Budaya Melayu

Berbangga hatilah dunia, dan berlega hatilah manusia yang hidup di Bumi. Karena mereka memiliki suku bangsa Melayu. Suku bangsa pendiam di antara wilayah hulu dan hilir sungai, di pusat ketika Matahari tegak berada di atas kepala manusia, di rimba belantara yang tiada habis kebijaksanaan mengiringi dua musim khatulistiwa.
Terpisah sanak dari lautan dan samudera, orang tengah berpantun merindukan kampung halamannya. Bangsa ini menjaga hutan dan alam sebagai bagian kosmologi hidupnya. Terjagalah paru-paru dunia dari kesesatan Industri modern, ketika Eropa berbondong-bondong membesi-baja hidup mereka.
Padahal ilmu navigasi, pelayaran, pertanian, dan hukum etis tidak kalah hadir sebagai budaya luhung setanding dengan Hellenik Yunani. Sastra, tari, langgam, selalu menggambarkan dan merayakan kepandiran. Kepandiran itu adalah membuang emas ke laut dan sungai demi sanak saudara dan pelukan ibunda. Karena bagi budaya Melayu, harta sejati adalah senyum sesamanya.






