Cara Membangkitkan Tenaga Dalam: Ada Nggak, Ya?

Masih ada saja orang yang ingin menjadi hebat. Kebal senjata, tak tersentuh bila mau diserang, tak mempan api, bisa menyerang dari jarak jauh, bisa makan beling, kaca, barang-barang tajam lainnya tanpa terluka. Apa yang mereka lakukan? Mencari cara membangkitkan tenaga dalam. Tapi sebenarnya ada gak sih tenaga dalam seperti itu?
Jawabannya, ada. Tapi dengan bantuan jin. Kok bisa? Rasulullah aja yang merupakan manusia termulia yang bisa minta apa aja kepada Allah, bisa terluka. Giginya pernah tanggal dalam sebuah peperangan. Kulitnya terluka parah. Tidak pernah ada cerita bahwa Rasulullah itu kebal senjata atau mempunyai tenaga dalam tertentu dengan bacaan tertentu juga. Tidak ada hadits atau ayat Al-Quran yang menyuruh umat Islam mencari tenaga dalam.
Apa yang terjadi ketika ada yang mampu melakukan hal-hal di luar nalar? Dia pasti melakukan sesuatu. Bisa saja dengan cara mengikuti ritual tertentu dari perguruan tertentu. Biasanya, perguruan ini adalah perguruan bela diri atau perguruan yang mengaku bisa menginisiasi seseorang sehingga auranya terbuka atau cakranya terbuka.
Islam tidak mengenal kata cakra atau aura. Kharisma seseorang didapat dari ilmu yang dia punyai. Bukankah Allah meninggikan derajat orang yang berilmu? Berilmu yang manfaat bukan ilmu hitam yang menyalahgunakan ayat-ayat Allah untuk kepentingan yang bertentangan dengan perintah Allah.
Beribu Syarat
Anehnya lagi, membangkitkan tenaga dalam itu ada syaratnya. Membayar. Lucu aja. Kalau memang Allah telah memberikan tenaga dalam kepada semua umatnya, pasti semuanya ada dalam hadits dan Al-Quran. Kayaknya, kemampuan fisik luar biasa seperti yang dimiliki oleh para ahli kungfu, seharusnya didapatkan dari latihan fisik selama bertahun-tahun.
Tidak dengan hanya 3 bulan latihan atau hanya dengan mengikuti seminar sehari, sudah bisa mendapatkan tenaga dalam. Apalagi bila pembukaan cakra dan aura itu diikuti dengan kemampuan penyembuhan untuk segala macam penyakit. Dokter dan bidan rumah sakit jadi tidak laku lagi, dong?
Kesimpulannya adalah tidak ada cara membangkitkan tenaga dalam yang dimaksudkan untuk bisa kebal atau mempunyai kemampuan di luar nalar. Kecuali, cara itu pasti menggunakan bantuan jin. Walaupun bacaan yang digunakan menggunakan ayat-ayat Al-Quran, tetap saja penggunaan ayat-ayat suci itu bukan pada tempatnya.
Ayat-ayat Al-Quran memang bersifat syifa’ atau penyembuh, tetapi ada tata cara syariah bagaimana memanfaatkannya. Misalnya, dengan rukyah syariah. Itu pun harus sangat hati-hati menentukan mana yang rukyah syariah, mana yang asal pakai kata syariah.
Kembali pada cara membangkitkan tenaga dalam. Biasanya yang ingin mendapatkan tenaga dalam harus puasa, membaca bacaan tertentu beberapa kali, melakukan pantangan ini dan itu, melakukan gerakan tertentu. Setelah itu, dibawa ke seorang guru yang katanya bisa membuka cakra, aura, atau mentransfer tenaga dalam dan mengaktifkannya.
Lalu, diberi jimat atau hafalan tertentu yang harus dibaca pada waktu tertentu juga. Setelah itu, dites dengan pedang tajam atau dipukul dari jarak jauh. Tidak jarang sang murid ragu. Tapi, sang guru berusaha meyakinkan. Kalau mau naik tingkat, tinggal ikut ujian dengan membayar sejumlah uang. Seru juga. Tenaga dalam diperdagangkan.
Sudahlah, jadi orang biasa saja. Nggak enak, kan, kalau terlalu hebat. Sama dengan orang kebanyakan itu tenang dan santai. Tidak merasa diri berbeda dari orang lain. Kita berbeda dalam hal ilmu dan ketakwaan aja deh. Terus berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan dan tidak perlu tenaga dalam segala.






