logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Budaya    Budaya Jawa

Budaya Jawa dan Asal Kerajaan Demak


Ilustrasi budaya jawa dan asal kerajaan demak

Narasi antara budaya Jawa dan asal Kerajaan Demak, ibarat dua sisi matang uang yang tak bisa dipisahkan. Budaya Jawa menjadi latar belakang berdirinya Kerajaan Demak dan budaya Jawa kemudian mengalami pergeseran dengan pengaruh Islam, setelah Kerajaan Demak berdiri. Dengan demikian maka antara budaya Jawa dan asal Kerajaan Demak sungguh tak bisa dipisahkan. Namun tentu saja bicara budaya Jawa tak selalu mengarah kepada asal Kerajaan Demak. Sebaliknya, ketika berbicara masalah asal Kerajaan Demak, tak bisa dipisahkan dari budaya Jawa. Budaya Jawa demikian kental dalam proses berdirinya Kerajaan Demak, baiksecara fisik maupun dalam bentuk konsep.

Sungguh menarik ketika membicarakan budaya Jawa dan asal Kerajaan Demak ini, terutama pada titik bagaimana sebuah peralihan kekuasaan dalam kultur Jawa, beralih dari Hindu-Budha menjadi Islam. Memang benar dalam perjalanan sejarah Islam di Indonesia terutama Jawa, masuk dengan cara damai hampir bisa dikatakan tanpa gejolak berarti. Agama baru yang bernama Islam itu sampai ke Indonesia dibawa oleh para pedagang dari Gujarat, Pakistan dan Hadramaut Yaman, tersebar kepada para petani dan pelayan sampai akhirnya masuk ke dalam istana baik secara langsung maupun dengan perantara perkawinan. Sebagai agama baru, Islam, diterima di tanah Jawa terutama karena dalam berbagai hal dicoba dipadukan, melalui proses akulturasi budaya. Berbagai latar itulah yang kemudian juga akan mewarnai ketika berdirinya Kerajaan Demak. Itulah yang terjadi ketika kita membicarakan narasi budaya Jawa dan Asal kerajaan Demak.

Mengenal Kerajaan Demak

Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Fatah pada tahun 1478. Dalam catatan perjalanan Tom Pieres, pendiri Kerajaan Demak ini ditulis dengan nama Pate Rodin.  Raden Patah sendiri lahir dari kultur budaya Jawa yakni Kerajana Majapahit. Itulah kenapa ketika membicarakan budaya Jawa dan asal Kerajaan Demak, memang tak bisa dipisahkan. Seperti kita ketahui bahwa Raden Patah sendiri adalah anak kandung Raja Bre Kertabumi, Raja Majapahit. Pada suatu masa Raden Patah pergi berguru ke berbagai penjuru sampai akhirnya ia kembali ke tanah Jawa. Karena senang anaknya kembali itulah kenapa  Bre Kertabumi memberikan sebuah tempat bernama Bintoro pada Raden Fatah. Bre Kertabumi sendiri memberikan tanah itu sebagai rasa kasih sayangnya, dan tak perbah berpikir bahwa kelak dari tempat itulah berdiri kerajaan Islam, yang justru turut mengoyak kekuasaan Kerajaan Majapahit sebagai pusat budaya Jawa dan berlatar belakang agama Hindu-Budha. 

Di tempat tersebutlah Raden patah mendirikan Demak. Kerajaan Demak kemudian membangun dan mengembangkan diri sampai pada suatu masa setelah merasa kuat, menyerang Kerajaan Majapahit dan memaklumatkan diri sebagai penguasa. Raden Patah menikah dengan tiga orang wanita dan memiliki beberapa anak, di antaranya adalah Pati Unus atau berjuluk Pangeran Sabrang Lor, Pangeran Seda Ing Lepen, dan Pangeran Trenggono. Inilah babak baru dalam budaya Jawa bahwa sebuah kerajaan yang dipegang orang tuanya diserang dan kemudian takluk kepada kerajaan yang dipimpin oleh anaknya sendiri. Dari realita sejarah ini kemudian memunculkan berbagai spekulasi terhadap masa depan budaya Jawa sendiri. Apakah budaya Jawa akan tetap berdiri, atau justru akan terpengaruh dengan berdirinya Kerajaan Demak yang telah berhasil menaklukan Kerajaan Majapahit. 

Setelah Raden Patah meninggal pada 1518, tahtanya diwariskan pada Pati Unus yang memerintah hanya tiga tahun saja dan mati dalam perang menaklukkan Malaka. Saat itu kekuasaan kosong. Hal itu menimbulkan pertentangan antara Pangeran Seda Ing Lepen yang berusia lebih tua, namun lahir dari istri ke tiga, dan pangeran Trenggono yang lebih muda, namun lahir dari istri pertama.

Karena menginginkan tahta, Pangeran Prawata yang merupakan putra Raden Trenggono menghabisi Pangeran Seda Ing Lepen, berarti pewaris tahta berkurang, maka naiklah Pangeran Trenggono menjadi sultan Demak ketiga (1521). Itulah kemudian budaya Jawa dan asal Kerjaan Demak menjadi sangat kental dan tak terpisahkan. Apa yang terjadi dengan Kerajaan Demak, secara umum juga turut mempengaruhi budaya Jawa. Budaya Jawa dan asal Kerajaan Demak menjadi dua hal yang turut mempengaruhi perjalanan penyebaran agama Islam di Indonesia. 

