Celana Wanita: Kapan Wanita Mulai Memakai Celana?

Jika Anda adalah seorang wanita, mungkin Anda pernah menyadari betapa beruntungnya posisi Anda ditinjau dari segi fesyen. Ya, karena wanita dapat memakai celana seperti pria, tetapi pria tidak bisa memakai celana wanita (bisa saja kalau mau).
Namun, tahukah Anda keistimewaan seperti ini sebelumnya tidak dikenal oleh wanita?
Seperti standar tradisional yang kita tahu, celana adalah pakaian pria dan wanita seharusnya memakai rok. Titik.
Selama beratus-ratus tahun peradaban manusia di dunia ini hidup dengan standar tersebut (pengecualian untuk budaya di beberapa tempat, seperti pria Skotlandia dengan rok tartan atau wanita Persia abad ke-4 yang mengenal celana sebagai pilihan busana).
Ironisnya lagi, pakaian wanita di masa lalu, terutama di era Victorian, begitu rumitnya sehingga seringkali menyulitkan pemakainya untuk bergerak secara aktif.
Bahkan, memiliki dampak buruk pada kesehatan jangka panjang. Korset yang ketat mengganggu pernapasan, rok lebar dengan petticoat menghambat ruang gerak, hak tinggi membuat kaki cedera, dan sebagainya.
Di akhir era itulah, wanita mulai mencari kebebasan dari pakaian yang mengurung dirinya. Salah satu pelopornya tentu saja aktivis feminis.
Sedikit-sedikit, pemakaian celana untuk acara-acara informal mulai dikenal wanita, sekitar 1880-an. Meskipun demikian, celana wanita masih dipandang sebelah mata, baik oleh pria maupun oleh wantia itu sendiri. Mereka merasa pakaian semacam itu kurang girly sehingga mengurangi kecantikan sebagai wanita.
Ketika wanita mulai memasuki dunia kerja pada masa Perang Dunia I, celana pun mulai dikenal sebagai pakaian kerja standar. Film-film Hollywood yang beredar ketika itu juga mulai menampilkan sosok wanita memakai celana.
Pada 1920-an pun, desainer Coco Chanel mulai mengenalkan mode celana wanita. Wanita bercelana menjadi sebuah fenomena yang makin serius.
Mungkin kedengarannya remeh bagi kita sekarang, namun pada masa itu wanita memakai celana adalah masalah yang besar. Wanita yang bergaya maskulin pada era itu umumnya adalah wanita lesbian yang ingin menunjukkan eksistensinya atau aktivis feminis yang hendak menuntut persamaan hak dengan pria.
Banyak juga wanita pekerja yang memakai celana agar dipandang lebih serius di kantornya karena dalam hal ini celana merupakan simbol persamaan derajat dengan pria. Bahkan, para aktris lesbian atau biseks pun kerap memakai baju-baju maskulin.
Masalahnya, masyarakat secara umum belum bisa menerima ide wanita memakai celana. Bahkan, di Amerika masa itu terdapat larangan untuk wanita memakai setelan pria lengkap. Wanita lesbian yang tampak maskulin pun mendapat tekanan keras dari publik.
Namun, celana tidak pernah benar-benar ditinggalkan oleh wanita. Setelah Perang Dunia II berakhir dan wanita mulai memasuki lingkungan kerja di sektor formal seperti perbankan dan perkantoran lainnya, celana sudah menjadi barang biasa.
Wanita bercelana di tempat kerja menjadi simbol persamaan status dengan pria di bidang apapun, politik, ekonomi, bisnis, dan lain-lain. Kini, celana berbagai jenis dan bahan telah didesain khusus untuk kebutuhan wanita.






