Banyaknya Manfaat dari Cerita Motivasi Anak
Ilustrasi cerita motivasi anak
Mendidik buah hati Anda bisa dilakukan dengan berbagai cara. Dengan mencontohkan perilaku terpuji, menanamkan nilai-nilai edukasi, maupun dari cerita motivasi anak. Antusiasme anak untuk mengetahui hal-hal baru merupakan peluang bagi Anda untuk mengajarinya berbagai ilmu.
Betapa mereka perlu berjuang keras untuk menyambung hidup. Dengan begitu, anak Anda akan termotivasi untuk lebih giat lagi karena kesempatan yang lebih membentang dari pada mereka.
Cerita Motivasi untuk Anak dari Cerita Rakyat
Cerita motivasi anak akan lebih efektif ketimbang Anda terus-menerus mengguruinya. Ada kalanya seorang anak merasa bosan untuk dinasehati, dan dengan bercerita semacam inilah pesan-pesan moral akan tersampaikan.
Ketika Anda dan anak Anda melihat seorang artis di televisi yang kebetulan merupakan teman Anda misalnya, Anda pun dapat menceritakan kepada anak Anda tentang perjuangan indah bersamanya tempo dulu, sekaligus memotivasi anak bahwa keberhasilan seseorang itu tak dijemput dengan berleha-leha.
Cerita Tentang Gema pun dapat memotivasi anak Anda dalam keramahannya menghadapi hidup. Dalam cerita tersebut disebutkan bahwa hidup ini merupakan refleksi dari perbuatan. Hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah kita berikan kepadanya.
Jika kita berlaku baik, maka kebaikan itu akan kembali kepada kita. Seperti halnya ketika di sebuah lapangan luas Anda berteriak: “Semangat”, maka gema yang Anda dengar pun pastilah kata “semangat”.
Cerita Motivasi Anak dari Cerita Legenda
Legenda Gunung Tangkuban Perahu juga tak kalah menarik untuk Anda ceritakan kepada anak. Kegigihan yang bertubi akan membuahkan hasil yang memesona, kepercayaan akan kemampuan diri pun akan menjadikan sebuah keinginan menjadi tak sebatas harapan. Itulah cerita motivasi anak, dengan mendengarnya saja, animo ini tergerak untuk menaklukan kehidupan.
Dalam penyampaian cerita motivasi anak, ekspresi Anda pun begitu berpengaruh pada tingkat kepahamannya. Cerita Anda akan lebih mengena jika diikuti dengan bahasa tubuh yang menarik perhatiannya. Ketika Anda menceritakan tentang semangat gotong royong, kepalan tangan yang Anda angkat pun akan membuat semangat kebersamaannya kian berkobar.
Tak sedikit cerita motivasi anak dapat mendorong kepercayaan diri. Dengan contoh-contoh unik yang diceritakan, anak Anda pun mampu memahami hakikat perjuangan. Contohnya, ada cerita tentang dua ekor katak yang tinggal di sawah dan di pinggir jalan.
Katak sawah: “Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.”
“Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah,” jawab katak jalanan.
Selang beberapa hari, katak sawah menjenguk katak jalanan dan menemukan temannya itu telah mati terlindas mobil yang lewat. Dari cerita ini, anak Anda mendapat pelajaran bahwa, salah satu cara untuk menggenggam nasib kita itu dengan menghindari kemalasan.
Cerita Motivasi Anak Islami
Api yang Membakar Kaum Durhaka
Alkisah, Allah mengangkat Syu’aib menjadi seorang nabi. Allah lalu mengutus Nabi Syu’aib ke negeri Madyan.
Penduduk negeri Madyan tidak hanya melakukan kesyirikan. Akan tetapi, mereka juga curang dalam menakar dan menimbang dagangan. Penduduk Madyan juga melakukan kecurangan dalam mu’amalah (bergaul dengan orang lain). Mereka juga suka mengurangi hak orang lain.
Nabi Syu’aib lalu menyeru kaumnya itu, “Hai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada ilah yang berhak disembah bagimu, selain Dia. Dan janganlah kalian kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kalian dalam keadaan yang baik, dan sesungguhnya aku khawatir terhadap kalian, akan adzab hari yang membinasakan.”
Nabi Syu’aib berkata lagi, “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka, dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan!”
Namun, kaum Nabi Syu’aib menyambut seruan nabi Syu’aib dengan ejekan. Mereka menolak seruan itu sambil mengolok-olok. Mereka berkata, “Hai Syu’aib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami? Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.” Kamun Nabi Syu’aib mengatakan hal itu dengan maksud mengejek beliau.
Nabi Syu’aib lalu berkata, “Hai kaumku, bagaimana pandangan kalian jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Robb-ku, dan dianugerahi-Nya aku rezeki yang baik, patutkah aku menyalahi perintah-Nya? Dan aku tidak ingin menyalahi kamu dengan mengerjakan apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud, kecuali mendatangkan perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik atau petunjuk bagiku, melainkan dengan pertolongan Allah Swt. Hanya kepada Allah Swt aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku kembali.”
Nabi Syu’aib lalu mengancam kaumnya, dengan datangnya azab Allah Swt, yang pernah menimpa umat-umat di sekitar mereka. Nabi Syu’aib berkata, “Hai kaumku, janganlah sekali-kali pertentangan antara aku dengan kalian menyebabkan kalian menjadi jahat, hingga kalian ditimpa adzab seperti yang menimpa kaum Nuh, atau kaum Huud, atau kaum Sholeh, sedang kaum Luth tidak pula jauh tempatnya dari kalian.”
Nabi Syu’aib lalu menawarkan mereka untuk bertaubat. Namun, seruan Nabi Syu’aib tidaklah membuat kaumnya sadar.
Mereka justru berkata, “Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti apa yang kamu katakan. Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami. Kalau bukan karena keluarmu, tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa d sisi kami.”
Nabi Syu’aib menjawab ejekan kaumnya, “Hai kaumku, apakah keluargku lebih terhormat menurut pandangan kalian daripada Allah, sedangkan Allah kalian jadikan sesuatu yang terbuang di belakang kalian? Sesungguhnya pengetahuan Robb-ku meliputi apa yang kamu kerjakan.”
Akan tetapi, kaum Nabi Syu’aib tetap durhaka. Melihat kekerasan kaumnya, nabi Syu’aib akhirnya berkata, “Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuan kalian! Sesungguhnya akupun berbuat pula. Kelak kalian akan mengetahui, siapa yang akan ditimpa adzab yang menghinakan dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah adzab Allah, sesungguhnya aku pun menunggu bersama kalian.”
Akhirnya, turunlah adzab Allah pada kaum Nabi Syu’aib. Orang-orang yang zholim itu lalu dibinasakan oleh suatu suara yang mengguntur. Mereka mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka.
Lalu Allah Swt turunkan panas yang hebat, yang menyumat pernapasan mereka, hingga mereka hampir tercekik karena dahsyatnya.
Dalam keadaan seperti itu, Allah Swt lalu mengirim awan dinign yang menaungi kaum Nabi Syu’aib. Mereka lalu saling memanggil, untuk bernaung di bawahnya.
Setelah kaum Nabi Syu’aib berkumpul di bawah awan dinign itu, tiba-tiba muncullah nyala api yang sangat hebat. Api itu membakar mereka, hingga mereka semua mati dengan mengenaskan.
Kaum Nabi Syu’aib yang durhaka itu akhirnya mati dalam keadaan mendapat adzab. Mereka mendapat kehinaan, dan laknat sepanjang masa. Sedangkan nabi Syu’aib dan para pengikutnya yang beriman, Allah Swt merahmati mereka. Allah selamatkan mereka dari adzab yang mengerikan.