Pemerintahan Pangeran Trenggono berjalan lama, dan Kerajaan Demak mengalami masa jayanya. Kejayaan Kerajaan Demak ini juga menjadi warna tersendiri ketika kita membicarakan budaya Jawa dan asal Kerjaan Demak. Dalam sejarah dicatat bahwa Sultan Trenggono memerintah Demak selama 25 tahun. Pada tahun 1546, sultan ini meninggal karena sakit. Tahtanya diwariskan pada putra sulungnya Pangeran Prawata, namun Arya Penangsang yang merupakan Adipati Jipang merasa dendam atas kematian ayahnya. Dia membunuh Pangeran Prawata dan membakar habis Keraton Demak. Menantu Pangeran Prawata menuntut balas, dia menyerang balik Arya Penangsang dan membunuhnya, lalu atas kebijaksanaannya memutuskan untuk mendirikan Kerajaan Pajang. Maka, berakhirlah dinasti Demak yang hanya bertahan selama 71 tahun saja.

Membicarakan budaya Jawa dan asal Kerajaan Demak juga berarti kita akan sampai pada satu titik dalam rentang panjang perjalanan sejarah Indonesia dan Islam di Indonesia, yakni perebutan tahta antara anak dan orang tua, anak dengan anak tiri, terjadi dan menjadi bagian dari budaya Jawa kelak. 

Lahirnya Para Sunan

Kerajaan Demak identik dengan masuknya Islam di Jawa. Ditambah lagi, saat Demak berdiri, saat itulah sembilan wali bergerak di negara Demak, wilayahnya melingkupi daerah Jawa Tengah sampai Timur. Terutama berpusat di Timur. Para sunan ini disebut Wali Songo, mereka banyak merubah fitur Budaya Jawa yang banyak dipengaruhi dengan Budaya Hindu. Namun perubahan itu terjadi tidak secara material tapi lebih kepada muatan secara esensial. Sehingga masyarakat Jawa sendiri pada waktu itu tidak terlalu kaget dan bahkan nyaris tak merasa bahwa mereka sedang berubah. Nilai-nilai baru dari agama Islam dikawinkan secara harmonis, maka muncullah kemudian tradisi dan budaya Jawa yang telah tersentuh nilai-nilai luhur Islam.

Misalnya, ketika Sunan Bonang menggubah kesenian musik Jawa yang lebih banyak berisi lagu-lagu persembahan bagi para Dewa dan leluhur, menjadi lagu-lagu bernuansa Islam yang lebih mengedepankan tata cara beribadah atau bagaimana mengingat Allah.

Budaya ini sendiri kemudian menjadi salah satu budaya Jawa yang cukup kuat di daerah sekitar Jawa Tengah sampai Timur.

Budaya Jawa Sekarang

Budaya Jawa di zaman sekarang masih penuh dengan mitos-mitos sendiri. Bahkan, orang-orang Jawa masih meyakini adat istiadat dan upacara mereka sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Misal, budaya tujuh bulanan ketika seorang wanita hamil tujuh bulan, budaya siraman ketika hendak menikah, budaya nincak tanah untuk bayi yang baru belajar jalan dan masih banyak lagi.

Awalnya budaya tersebut punya sebab musababnya, namun belakangan sebabnya menghilang dan yang tersisa tinggal kebiasaan saja. Banyak orang yang mengerjakan hal-hal tersebut tidak memahami sebab kenapa adanya budaya itu. Memang benar semua itu terjadi salah satunya adalah belum tuntasnya pekerjaan para Wali Songo untuk mengharmonisasi antara tradisi dan budaya lama Jawa dengan nilai-nilai Islam. Maka kemudian lahirlah budaya Jawa seperti yang sekarang ini. Budaya Jawa dan asal Kerajaan Demak, semestinya memberi kesadaran baru bahwa budaya Jawa telah berubah atau setidaknya telah berubah warna. 

 


Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Menapaki Sejarah Kerajaan Sriwijaya
  • Sekilas Tentang Kehidupan Masyarakat Jawa
  • Baik Buruk Gambaran Primbon Jodoh
  • Sekilas Tentang Ruwahan
  • Makalah Kebudayaan Jawa: �Ronggo Warsito Pujangga Klasik Terakhir
  • Ramalan Jodoh Weton
  • Naskah Bahasa Jawa Darmogandhul dan Gatholoco
  • Batik dalam Falsafah Kebudayaan Suku Jawa
  • Mengenal Karakter Pribadi Orang Berdasarkan Ramalan Jawa
  • Dibalik Makna Tanggal Lahir
  • Geliat Lagu Pop Jawa Semakin Mendapat Tempat di Masyarakat
  • Belajar Pidato Bahasa Jawa Krama
  • Mengenal Tradisi Ruwatan
  • Tokoh-Tokoh Wayang Kulit Secara Lengkap
  • Ruwatan - Upacara Adat Jawa
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA