logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Keluarga    Tips Keluarga    Suami Istri

Cerita Suami Istri- Membedakan-Bedakan Pemberian pada Anak


Ilustrasi cerita suami isteri

Kecerdasan majemuk seorang anak, bagian dari cerita suami isteri yang harus diketahui sejak awal. Tanpa itu akan jadi masalah kelak, baik antara suami dengan istri, maupun antara ayah dan anak atau antara anak dan ibunya. Masing-masing anak memiliki watak dan kecenderungan-kecenderungan yang berbeda.

Itu memang tidak bisa disangkal. Konsep kecerdasan majemuk atau Multiple Intelegences yang digagas oleh Howard Gardner juga menegaskan tentang hal tersebut. Howard membagi kecerdasan seseorang ke dalam 8 model kecerdasan berdasarkan kecenderungan-kecederungannya.

Pembagian delapan bentuk kecerdasan ini berasal dari pengumpulan data seorang anak bukan berdasarkan tes-tes tertutup seperti yang diterapkan pada tes IQ  yang hanya membedakan anak pintar dan kurang pintar.

Howard Gardner kemudian menyimpulkan bahwa kecerdasan seseorang, samasekali tidak terkait dengan kondisi fisik (rasialis), kondisi brain, dan hasil tes-tes standar. Jadi tidak diperlukan tes tertutup seperti tes IQ atau tes ketidakmampuan seseorang yang hanya akan menyudutkan secara psikis dengan pelabelan ketidakmampuan tersebut.

Sebaliknya Howard berkayakinan bahwa kecerdasan seseorang itu terkait dengan discovering ability, the right man on the right place serta benefiditas. Dengan demikian kecerdasan itu adalah kebiasaan atau prilaku yang diulang-ulang yang melahirkan pikiran-pikiran kreatif dan bisa mengatasi masalah.

Berikanlah Sesuai dengan Kebutuhannya

Namun apakah membeda-bedakan pemberian orang tua –dengan alasan anak-anak memiliki kecenderungan-kecenderungan yang berbeda– kepada anak, dapat dibenarkan? Sepanjang memenuhi unsur-unsur keadilan, maka membeda-bedakan pemberian kepada anak, bukanlah masalah. Tapi jika unsur-unsur keadilan dengan sengaja diabaikan, Rasulullah SAW menganggap hal ini sebagai perbuatan aniaya.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan dari An-Nu’man bin Al Basyir ra, bahwa ayah Nu’man pernah membawa dirinya menghadap Rasulullah SAW. Ayahnya berkata “saya pernah memberikan kepada anakku ini seorang budak yang dulu kepunyaanku”. Rasulullah SAW bertanya “Apakah masing-masing anakmu, kamu beri seperti anakmu ini ?” Ayah Nu’man berkata “Tidak ya, Rasulullah !” Rasulullah SAW bersabda “kalau begitu tariklah kembali pemberianmu itu !”

Dalam riwayat lain dikatakan setelah Rasulullah SAW mendengar penjelasan ayah Nu’man tersebut, lalu beliau bersabda ”Takutlah kepada Allah Swt dan berbuatlah adil terhadap anak-anak kalian.”

Prinsip keadilan harus tetap dipenuhi orangtua ketika akan memberi sesuatu kepada anaknya. Sepanjang rasa keadilan itu terpenuhi, membeda-bedakan dalam arti kuantitas tak akan menjadi masalah.

Tapi, dengan semata mempertimbangkan bahwa kenyataannya masing-masing anak memiliki kecenderungan yang berbeda, lalu menyebabkan orangtua membeda-bedakan pula pemberian tanpa memperhatikan unsur-unsur keadilan itulah yang diingatkan Rasulullah SAW sebagai perbuatan aniaya.

Suatu hari –dalam hadits lain yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim– Basyir mendatangi Rasulullah SAW dan melaporkan telah memberi hadiah kepada anaknya. Rasulullah SAW bersabda “Wahai Basyir, apakah kamu punya anak selain anak ini?” Basyir menjawab “Ya, Rasulullah !” Lalu, Rasulullah melanjutkan pertanyaannya “Apakah semua anak-anakmu juga kamu beri hadiah seperti ini ?” Dijawab Basyir “Tidak!”.

