Awas, Hati-hati Cerita Biru
Ilustrasi cerita biru
Apa itu Cerita Biru?
Cerita Biru, ini dia istilah yang maknanya hampir mirip dengan film blue alias film biru. Warna biru diambil untuk melambangkan bentuk tanda kutip terhadap subjek yang di depannya. Atau kalau di dalam rambu-rambu lalu lintas kita kenal dengan warna kuning, yang artinya pengguna jalan harus hati-hati.
Sama halnya dengan film biru, cerita-cerita yang dianggap biru ini atau lebih banyak dikenal orang dengan cerita jenis ini juga seharusnya tergolong cerita yang tak pantas dikonsumsi oleh kalangan secara terbuka.
Sebab akan memberikan dampak dan pengaruh negatif, bagi orang-orang yang membaca jika tidak tepat sasaran. Sistem apa saja di negara kita, kita akui masih dikelola secara amburadul, jadi jangan heran kalau anak-anak kecil dan pedagang asongan di pinggir jalan dengan mudah saja dapat mendapatkan konsumsi film-film biru dan cerita-cerita jenis ini.
Kalau kita perhatikan, cerita jenis ini biasanya banyak tersebar di banyak media dan sarana. Mulai dari novel-novel, website khusus dan media cetak. Peredaran media ini terjual bebas tanpa adanya sebuah peraturan jelas yang mengikat. Akibatnya tak heran kalau kasus-kasus pelecehan seksual terhadap kaum wanita pun meningkat, belum lagi kasus-kasus pemerkosaan di bawah usia yang cukup memprihatinkan.
Tak hanya itu, sajian acara-acara pertelevisian juga cukup memperburuk kondisi. Minimnya nilai edukasi dari tayangan-tayangan televisi semakin memicu permasalahan ini. Tayangan-tayangan berrbau pornografi pun menjadi konsumsian anak-anak di bawah umur. Kalau sudah begini, kemana lagi hendak diselamatkan nilai-nilai moral generasi bangsa ini?
Langkah Kementrian Komunikasi dan Informasi yang melakukan kebijakan pemblokiran situs-situs porno perlu didukung. Namun ada hal penting yang juga perlu diperhatikan. Media pornografi tak hanya melalui cara visual semata, yang sangat efektif justru media imajinasi yang dapat terbangun dari cerita jenis ini yang banyak tersebar di bacaan-bacaan masyarakat.
Apakah itu ber-cover kreatifitas ataupun kebebasan seni, perlu dipilah dan diperhatikan sepenuhnya pengaruh negatif yang dapat dimunculkan dari kebedaan cerita-cerita jenis ini.
Pengaruh Buruk Cerita Biru
Dampak buruk dari cerita jenis ini akan sangat dirasakan oleh para generasi muda sebagai generasi dalam masa usia suka ‘coba-coba’. Dan secara nyata memang akan memberikan dampak atau pengaruh buruk terhadap para generasi muda itu sendiri.
Walaupun memang penggemar atau yang suka untuk mengkonsumi cerita jenis ini bukan hanya datang dari kalangan anak usia muda. Namun juga banyak dari kalangan yang lebih dewasa.
Karena pesona dari cerita jenis ini sungguh telah banyak memikat pikiran dan hati banyak orang. Inilah yang kemudian menyebabkan cerita jenis ini menjadi begitu laku di pasaran sehingga semakin banyak pula diproduksi.
Berikut ini beberapa pengaruh buruk peredaran cerita-cerita jenis ini di masyarakat terhadap para generasi muda;
1. Memicu para generasi muda untuk merealisasikan apa-apa yang telah diimajinasikannya melalui cerita jenis ini. Realisasi inilah yang akan berujung pada pelecehan seksual yang terjadi di masyarakat, juga tindakan asusila lainnya. Meskipun budaya baca di kalangan masyarakat kita cukup rendah, tapi jangan salah, untuk bacaan-bacaan biru biasanya justru mendapat respon positif bagi sebagian kalangan.
Inilah hal nyata yang banyak terjadi di masyakarat nyata kita. Banyak sekali kasus pelecehan seksual atau bahkan kasus pemerkosaan yang terjadi di mana ditemukan bahwa si pelaku tindakan asusila ini adalah penggemar dari membaca cerita dalam jenis ini.
Sehingga memang apa yang sudah ia lakukan menjadi kebiasaan dan terus merajalela di dalam alam pikirannya. Hingga pada suatu waktu ia sendiri tak mampu lagi untuk menahan hasrat yang telah terpendam dan telah banyak terangsang keberadaannya dengan semakin banyak membaca cerita jenis ini.
Dan sebagai pelampiasan adalah korban siapapun yang berada di dekatnya atau yang memang secara tak sengajat ada di dekatnya. Dan inilah yang menjadi penyebab terjadinya banyaknya tindakan pelecehan seksual.
