Cara penanggulangan Tsunami yang Efektif
Akhir-akhir ini cara penanggulangan tsunami di negeri ini menjadi signifikan urgensinya. Pasca terjadinya tsunami di Aceh tahun 2004 silam, kemudian di Pangandaran, Cilacap, Parangtritis 2006 silam, sampai terakhir di Mentawai membuat pendidikan penanggulangan bencana tsunami wajib di kuasai oleh segenap masyarakat mengingat letak geografis Indonesia yang dikelilingi oleh lautan.
Indonesia hampir sama dengan Jepang yang rawan tsunami. Bedanya jika jepang sudah mapan cara penanggulangan tsunaminya, Indonesia masih tertatih-tatih. Beberapa kali kejadian tsunami rupanya masih belum bisa mendidik secara komprehensif bagaimana cara menghadapi tsunami dan rekonstruksi setelah terjadinya tsunami. Masyarakat kita masih banyak yang awam ihwal menghadapi kejadian bencana, khususnya tsunami yang sulit diprediksi kapan akan terjadi.
Mekanisme Terjadi Tsunami
Patut dipahami bahwa tsunami terjadi karena adanya perubahan impulsif yang secara mendadak di dasar laut. Terjadinya bisa disebabkan karena 3 faktor: longsoran di dasar laut, gempa bumi, dan meletusnya gunung berapi bawah laut.
Dari ketiga hal fundamen yang dapat menyebabkan terjadinya tsunami, gempa bumi menjadi faktor paling dominan yang bsia menimbulkan terjadinya tsunami. Tinggi rendahnya gelombang laut akibat tsunami sangat dipengaruhi oleh karakteriitik gempa itu sendiri. Tsunami Aceh mengapa besar, karena diawali dengan gempa sekuat 9,1 skala richter.
Gempa bumi di dasar laut bisa menjadi penyebab utama terjadinya tsunami karena kemampuannya dalam merubah profil dasar laut. Meski tak hanya gempa bumi, erupsi gunung berapi bawah laut pun bisa merubah keadaan profil dasar laut. Seperti misal letusan gunung Krakatu di Selat Sunda tahun 1883 yang bisa menimbulkan terjadinya gelombang sangat dahsyat.
Terjadinya gempa di dasar laut, walaupun gerakannya horizontal namun sangat mungkin bisa mengancurkan tebing-tebing di pinggir laut, dimana jatuhnya material-material tebing akan tegak lurus terhadap permukaan air laut.
Demikian, meskipun tak terjadi tsunami yang berpusat dari bawah laut, namun karena kondisi tebing yang sudah labil, maka gaya gravitasi dan arus laut yang kuat sudah bisa menimbulkan tanah longsor dan akhirnya terjadilah tsunami. Larantuka tahun 1976 dan di Padang tahun 1980 merupakan contoh dari tsunami akibat tebing-tebing laut yang runtuh.
Beberapa sebab gempa yang sangat mungkin bisa menimbulkan terjadinya tsunami:
- Gempa bumi di dasar laut.
- Kedalaman gempa yang kurang dari 30 km.
- Sesar gempa tergolong sesar naik atau turun.
- Magnitudenya lebih dari 5,5 dalam skala richter.
Oleh karenanya, patut dipahami cara penanggulangan tsunami sebagai berikut:
- Evakuasi bencana tsunami dilakukan secara intensif.
- Pengelolaan pengungsi dilakukan secara maksimal dan kontinu.
- Tanpa lelah dan putus asa terus dilakukan pencarian terhadap orang hilang, dan pencarian jenazah.
- Membuka jalur atau lintasan yang belum tersentuh logistik. Hal ini terjadi di Mentawai yang sulit dijangkau tim penanganan bencana.
- Memulihkan secepatnya jaringan komunikasi antar daerah supaya proses evakuasi bisa berjalan lancar.
- Segera lakukan pembersihan kota atau daerah yang terkena bencana.
- Alokasikan dana besar pemerintah untuk penanggulangan bencana.
- Libatkan berbagai elemen masyarakat yang bersedia untuk penanganan bencana tsunami.






