Budidaya Perkebunan

Hampir separuh (45%) wilayah Indonesia adalah daerah perbukitan dan pegunungan yang dicirikan dengan topo-fisiografi yang sangat beragam, menjadi peluang dalam pengembangan budidaya perkebunan di lahan pegunungan karena memiliki posisi strategis dalam pembangunan pertanian nasional, yang selain memberikan manfaat bagi jutaan petani, lahan pegunungan juga berperan penting dalam menjaga fungsi lingkungan daerah aliran sungai (DAS) dan penyangga daerah di bawahnya.
Berbagai tanaman perkebunan seperti kopi, teh, kina dan berbagai jenis buah-buahan juga banyak diproduksi di lahan pegunungan. Di lahan pegunungan, budidaya perkebunan dihadapkan kepada faktor pembatas biofisik seperti lereng yang relatif curam, kepekaan tanah terhadap longsor dan erosi, curah hujan yang relatif tinggi dan lain-lain.
Kesalahan dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya lahan di daerah pegunungan dapat menimbulkan kerusakan berupa degradasi kesuburan tanah dan ketersediaan air yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di lahan pegunungan tetapi juga di dataran rendah. Diterapkannya pengelolaan lahan pegunungan yang tepat guna dan tepat sasaran melalui teknologi sistem usahatani konservasi, dapat memberikan keuntungan secara ekonomi dan melindungi lingkungan secara simultan sehingga pembangunan pertanian dan pembangunan ekonomi secara berkelanjutan dapat terwujud.






