Kearifan Lokal dan Cara Penanggulangan Gempa Bumi
Lama tinggal di Yogyakarta membuat penulis sangat tahu bagaimana paniknya menghadapi gempa bumi, bagaimana bisa menikmati goyangan gempanya, dan bagaimana cara penanggulangan gempa bumi. Gempa yang terdahsyat yang pernah terjadi di Yogyakarta adalah pada 2006.
Setelah itu masyarakat Yogyakarta mulai sangat menyadari bahwa tanah tempat mereka tinggal adalah lempengan yang setiap detik bisa saja berdisko tanpa aba-aba kapan akan bergoyang. Ditambah gempa yang disebabkan gunung Merapi yang muntah api. Wah, semakin seru lagi cara penanggulangan gempanya.
Ketika pada 1907 Aceh digoyang gempa bumi yang cukup keras, masyarakat Aceh mulai memiliki keyakinan ‘Ngalion fesang smong’ (setelah gempa besar akan datang tsunami). Tapi, entah mengapa setelah hampir satu abad, keyakinan itu menjadi berkurang.
Buktinya, pada 2004, Aceh digoyang gempa yang maha dahsyat, sedikit sekali masyarakat yang sadar bahwa setelah gempa dahsyat akan datang tsunami. Waktu laut surut mereka malah berbondong-bondong mengamati laut.
Sekaranglah saatnya mulai memasyarakatkan lagi budaya cerita terutama yang menyangkut bencana alam yang mungkin saja akan terjadi atau sudah sering terjadi sehingga cerita tersebut untuk mengantisipasi keadaan.
Setelah gempa bumi 2006, masyarakat Yogyakarta mulai sangat sadar kualitas bangunan. Tidak dapat dipungkiri bahwa korban berjatuhan karena tertimpa bangunan yang tidak berkualitas. Tidak hanya kaum bapak tapi juga kaum ibu dan anak-anak mulai mempelajari bagaimana membuat bangunan tahan gempa.
Bangunan yang dulunya asal-asalan, kini mulai dibenahi. Penggunaan bambu yang mudah didapatkan di Yogya, mulai dipakai lagi. Tak ada rasa malu lagi bila mempunyai rumah berdinding gedeg (anyaman bambu), beratap ijuk. Tinggal dimodifikasi di sana-sini, maka jadilah rumah tradisional bercitarasa modern.
Cerita tentang bagaimana menghadapi gempa sudah diajarkan sejak di Taman Kanak-kanak. Dongeng tentang gempa dan apa yang harus dilakukan ketika ada gempa, juga secara berkala dipraktikan di sekolah-sekolah.
Misalnya, di sebuah kursus bahasa Inggris di Yogyakarta, langkah-langakah yang harus diambil ketika gempa, ditempel di kelas-kelas dan setiap guru harus memberikan pengarahan dan mempraktikan langkah-langkah tersebut dalam bahasa Inggris.
Misalnya, bersembunyi di bawah meja, berjalan perlahan ke arah tangga, tidak panik secara berlebihan dengan cara berteriak-teriak, tidak saling dorong, dan lain-lain.
Bersahabat dengan gempa memang tidak mudah. Tapi latihan evakuasi dan penyampaian yang menarik akan membuat penyadaran akan bahaya gempa dan penanganannya akan terasa mudah.
Di tahun 90-an ketika gempa Liwa, Lampung terjadi, masyarakat Indonesia kaget. Begitu banyak korban jiwa karena tertimpa reruntuhan. Lalu, terlihatlah beberapa bangunan tua yang tidak goyah oleh gempa. Rumah panggung dengan penyangga yang diberi batu.
Sehingga saat tanah bergoyang, batu tersebut juga bergoyang tapi tidak menyebabkan rumah roboh. Pelajaran yang sangat berharga dari nenek moyang kita, harusnya tetap harus dilestarikan. Begitu juga dengan orang-orang Papua yang mempunyai kemampuan mendengarkan bunyi bumi dengan cara menempelkan telinga ke tanah.
Hal-hal seperti ini hendaknya ditularkan kepada ‘generasi chatting’ saat ini. Ini adalah seni dan keterampilan menyelamatkan diri dari gempa bumi yang tetap harus dimasyarakatkan hingga kapan pun. Jangan sampai kehidupan modern membuat kita terlena dan lupa akan kearifan lokal.






