Cara Menangani Limbah Cair Industri
Ilustrasi cara menangani limbah
[kwd]Cara menangani limbah[/kwd] industri bisa jadi merupakan masalah krusial bagi industri menengah dan kecil, mengingat proses tersebut memerlukan biaya operasional yang cukup tinggi. Itu sebabnya, tidak seperti industri besar yang biasanya memiliki unit pengolahan limbah terpadu, pada industri menengah kecil, limbah industri sering tidak dikelola secara maksimal.
Mencari Cara Menangangi limbah cair
Semua industry pasti mempunyai persoalan dengan limbah. Volume limbah menyesuaikan dengan tingkat produksinya. Semakin tinggi sebuah sistem produksi berjalan, limbah pun semakin banyak dihasilkan. Mengatasi persoalan limbah bukanlah perkara gampang, apalagi cara menangani limbah cair hasil produksi, harus membangun area khusus penampungan limbah.
Limbah cair merupakan bahan yang berbahaya bagi lingkungan hidup maupun manusia. Oleh karena itu sebaiknya harus dicarikan cara menangani limbah cair agar tak menambah masalah lingkungan maupun konflik dengan masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik. Solusinya ada dua cara membangun instalasi penjernihan limbah cair atau penyaringan air limbah beracun. Berikut ini merupakan dua cara menangani limbah cair yang diaplikasikan oleh investor.
- Membuat IPAL
Salah satu cara menangani limbah cair adalah membangun instalasi penjernihan air limbah atau yang lebih populer disingkat IPAL. Sekarang IPAL menjadi keharusan untuk dibangun bersamaan dengan pendirian pabrik / industry. Lokasi IPAL berada tak jauh dari pabrik.
IPAL terdiri dari beberapa kolam yang berfungsi menjernihkan air limbah yang tadi kotor menjadi air bersih dalam artian tak sudah tak mengandung bahan kimia berbahaya. Untuk mengetahui apakah air yang sudah disaring benar-benar bersih dari racun, terlebih dahulu wajib melewati uji laboratorium. Uji laboratorium itu dilakukan secara periodik agar kwalitas air hasil pengolahan IPAL bisa dijaga.
- Memakai bahan ramah lingkungan
Opsi kedua adalah menggunakan bahan-bahan cair yang ramah lingkungan. Misalnya untuk usaha pembuatan batik bisa menggantikan zat pewarna kimia dengan pewarna alami. Demikian juga dengan bahan –bahan lain sebaiknya dicarikan solusi lain yang lebih ramah lingkungan, dan limbahnya pun lebih gampang netralisir.
Sumber limbah cair
Pada setiap proses produksi pasti muncul limbah baru seperti limbah cair maupun limbah padat/
Limbah-limbah tersebut biasanya muncul sebagai akibat dari proses pembuatan barang menjadi bahan setengah jadi maupun bahan jadi.
- Coating / pelapisan
Industri pelapisan menggunakan cairan asam basa yang mengandung sianida. Biasanya terdapat pada larutan pembilas, dan biasanya dibuang begitu saja, tanpa ada penetralan air.
- Pelarutan
Proses pelarutan lemak pada industri kulit. Biasanya pelarut lemak dan pembilasnya mengandung silene, tertrakloro-etilena, metilen klorida, aseton, keton, dan sebagainya. Industri penyamakan kulit terkenal paling banyak menggunakan zat cair dan air sebagai media utama untuk memroses kulit.
- Pewarnaan Tekstil
Industry pewarnaan tekstil terutama pada batik dan kain, yang menggunakan air untuk membasuh kain yang sudah di warnai. Air basuhan tekstil kebanyakan berwarna tergantung jenis warnanya, dan kandungan air limbah ini terdapat zat kimia berbahaya yang bisa meracuni biota di sungai, maupun laut.
Pengolahan Limbah Cair
Agar limbah cair tidak membahayakan lingkungan, sebelum dibuang, limbah tersebut harus diproses terlebih dahulu untuk menghilangkan logam, asam, alkali, sianida dan pelarut berbahaya. Diperlukan cara-cara yang berbeda untuk masing-masing komponen. Karena itu, aliran limbah harus dibedakan dalam proses produksi agar penanganannya lebih optimal.
Biasanya, dalam proses pengolahan limbah, sianida dihancurkan dengan proses oksidasi, sedangkan asam basa dihancurkan dengan menggunakan gas hipoklorit. Kolam-kolam oksidasi sering digunakan di dalam industri besar untuk melakukan penghancuran sianida secara alami. Sayangnya, kendati hasilnya lebih baik, proses ini membutuhkan ketersediaan lahan dalam jumlah besar.
Krom harus direduksi dulu sebelum diendapkan. Atau bisa juga melalui proses oksidasi langsung dan pengendapan dengan natrium hidrosulfat atau hidrazin. Sedangkan logam diendapkan dengan menambahkan kapur atau kostik.