Karena sejatinya, apa yang dibaca di dalam cerita jenis ini adalah sebuah rangsangan terhadap naluri seksual itu sendiri. Di mana ketika melihat, mendengar atau membaca banyak hal yang berbau seks maka naluri seksual itu akan dengan sendirinya menjadi terangsang. Dan hal ini adalah hal yang alamiah terjadi.
Maka tidak salah jika setiap penggemar dari bacaan yang berbau porno ini akan semakin terangsang naluri seksualnya dengan semakin banyak membaca cerita ini. dan dengan semakin terangsang maka akan semakin membutuhkan pelampiasan.
2. Cerita jenis ini merupakan bentuk pornografi terselubung yang kehadirannya cukup membahayakan. Orang jarang menyadarinya, namun tetap saja memberikan dampak buruk bagi si pembacanya, terutama para pembaca di bawah usia.
Bagi pembaca yang ada di bawah usia, maka dengan membaca bacaan sejenis ini akan sangat mempengaruhi perkembangan jiwa dan psikologis yang ada. Si pembaca cilik ini akan terbentuk dalam frame berpikirnya akan hal ini. dan hal ini akan semakin terlihat jelas dalam pikirannya dan merusak pikirannya sedikit demi sedikit.
Lalu, berangsur angsur namun pasti bahwa apa yang ada di dalam pikirannya adalah hal yang berbau seksual ini. dan secara pasti ini akan mematikan potensi otak dan pikiran yang ada di dalam dirinya karena semuanya sudah dikuasai oleh pikiran yang berbau porno ini.
3. Secara perlahan namun pasti, tulisan-tulisan biru turut menyumbangkan penyebab kebobrokan moral generasi muda bangsa kita. Generasi muda adalah cikal bakal penerus generasi tua yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa ini.
Inilah dampak buruk yang seakan menjadi gunung es. Bahwa memang generasi muda akan termatikan potensinya. Mereka hanya akan memenuhi pikiran mereka dengan apa yang disebut dengan seks tanpa mau untuk memikirkan hal lainnya.
4. Tulisan-tulisan biru secara langsung berusaha menjauhkan si pembacanya terhadap aturan dan tata norma agama yang dianutnya. Misalnya memicu tindakan zina dan sejenisnya. Kesemuanya itu akan memberikan efek buruk bagi si pelaku, tak hanya pada kehidupan yang bersangkutan di dunia, namun juga di akhirat kelak.
Seperti yang telah disebutkan bahwa semakin banyak membaca tulisan biru ini maka akan semakin memberikan daya rangsang kepada diri si pembaca dan semakin membutuhkan untuk dipuaskan atau dilampiaskan.
Kebanyakan korban dari tulisan biru ini adalah sosok generasi muda yang belum menikah sehingga memang masih belum memiliki pasangan untuk melampiaskan naluri seksual ini.
Kalau belum punya pasangan lalu kemana atau dengan siapa akan melampiaskan naluri yang seakan tak bisa dibendung ini? itulah yang akan menyebabkan terjadinya dosa di dalam pandangan agama.
Bisa jadi membeli wanita atau pekerja seks komersil bagi yang mampu. Sedangkan yang tak mampu untuk mengusahakan hal ini maka akan berusaha untuk mendapatkan yang gratis misalkan dengan melakukan tindakan pelecehan seksual atau semacamnya.
Dan semua hal ini tentunya adalah hal yang sangat bertentangan dengan semua nilai ajaran agama yang diajarkan oleh semua agama. Karena tak ada satu agamapun yang mengajarkan untuk mengumbar naluri seksual ini.
Di dalam agama Islam, pelampiasan nafsu seksual ini dapat dilakukan dalam bingkai sebuah pernikahan suci yang telah dilakukan sesuai dengan ajaran agama islam. Dan ini adalah satu satunya cara yang benar dan dibenarkan dalam melakukan tindakan seksual dengan pasangannya.
5. Harus diperhatikan secara jelas antara tulisan-tulisan biru dengan kaidah kreatifitas yang kerap dikambing hitamkan. Hakikat sebuah kreatifitas adalah memberikan dampak positif bagi orang lain, namun jika kreatifitas yang dikatakan itu justru berdampak buruk bagi sosial kehidupan, perlu dieja ulang definisi sebuah kreatifitas.
Memang banyak yang mengatakan bahwa tulisan biru yang telah dibuat adalah untuk seni yang penuh dengan keindahan. Dan hal ini dapat dikatakan sebagai sebuah hal yang tak benar karena tak mungkin ada tindakan seni yang justru merangsang seseorang untuk melakukan tindakan yang tak pantas dilakukan.
Keberadaan dari tulisan biru ini memang seakan begitu sulit untuk dihapus keberadaannya dari tengah masyarakat. Karena juga tingkat kebutuhan akan tulisan ini semakin banyak. Maka dari itu harus ada kerja sama dari banyak pihak yang terkait untuk berusaha menyingkirkan segala hal yang berbau porno seperti tulisan atau cerita biru ini dari peredaran masyarakat terutama dari lingkungan generasi muda kita.