Mendengar jawaban Basyir seperti itu, Rasulullah pun menegaskan “Kalau begitu janganlah kamu jadikan aku sebagai saksi, sebab aku tidak menjadi saksi perbuatan aniaya.”

Kisah Dampak Membeda-Bedakan Pemberian

Terkadang, orang tua tak menyadari bahwa membeda-bedakan pemberian bisa berakibat fatal. Yaitu, kecemburuan hingga terjadi pembunuhan. Bahkan penulis menemukan seorang anak menjadi pencandu narkoba jenis sabu-sabu, lantaran adanya perbedaaan pemberian yang diberikan ayah terhadap dua orang anaknya yang berbeda jenis kelaminnya. Berikut ini ceritanya.

Ketika anaknya  yang perempuan menikah, sang ayah memberikan 15 gram emas untuknya. Ayahnya memberikan emas, lantaran anak perempuan tersebut selalu membantu dan membelanya ketika isterinya marah-marah. Maklumlah, namanya suami-isteri tersebut bekerja dengan membuka usaha.

Dengan perhatiannya si anak, membuat sang ayah begitu sayang kepadanya. Ketika menikah dan apa pun yang diinginkan si anak selalu dikabulkan. Berbeda dengan anak lelakinya. Ia selalu menyalahkan si ayah dan terkadang mengadukan hal yang tak baik tentang si ayah kepada ibunya. Akhirnya, si ayah kurang simpatik kepada anak laki-lakinya.

Ketika anak laki-lakinya menikah, ia hanya memberikan 5 gram. Ia memang sengaja tak memberinya banyak. Namun rupanya, anak laki-lakinya tersebut mengetahui bahwa ayahnya memberikan anak perempuannya ketika menikah 15 gram. Sehingga, membuatnya kesal dan memilih jalan narkoba sebagai solusinya.

Ketika ia bercerita kepada salah seorang saudaranya, barulah diketahui bahwa yang menjadi penyebab dirinya menjadi pecandu narkoba lantaran kesal melihat tingkah ayahnya yang selalu membeda-bedakan pemberian kepada anaknya. Tentu saja, hal ini tidak baik.

Kejadian yang sama juga pernah penulis lihat, ketika bapak lebih senang kepada anaknya yang pertama sedangkan si ibu lebih senang kepada anaknya yang kedua. Ini semua tampak pada pemberian. Apa pun yang dibeli si bapak, selalu menggunakan nama anaknya yang pertama. Demikian halnya dengan si ibu, ia selalu membelikan apa yang dibutuhkan oleh anaknya yang kedua. Ketika anak yang pertama minta dibelikan sesuatu, si ibu selalu menyuruh anaknya untuk minta dibelikan kepada bapaknya.

Sungguh, ini sebuah cerita suami isteri yang tidak baik. Cerita yang membuat anak menjadi pilih kasih kepada kedua orang tuanya. Seharusnya, dalam hal memberi dalam hal rumah tangga harus ada kesepakatan antara suami dengan isteri. Sedangkan adil yang harus diberikan dilihat dari sisi kebutuhan masing-masing anak, bukan berdasarkan perhatian anak.

Nikahkan Anak Melihat Prioritas Kebutuhannya

Pernahkah Anda mendengar cerita suami isteri tentang orang tua diminta oleh kedua anaknya untuk diizinkan menikah? Penulis pernah melihat dan menemukan ketidakadilan yang terjadi. Berikut ceritanya.

Ada dua orang anak laki yang dari sesi usia satu sudah tua  karena berumur 29 tahun, dan satunya lagi masih berumur 25 tahun namun berprofesi sebagai ustad. Ketika si anak yang berumur 29 tahun meminta menikah dan tak lama kemudian si anak yang berumur 25 tahun juga meminta menikah dengan alasan misi dakwahnya.