Tahap Pengolahan
Proses pengolahan limbah cair pada prinsipnya melewati beberapa tahapan sebagai berikut:
a. Tahap Pengolahan Primer
Pada tahap ini, sebagian besar pengolahan merupakan proses fisika. Limbah disaring, disalurkan ke bak khusus untuk memisahkan partikel padat seperti pasir dan material lainnya.
b. Tahap Pengolahan Sekunder
Pada tahap ini mulai dilakukan proses biologis dengan melibatkan mikroorganisme pengurai, biasanya berupa bakteri aerob. Proses tersebut meliputi metode penyaringan, metode lumpur aktif, dan metode kolam ganggang.
Pada metode penyaringan, limbah cair disemprotkan ke permukaan media dan dibiarkan merembes. Bakteri aerob akan mendegradasi kandungan organik dalam limbah selama proses perembesan. Setelah itu, limbah yang telah terdegradasi tersebut disalurkan ke tangki pengendapan.
Dalam tangki pengendapan tersebut, dilangsungkan proses pemisahan partikel padat tersuspensi dengan air limbah. Partikel padat akan diolah lebih lanjut, sedangkan air limbah dibuang ke lingkungan, kecuali jika masih diperlukan proses pengolahan lanjutan.
Pada metode lumpur aktif, limbah cair langsung disalurkan ke dalam tangki berisi lumpur yang telah diberi bakteri aerob dalam jumlah besar. Limbah dibiarkan di dalam tangki selama beberapa jam dengan penambahan gelembung udara (oksigen) untuk proses degradasi. Selanjutnya, limbah menjalani proses pengendapan seperti di atas.
Adapun metode kolam ganggang adalah metode yang paling efisien tapi memakan waktu lebih lama. Caranya, limbah cair ditampung dalam kolam-kolam terbuka berisi ganggang. Ganggang tersebut menghasilkan oksigen yang kemudian digunakan oleh bakteri aerob untuk mendegradasi limbah. Di dalam kolam tersebut sekaligus terjadi proses pengendapan.
c. Tahap Pengolahan Tersier
Pengolahan tahap ini dilangsungkan jika proses sebelumnya tidak bisa mensterilkan limbah cair dari kandungan senyawa berbahaya. Pengolahannya bersifat khusus, menyesuaikan dengan sisa senyawa dalam limbah.
Biasanya, zat yang lolos dari tahap sekunder adalah nitrat dan fosfat. Tahap pengolahan lanjutan ini meliputi proses kimia dan fisika. Sayang, tahap ini jarang sekali dilakukan karena memerlukan biaya operasional cukup tinggi.
Efek samping limbah cair
Limbah cair yang terbuang ke sungai memicu timbulnya bencana ekologi dan mengganggu kesehatan manusia. Bayangkan saja limbah kimia dari pabrik pengolahan kulit volumenya begitu banyak kalau tak digelontor begitu saja, bisa membunuh bioata di sungai maupun di laut.
Berikut ini merupakan deretan efek buruk dari pengelolaan limbah cair yang tak sesuai prosedur :
- Air sungai tercemar polusi
Ya, yang pasti setelah air sungai tercemar polusi dan kotor, akhirnya fungsi sungai menjadi menurun. Tadinya sungai menjadi sumber air bersih oleh PDAM tapi karena kondisi sungai yang begitu polutan akhir PDAM mengeluarkan biaya lebih guna menambah proses penjernihan lagi agar airnya layak dipakai oleh manusia. Namun apabila sungai yang sudah polutan airnya, tentu tak bisa dikonsumsi oleh manusia maupun hewan ternak.
- Biota sungai dan laut tercemar merkuri
Tambang emas liar yang produksinya menggunakan air raksa, seperti yang terjadi di Kalimantan dan Papua. Penggunaan air raksa yang serampangan bisa meracuni tanah dan perairan sungai. Air raksa yang sifatnya tak bisa larut dalam tanah maupun air, bisa mencemari air dan biota sungai., seperti plangkton dan udang kecil-kecil. Jika plangton ini dimakan ikan otomatis zat merkuri ini masuk dalam peredaran darah dan daging ikan. Padahal jika ikan-ikan yang hidup di perairan tercemar tak bisa dikonsumsi manusia, karena mengandung mercuri atau timbale hitam.
Misalnya kerang atau ikan yang hidup diperairan Jakarta, Semarang dan Surabaya ternyata kandungan timbal hitamnya sangat tinggi, bahkan di atas ambang batas. Biota laut ini tercemar logam berat karena limbah cair yang dibuang oleh industri –industri di Jakarta. Jika kerang dan ikan dimakan oleh manusia bisa memicu serangkaian penyakit berbahaya.
- Pemicu kanker
Limbah cair yang dibuang di sungai secara tak langsung dapat menimbulkan penyakit berbahaya pada manusia. Salah satunya adalah kanker pencernaan, kanker getah bening dan lain sebagainya. Padahal kanker adalah penyakit yang sulit disembuhkan dan biaya pengobatannya amat mahal.
- Penyakit kulit
Masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai memiliki potensi terkena penyakit kulit, jika memakai air sungai untuk dijadikan sebagai kebutuhan sehari-hari misalnya mencuci, mandi, dan lain sebagai. Limbah cair yang terkandung dalam aliran air sungai bisa merusak kulit, seperti terbakar, gatal-gatal dan merusak pigmen kulit.
Demikianlah sekilas tentang cara menangani limbah cair agar tak menganggu ekosistem sungai dan merusak kesehatan manusia.

