika Sunan Bonang menggubah kesenian musik Jawa yang lebih banyak berisi lagu-lagu persembahan bagi para Dewa dan leluhur, menjadi lagu-lagu bernuansa Islam yang lebih mengedepankan tata cara beribadah atau bagaimana mengingat Allah.
Budaya ini sendiri kemudian menjadi salah satu budaya Jawa yang cukup kuat di daerah sekitar Jawa Tengah sampai Timur.
Budaya Jawa Sekarang
Budaya Jawa di zaman sekarang masih penuh dengan mitos-mitos sendiri. Bahkan, orang-orang Jawa masih meyakini adat istiadat dan upacara mereka sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Misal, budaya tujuh bulanan ketika seorang wanita hamil tujuh bulan, budaya siraman ketika hendak menikah, budaya nincak tanah untuk bayi yang baru belajar jalan dan masih banyak lagi.
Awalnya budaya tersebut punya sebab musababnya, namun belakangan sebabnya menghilang dan yang tersisa tinggal kebiasaan saja. Banyak orang yang mengerjakan hal-hal tersebut tidak memahami sebab kenapa adanya budaya itu.






