logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hiburan    Cerita    Cerita Rakyat

Belajar IPS Lewat Cerita Anak Nusantara


Ilustrasi cerita anak nusantara

Cerita anak nusantara bisa kita manfaatkan sebagai media untuk belajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Melalui cerita anak-anak bisa dengan mudah memahami karena disampaikan dengan bahasa yang sederhana. Kita manfaatkan cerita rakyat nusantara sebagai media pembelajaran untuk anak-anak.

Tips Belajar melalui Cerita Anak Nusantara

Salah satu kekayaan negara kita Indonesia adalah budaya lisan berupa kisah dan legenda cerita anak nusantara. Setiap provinsi memiliki dongeng dan legenda yang khas. Anda dapat mempergunakan cerita anak nusantara tersebut untuk menambah pengetahuan anak Anda, terutama Ilmu Pengetahuan Sosial. Bagaimana caranya? Berikut ini beberapa tipsnya.

1. Tahu Lebih Dulu

Mau tak mau Anda harus menguasai cerita anak nusantara sebelum menjadikannya sebagai bahan belajar. Berbagai buku tentang cerita anak nusantara sangat mudah ditemukan. Baca dan pahami cerita anak nusantara tersebut. Tidak mengapa jika Anda membuat perubahan di sana-sini agar anak Anda mudah memahaminya.

2. Bacakan Untuknya

Pilih waktu yang tepat untuk menceritakan kembali cerita anak nusantara. Misalnya pada waktu menjelang tidur. Anda dapat membawa buku atau alat peraga lain seperti boneka kertas buatan sendiri, sesuai dengan karakter cerita. Bacakan atau dongengkanlah dengan intonasi suara yang berbeda-beda sesuai dengan cerita, agar cerita anak nusantara tersebut benar-benar hidup dalam benak buah hati Anda.

3. Diskusikan

Setelah membacakan atau mendongeng, ulas kembali cerita yang baru saja Anda sampaikan. Tanyakan pada buah hati Anda, asal kisah yang baru saja ia dengarkan, apa nama ibu kotanya. Setelah itu, Anda juga dapat bertanya tentang kebudayaan sesuai dengan cerita. Misalnya menanyakan lagu atau tarian daerah serta segala yang khas dari kabupaten/kota atau provinsi tersebut.

Pertanyaan tidak harus Anda habiskan dalam satu malam saja. Anda dapat mengulang pertanyaan di kesempatan lain sesuai dengan cerita. Misalnya ketika sarapan atau makan malam bersama. Ajak seluruh anggota keluarga untuk menebak apabila jawaban anak belum tepat.

4. Masak Bersama

Anda juga dapat mengajak anak Anda untuk memasak makanan yang khas dari provinsi sesuai dengan cerita anak nusantara. Selain belajar IPS, melalui masak-memasak, anak Anda dapat belajar IPA atau Biologi, sebab segala bahan masakan merupakan tumbuh-tumbuhan, makhluk hidup lain di muka bumi ini. Diskusikan dengan anak Anda kenapa orang-orang di Indonesia Timur menjadikan sagu sebagai makanan pokoknya.

5. Cari Foto Latar Cerita Anak Nusantara

Anda dapat mencari foto asal daerah tertentu melalui internet. Pada saat bercerita, Anda dapat menggunakan media foto untuk menjelaskan provinsi di mana cerita berasal. Selain itu, gambar memberikan efek ingatan jangka anjang yang lebih baik daripada sekedar bercerita secara lisan. Proses pencarian gambar juga menimbulkan keasyikan tersendiri pada anak.

Contoh Cerita Anak Nusantara

Indonesia kaya akan cerita rakyat, yang tersebar disemua wilayahnya. Setiap cerita rakyat nusantara mengandung atau memuat pesan moral dan pembelajaran hidup buat kita, khususnya untuk anak-anak. Melalui cerita yang dikemas dengan bahasa yang sederhana, anak-anak akan mudah mengerti apa yang ada dalam cerita. Orang tua pun juga bisa sedikit lebih rileks ketika mengajarkan anak-anak budi pekerti.