Namun orang tuanya, hanya mengizinkan si anak yang berumur 29 tahun menikah. Padahal, anak yang berumur 25 tahun ingin menikah dan memiliki uang sendiri. Berbeda dengan anak yang 29 tahun yang menikah murni dengan uang kedua orang tuanya. Akhirnya, si anak yang berumur 25 tahun mulai menjauhi dirinya dari undangan mengisi pengajian.

Baginya, tak pantas bicara tentang masalah agama bila dirinya belum menikah. Karena umumnya, orang yang belum menikah sangat sulit untuk menyalamatkan dirinya dari dosa. Dan itu diakui oleh anak laki-laki yang berusia 25 tahun yang suka berdakwah.

Setelah anak yang berumur 29 tahun menikah, si ibu mulai curiga mengapa si anak yang dulunya ustad kini menjadi anak yang jarang mau ceramah dan jarang juga pergi ke mesjid. Ia malah jadi anak yang hedonis. Rajin membeli barang-barang mahal.

Si ibu bertanya kepada si anak yang berusia 25 tahun, namun ia memilih diam. Ia pun untuk memberhentikan dirinya dari profesi ustad dengan memilih jalan kuliah kembali. Sehingga setiap kali ada yang memintanya untuk mengisi ceramah atau pengajian selalu ditolak dengan alasan ceramah.

Suatu hari si ibu baru mengetahui bahwa anaknya memilih tidak mau ceramah karena sudah bersumpah. Ia tak akan mau ceramah bila belum menikah. Sumpah tersebut diucapkannya kala ditolak keinginannya untuk menikah. Si ibu menangis dan menyesali ucapan dan tindakannya. Sedangkan si ayah, hanya diam membisu.

Lebih dari 4 tahun si anak tersebut tak mau menikah. Ia pun selalu menjadi orang boros. Padahal, dulunya ia adalah anak yang sangat hemat. Setelah menyesali, si ibu pun datang membujuknya untuk menikah. Namun si anak masih bingung. Ia bingung karena sudah tidak ada uang yang dimilikinya. Ia bingung uang yang dimilikinya dulu sebanyak 25 juta kini sudah habis. Ia hanya memegang uang sekitar 1 juta.

Setelah mengetahui bahwa si anak yang berprofesi ustad meminta menikah sudah memiliki uang. Namun si ibu selalu menyepelekannya. Menganggap ia tak memiliki uang. Kini si ibu terpaksa banting tulang untuk membiayainya menikah.

Inilah cerita suami isteri yang kurang adil kepada anaknya dalam hal menikahkan. Seharusnya, kedua orang tua melihat dengan jelas, siapa yang sangat membutuhkan dan siapa yang sudah memiliki modal untuk menikah. Tak sedikit orang tua yang berperilaku tak adil dengan anaknya. Padahal, anak tersebut adalah ujian dari Tuhan untuk mendapatkan pahala yang besar. 

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Hati-hati saat Berhubungan Intim
  • Nikmati Sensasi Bercinta Gaya Belah Duren!
  • Seputar Payudara Ibu Hamil
  • Tips Memuaskan Suami Tercinta
  • Standar WHO Pada Persalinan Normal
  • Gaya Berhubungan Seksual - Rahasia Dapur Pasutri
  • Akibat dan Faktor Suami Takut Istri
  • Hikmah Dibalik Doa Hubungan Suami Istri
  • Berbagai Tips Cara Mendapatkan Anak Kembar
  • Mengatasi Ejakulasi Dini - Lakukan yang Terbaik demi Kepuasan Masing-masing
  • Posisi Bercinta yang disukai wanita - Pernah Coba Posisi Sendok Bersaus?
  • Sayang Suami, Ajari Merawat Diri - ANNEAHIRA.COM
  • Hubungan Intim Suami Istri
  • Cara Mengatasi Ejakulasi Dini
  • Posisi Bercinta - Dari Missionaris Sampai Doggy Style
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA