Cerita Titanic, Romantisme Tanpa Akhir

Film Titanic pernah booming di tahun 1997. Film yang diangkat dari kisah nyata ini mampu membius penonton, hingga membuat bioskop penuh sesak, disertai antrean yang panjang. Bahkan banyak yang menonton film tersebut berulang kali. Tak heran jika film itu masuk box office, serta meraih 11 Academy Awards pada 1998.
Dikisahkan seorang pemuda bernama Jack Dawson (diperankan oleh Leonardo DiCaprio) yang memenangkan lotre. Hadiahnya adalah tiket perjalanan kapal Titanic yang sangat megah. Bukan main senangnya hati Jack. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Titanic adalah kapal pesiar super mewah yang baru selesai dibuat. Kapal itu merupakan kapal kebanggaan. Saking hebatnya, banyak yang sesumbar bahwa kapal tersebut tidak akan bisa tenggelam.
Sebagian besar penumpang Titanic adalah orang-orang kelas bangsawan. Mereka adalah orang-orang super kaya yang mendapat kehormatan untuk mencoba perjalanan pertama kapal Titanic. Kapal itu berlayar dari London menuju New York.
Di kapal tersebut, Jack bertemu dengan seorang wanita dari golongan elit, bernama Rose DeWitt Bukater (diperankan oleh Kate Winslet). Rose yang merasa jenuh dengan kehidupan golongan elit yang penuh dengan kepalsuan, terpesona dengan kepolosan Jack. Akhirnya mereka saling jatuh cinta.
Cal Hockley (diperankan oleh Billy Zane), tunangan Rose, marah bukan main. Ia merasa terhina karena kekasihnya dekat dengan pemuda miskin seperti Jack. Kisah cinta segitiga yang sangat romantis ini mendominasi keseluruhan cerita dalam film Titanic.
Peristiwa demi peristiwa terjadi hingga akhirnya Titanic menabrak gunung es. Detik-detik tenggelamnya kapal Titanic ini membuat suasana romantis berubah menjadi penuh haru.
Jalan cerita dan kekuatan pemainnya membuat Titanic menjadi film yang terus diingat. Kekuatan lain dari film ini, yaitu karena film tersebut berdasarkan kisah nyata. Kapal pesiar yang sangat didewakan itu akhirnya mengalami kesialan. Satu jam setelah menabrak gunung es, Titanic tenggelam, tepat pukul dua dini hari, pada bulan April 1912.
Titanic yang diluncurkan oleh perusahaan White Star Line, menabrak gunung es karena adanya kesalahan mengemudi yang dilakukan oleh Robert Hitchins. Yang menambah parah, Bruce Ismay, pemimpin White Star Line, memaksakan Titanic tetap berjalan perlahan ketika lambung kapal itu telah robek terhantam gunung. Dengan begitu, air laut masuk dan memenuhi setiap lantai kapal. Padahal, kalau saja kapal itu diam sambil menunggu bantuan datang, bisa jadi kapal tersebut selamat dan tidak tenggelam.
Bruce Ismay memberi alasan mengapa ia memaksakan Titanic terus berjalan meskipun telah menabrak gunung. Katanya, jika Titanic selamat dan berhasil diderek, White Star Line akan dianggap lalai, dan tidak bisa mendapatkan asuransi ganti rugi. Jika ini terjadi, White Star Line akan bangkrut dan seluruh karyawannya terancam kehilangan pekerjaan.
Cerita-cerita dahsyat itulah yang membuat Titanic semakin melekat di hati masyarakat. Tentu saja juga berkat tangan dingin James Cameron yang menggarap filmnya.