Kita bisa memanfaatkan cerita anak nusantara untuk memberikan dan mengenalkan budi pekerti yang terpuji pada anak di rumah. belajar di kelas dengan guru pastinya berbeda ketika belajar di rumah, apalagi melalui metode bercerita. rasa malas anak untuk belajar, begitu mendengar cerita, dengan sendirinya akan muncul motivasinya untuk belajar. Berikut beberapa cerita anak nusantara yang bisa Anda gunakan ketika mengajak anak belajar di rumah.

Asal Mula Naga Erau dari Kutai

Pada zaman dahulu kala di kampung Melanti, Hulu Dusun, berdiamlah sepasang suami istri yakni Petinggi Hulu Dusun dan istrinya yang bernama Babu Jaruma. Usia mereka sudah cukup lanjut dan mereka belum juga mendapatkan keturunan. Mereka selalu memohon kepada Dewata agar dikaruniai seorang anak sebagai penerus keturunannya.

Suatu hari, keadaan alam menjadi sangat buruk. Hujan turun dengan sangat lebat selama tujuh hari tujuh malam. Petir menyambar silih berganti diiringi gemuruh guntur dan tiupan angin yang cukup kencang. Tak seorang pun penduduk Hulu Dusun yang berani keluar rumah, termasuk Petinggi Hulu Dusun dan istrinya.

Pada hari yang ketujuh, persediaan kayu bakar untuk keperluan memasak keluarga ini sudah habis. Untuk keluar rumah mereka tak berani karena cuaca yang sangat buruk. Akhirnya Petinggi memutuskan untuk mengambil salah satu kasau atap rumahnya untuk dijadikan kayu bakar.

Ketika Petinggi Hulu Dusun membelah kayu kasau, alangkah terkejutnya ia ketika melihat seekor ulat kecil sedang melingkar dan memandang kearahnya dengan matanya yang halus, seakan-akan minta dikasihani dan dipelihara. Pada saat ulat itu diambil Petinggi, keajaiban alam pun terjadi.

Hujan yang tadinya lebat disertai guntur dan petir selama tujuh hari tujuh malam, seketika itu juga menjadi reda. Hari kembali cerah seperti sedia kala, dan sang surya pun telah menampakkan dirinya dibalik iringan awan putih. Seluruh penduduk Hulu Dusun bersyukur dan gembira atas perubahan cuaca ini.

Ulat kecil tadi dipelihara dengan baik oleh keluarga Petinggi Hulu Dusun. Babu Jaruma sangat rajin merawat dan memberikan makanan berupa daun-daun segar kepada ulat itu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, ulat itu membesar dengan cepat dan ternyata ia adalah seekor naga.

Suatu malam, Petinggi Hulu Dusun bermimpi bertemu seorang putri yang cantik jelita yang merupakan penjelmaan dari naga tersebut.

“Ayah dan bunda tak usah takut dengan ananda.” kata sang putri, “Meskipun ananda sudah besar dan menakutkan orang di desa ini, izinkanlah ananda untuk pergi. Dan buatkanlah sebuah tangga agar dapat meluncur ke bawah.”

Pagi harinya, Petinggi Hulu Dusun menceritakan mimpinya kepada sang istri. Mereka berdua lalu membuatkan sebuah tangga yang terbuat dari bambu. Ketika naga itu bergerak hendak turun, ia berkata dan suaranya persis seperti suara putri yang didengar dalam mimpi Petinggi semalam.

“Bilamana ananda telah turun ke tanah, maka hendaknya ayah dan bunda mengikuti kemana saja ananda merayap. Disamping itu ananda minta agar ayahanda membakar wijen hitam serta taburi tubuh ananda dengan beras kuning. Jika ananda merayap sampai ke sungai dan telah masuk kedalam air, maka iringilah buih yang muncul di permukaan sungai.”