(Diceritakan kembali dari kitab Al Majmu’atul Kamilatu li muallafat juz 8 hal. 360-362, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as Sa’di, dan dari Al Qur’anul karim surat Huud, ayat 84-85, dan ayat 87-95).
***
Pemuda yang Beriman dan Raja yang Kejam
Dahulu kala, hiduplah seorang raja. Raja itu memiliki seorang tukang sihir. Ketika si Tukang Sihir telah tua, ia ingin menurunkan ilmunya kepada seseorang.
Tukang sihir berkata pada sang Raja, “Sesungguhnya aku telah tua, maka kirimkanlah kepadaku seorang pemuda, aku akan mengajarkan ilmu sihir kepadanya.”
Maka diutuslah seorang pemuda untuk belajar kepada si Tukang Sihir. Namun, di tengah perjalanan ia berjumpa dengan seorang rohib, ahli ibadah pada zaman bani Isroil. Si pemuda lalu duduk mendengarkan ucapan-ucapan sang Rohib, hingga ia datang terlambat ke tempat si Tukag Sihir. Karena marah, si Tukang Sihir lalu meukul si Pemuda.
Maka si Pemuda mengadu pada sang Rohib. Sang Rohib berkata, “Jika engkau takut kepada si Tukang Sihir, maka katakanlah kepadanya bahwa keluargamu menghalangimu. Dna jika engaku takut kepada keluargamu, maka katakanlah bahwa si Tukang Sihir telah menghalangimu.”
Di suatu hari, ketika dalam perjalanan tiba-tiba si Pemuda bertemu dengan seekor binatang yang sangat besar. Binatang itu menghalangi orang-orang yang hendak lewat.
Pemuda itu berkata, “Hari ini aku akan mengetahui. Apakah ajaran si Tukang Sihir yang lebih baik, ataukah ajaran sang Rohib yang lebih baik.”
Si Pemuda mengambil batu lalu berdoa, “Ya Allah apabila sang Rohib lebih engkau sukai daripada ajaran si Tukang Sihir, maka bunuhlah binatang ini agar orang-orang bisa meneruskan perjalanan.”
Si Pemuda lalu melempar binatang besar itu, binatang itupun mati. Orang-orang akhirnya dapat meneruskan perjalanan kembali.
Ketika si Pemuda berjumpa dengan sang Rohib, ia menceritakan kejadian itu. Sang Rohib lantas berkata kepada si Pemuda, “Wahai anakku, sekarang engkau lebih utama daripada aku. Sungguh engkau telah mengetahui apa yang aku ketahui. Dan kelak engkau akan mendapat ujian. Dan jika engkau sedang diuji, janganlah engkau menyebut-nyebut aku!”
Selanjutnya, si Pemuda dengan izin Allah dapat menyembuhkan berbagai penyakit.
Terdengarlah berita ini oleh seorang teman duduk sang Raja yang buta matanya. Teman sang Raja lalu datang kepada si pemuda dengan membawa hadiah yang banyak. Teman sang Raja berkata, “Semua hadiah ini untukmu, jika engkau menyembuhkan aku.”
Si Pemuda menjawab, “Sesungguhnya aku tidak bisa menyembuhkan seorangpun. Hanya Allah Ta’ala yang dapat menyembuhkan. Apabila engkau mau beriman kepada Allah agar ia menyembuhkanmu.”
Maka berimanlah teman duduk sang Raja. Lalu Allah sembuhkan ia dari penyakit butanya.
Ketika teman sang Raja itu datang kepada sang Raja dan duduk bersamanya seperti biasa, sang Raja bertanya kepadanya, “Siapakah yang telah menyembuhkan penglihtanmua?” Teman sang Raja menjawab, “Robb-ku.”
Sang Raja bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki Robb selain aku?” Teman sang Raja menjawab, “Robb-ku dan Robb-mu adalah Allah.”
(Diceritakan kembali dari hadis Shuhaib riwayat Muslim dalam kitab Riyadlus Sholihin, karya Imam An Nawawi).
***

