Cerita 17 Tahun
Dalam sekuel film biasanya ditulis aturan tertentu sebagai petunjuk siapa penontun yang layak untuk mengkonsunsumsi film tersebut.
Biasanya cerita 17 tahun memiliki standarisasi tersendiri mengingat beberapa atau bahkan hampir diseluruh adegannya hanya dipertontonkan untuk mereka yang sudah dewasa. Dalam pengaturan jadwal tayang misalnya, atau ketatnya sensor untuk memotong bagian-bagian tertentu dalam cerita tersebut.
Cerita 17 tahun sebenarnya tidak melulu dibumbui sex untuk bisa dikatakan menarik. Bahkan, kesadaran masyarakat bahwa sisi manfaat atau hikmah yang bisa diambil dari sebuah cerita, baik itu berupa buku maupun film, lebih dominan.
Masyarakat yang semakin kritis inilah yang akhirnya memaksa para novelis atau penulis skenario untuk lebih kreatif. Mereka juga ditantang untuk menyajikan cerita yang up to date dalam kemasan yang menarik.
Ada beberapa tips membuat cerita 17 tahun menjadi menarik:
- Libatkan unsur ilmiah dengan apik. Tidak terlalu dipaksakan, namun tidak perlu takut untuk mengekplorasi hal-hal yang nampaknya khayali.
- Tentukan segmen yang akan dibidik. Untuk kalangan terpelajar, sangat bagus jika menggunakan bahasa-bahasa ilmiah. Namun, jika untuk semua kalangan akan lebih mengena jika menggunakan bahasa sederhana dengan tidak mengurangi bobot kualitas keilmiahannya
- Jika harus menggunakan unsur sex, buatlah senatural mungkin. Memang ada orang-orang yang suka bahasa-bahasa sex yang vulgar. Namun, semakin jauh dari sisi naturalitas justru mengundang ke-eneg-an bagi banyak orang.
- Bobot kualitas cerita 17 tahun lebih terukur dibandingkan cerita dari segmen usia yang lain. Mengapa? Mereka lebih rasional dan matang, yang tidak akan membuang waktu untuk membaca sesuatu yang dianggapnya tidak perlu.
- Jeli momentum Ini berbeda dengan latah. Harus diakui momentum adalah salah satu pendongkrak yang paling jitu, karena meminimalisir biaya promosi. Ini juga membantu penulis pemula yang masih harus mencari nama dalam dunia penulisan.
Rumitkah membuat cerita 17 tahun? Well, kita bicara tentang cerita yang memberi kesan, bukan yang sejenak asyik dibaca namun tidak meninggalkan kesan. KESAN…itulah sebenarnya yang menjadi entry point. Kesan akan memberi ekses berkepanjangan.
Seorang penulis yang pernah meluncurkan sebuah karya berkualitas, tidak lagi kesulitan untuk mempromosikan karya-karya selanjutnya. Semua karena, konsumen sudah menebak kualitas karya tersebut lewat nama pengarangnya.
Dan yang pasti, cerita 17 tahun memiliki banyak tema yang bisa diangkat. Tidak akan habis dan selalu ada yang baru. Tinggal bagaimana mengemas dan mengup date sisi-sisi yang bisa menarik pasar. Itupun jika kita memang berorientasi profitable. Tapi jika mengusung idealisme, maka bobot ide menjadi taruhannya.
Tidak menutup kemungkinan, sebuah ide yang sarat idealitas mmenjadi sesuatu yang diminati pasar.
Tidak menutup kemungkinan ide-ide picisan, yang hanya mengobral masalah seks ternyata mendapat sambutan luar biasa dari pasar. Bahkan ketika kita meng-klik google untuk cerita 17 tahunpun yang muncul adalah hal-hal yang tidak jauh dari fantasi seks. Pada saatnya nanti, pangsa pasar tema seperti ini akan berakumulasi pada kejenuhan.
Dan seperti sudah penulis katakan tadi, masyarakat yang semakin kritis akan lebih melirik pada tema-tema sosial atau lainnya yang lebih berbobot.
| Berikan rating untuk artikel di atas : |