Sang naga pun merayap menuruni tangga itu sampai ke tanah dan selanjutnya menuju ke sungai dengan diiringi oleh Petinggi dan isterinya. Setelah sampai di sungai, berenanglah sang naga berturut-turut 7 kali ke hulu dan 7 kali ke hilir dan kemudian berenang ke Tepian Batu. Di Tepian Batu, sang naga berenang ke kiri 3 kali dan ke kanan 3 kali dan akhirnya ia menyelam.

Di saat sang naga menyelam, timbullah angin topan yang dahsyat, air bergelombang, hujan, guntur dan petir bersahut-sahutan. Perahu yang ditumpangi petinggi pun didayung ke tepian. Kemudian seketika keadaan menjadi tenang kembali, matahari muncul kembali dengan disertai hujan rintik-rintik. Petinggi dan isterinya menjadi heran. Mereka mengamati permukaan sungai Mahakam, mencari-cari dimana sang naga berada.

Tiba-tiba mereka melihat permukaan sungai Mahakam dipenuhi dengan buih. Pelangi menumpukkan warna-warninya ke tempat buih yang meninggi di permukaan air tersebut. Babu Jaruma melihat seperti ada kumala yang bercahaya berkilau-kilauan. Mereka pun mendekati gelembung buih yang bercahaya tadi, dan alangkah terkejutnya mereka ketika melihat di gelembung buih itu terdapat seorang bayi perempuan sedang terbaring didalam sebuah gong.

Gong itu kemudian meninggi dan tampaklah naga yang menghilang tadi sedang menjunjung gong tersebut. Semakin gong dan naga tadi meninggi naik ke atas permukaan air, nampaklah oleh mereka binatang aneh sedang menjunjung sang naga dan gong tersebut. Petinggi dan istrinya ketakutan melihat kemunculan binatang aneh yang tak lain adalah Lembu Swana, dengan segera petinggi mendayung perahunya ke tepian batu.

Tak lama kemudian, perlahan-lahan Lembu Swana dan sang naga tenggelam ke dalam sungai, hingga akhirnya yang tertinggal hanyalah gong yang berisi bayi dari khayangan itu. Gong dan bayi itu segera diambil oleh Babu Jaruma dan dibawanya pulang. Petinggi dan istrinya sangat bahagia mendapat karunia berupa seorang bayi perempuan yang sangat cantik.

Bayi itu lalu dipelihara mereka, dan sesuai dengan mimpi yang ditujukan kepada mereka maka bayi itu diberi nama Puteri Karang Melenu. Bayi perempuan inilah kelak akan menjadi istri raja Kutai Kartanegara yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Demikianlah mitologi Kutai mengenai asal mula Naga Erau yang menghantarkan Putri Junjung Buih atau Putri Karang Melenu, ibu suri dari raja-raja Kutai Kartanegara.

***

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Belajar Bahasa Inggris Melalui Cerita Rakyat dalam Bahasa Inggris
  • Kenangan Terindah
  • Legenda Tangkuban Perahu - Legenda Terkenal dari Jawa Barat
  • Cerita Rakyat Merupakan Cerita Indonesia
  • Cerita Rakyat Bandung Bondowoso dan Sejarah Prambanan
  • Dongeng Binatang: Dongeng Si Kancil yang Terkenal
  • Sultan Agung � Sultan Kebanggaan Kesultanan Mataram
  • Cerita Bahasa Jawa di Era Globalisasi
  • Empat Cerita Rakyat Jakarta yang Populer dan Tokoh Legendanya
  • Manfaat Cerita Hewan Bergambar untuk Anak
  • Nilai Positif dalam Cerita Hikayat Melayu Klasik
  • Cerita Anak Bahasa Jawa - Kisah dan Pelestariannya
  • SMS Kata-Kata Romantis Sebelum Tidur
  • Tradisi Lisan Cerita Bijak
  • Membangun Karakter Bangsa melalui Cerita Rakyat Indonesia
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA