logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Hobi    Menulis    Fiksi    Cerpen Sedih

Cerpen Sedih - Selamat Pagi, Diaz!

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Apa sih bedanya cerpen sedih dengan jenis cerpen yang lainnya? Pada dasarnya cerpen sedih memang sedikit berbeda dengan cerpen lainnya. Namun, perbedaan cerpen sedih dengan yang lain hanya di seputar isi dan cara penyampaiannya saja.

Pada tingkat syarat dan unsur pembentuk sebuah cerpen, cerpen sedih sama sekali tidak berbeda dengan jenis cerpen lainnya. Syarat cerpen yang mengharuskan selesai dibaca dalam sekali duduk, berlaku juga pada cerpen sedih. tak hanay itu, unsur-unsur pembentuk cerpen dengan cerpen sedih pun masih sama, yakni unsur intrinsik dan ektrinsik.

Namun, dalam sebuah cerpen sedih, biasanya penulis akan lebih menonjolkan pencitraan dan suasana yang kadang mengundang kucuran air mata. Diksi dalam cerpen sedih seolah sengaja dipilih penulisnya untuk "menyayat" hati pembacanya. selain itu, masih banyak lagi keistimewaan cerpen sedih jika dibanding dengan jenis cerpen lainnya.

Biasanya, cerpen sedih selalu berisikan seputar percintaan, perpisahan, kehilangan seseorang yang dicintai, dan beberapa tema yang kerap mengundang kesedihan lainnya, seperti halnya cerpen sedih yang akan penulis hadirkan berikut ini.

Ya, Cerpen sedihini berjudul Selamat pagi, Diaz! Cerpen sedih ini terilhami dari kisah seorang ibu yang belum dikaruniai anak, suatu hari berkenalan dengan anak tetangganya yang lucu. Tapi siapa sangka ini justru awal dari cerita sedihnya. Seperti apa isi cerpen sedih tersebut? Berikut adalah cerita lengkap cerpen sedih, Selamat Pagi, Diaz!

Selamat Pagi, Diaz!

Saat aku berangkat mengajar, terlihat Diaz telah siap di teras dengan seragam taman kanak-kanaknya. Anak manis itu selalu menyapa: "Celamat pagi, Bu Guyu!" Begitu pula ketika pulang sore hari, Diaz telah siap menunggu. Kadang dia telah rapi dan wangi, tapi sering pula masih terkantuk-kantuk. Kupikir tentu ia baru bangun dari tidur siangnya.

Keakraban aku dengan Diaz telah mempertemukan dua keluarga kami. Kang Dani pun jadi akrab dengan papa Diaz, apalagi ternyata keduanya punya kegemaran yang sama yaitu main catur. Tapi karena kesibukan masing-masing, mereka praktis hanya bisa ketemu di setiap akhir pekan, itu pun kalau papa Diaz tidak jalan-jalan keluar rumah dan biasanya baru pulang hampir tengah malam. Sesekali aku berkunjung ke rumahnya.

"Celamat pagi, Bu Guyu!" sapa Diaz suatu pagi. Aku tersenyum dan jongkok, lalu mencium anak manis itu. Ia melambaikan tangan ketika aku berjalan meninggalkannya. Sejak sering ketemu Diaz, kenapa jadi sering uring-uringan hanya karena belum punya anak, bilang kang Dani suatu malam.

Malam itu rumah kami terasa sunyi. Di televisi tak ada satu pun acara yang menarik perhatian, kemudian kami memutuskan untuk segera tidur. Tapi, di dalam kamar justru muncul sedikit cekcok dan berujung pada protes suamiku seperti tadi.

Pagi-pagi berikutnya aku tetap menikmati pertemuan singkat itu. Aku tak peduli pada warning dari kang Dani, yang nggak mau aku berubah melankolis gara-gara akrab dengan anak lucu itu. Bahkan, setiap sore aku demikian semangat saat melihat gerbang kompleks perumahan kami.

Suatu sore dia cerita kalau bisa menghitung sampai sepuluh. Dia pun mulai menghitung dengan menggunakan jari-jemariku. Sore yang lain ia cerita kalau telah bisa berdo'a sebelum tidur. Lalu, dengan suara patah-patah ia mulai melantunkan do'a sebelum tidur. Benar-benar senang melihatnya. Aku peluk anak manis itu dan dihujani dengan ciuman. Ciuman kebanggaan dari seorang ibu.

Ketika aku ceritakan semua kejadian itu pada kang Dani, betapa marahnya ia. Bahkan berjanji akan mengusir anak itu kalau aku masih terlihat berakrab-akrab dengannya.

Sebenarnya aku tak akan mau mendengar cerita pengasuh Diaz, kalau saja tahu ceritanya itu akan berbuntut rasa kecewa di hatiku. Pengasuhnya bilang, mama Diaz sering dibuatnya kesal karena Diaz sekarang ini tak mau digendong.

Saat Diaz nangis katanya, mamanya tak bisa membuat anak itu diam. Baru ketika pengasuhnya berjanji, akan membawanya ke "bu guyu", anak itu mulai berangsur-angsur diam.

"Nggak tahu bu Guru, Diaz juga sering ngigau saat tidur kalau sehari saja tidak ketemu ibu," cerita pengasuhnya saat aku kembali dari liburan catur wulan.

Seperti pagi-pagi sebelumnya aku berangkat kerja. Di halaman Diaz menyambutnya dengan ocehan "celamat pagi, Bu guyu !". Akupun menjawabnya "selamat pagi, Diaz!". Dia pun tersenyum, lalu merentangkan tangan mungilnya.

"Mbak Diaz! Masuk!"

Anak itu ketakutan lalu menghambur ke arah pengasuhnya. Entah apa yang telah terjadi. Tapi saat aku mengangguk pada mamanya yang berdiri kukuh itu, ia sama sekali tak membalasnya. Bahkan, aku menangkap roman tidak senang. Aku pun berlalu. Benar-benar sakit hati rasanya. Tapi rasa sakit itu aku coba pendam.

Sore itu aku tak menemukan Diaz. Bahkan, keesokan harinya saat aku berangkat, juga tak menemukan anak manis itu lagi. Berkali-kali aku ingin menelpon sekadar menanyakan kabar tentang Diaz. Tapi setiap itu pula aku teringat sorot mata penuh benci dari mamanya.

Jemariku tak punya kekuatan untuk memijit nomer-nomer itu. Akhirnya aku hanya melamun dan mengutuki diri sendiri. Sejak kejadian itu aku seperti kehilangan semangat. Menyambut pagi rasanya lemas.

Kalau saja tidak mengingat tanggung jawab dan arti kehadiranku di ruang kelas, pasti aku akan memilih diam menyendiri di kamar. Setiap pulang dan melihat gerbang, aku malah berurai air mata. Tanpa Diaz, aku seperti kehilangan sebagian jiwaku.

"Aku paham kamu merasa kehilangan, tapi sebenarnya kalau aku boleh jujur, aku sangat bahagia. Paling tidak dengan kejadian ini akan mengembalikan kesadaran kamu yang selama ini hilang,” bilang Kang Dani.

"Enak aja ngomong. Sejak kapan aku kehilangan kesadaran ?" protesku.

"Sejak kamu akrab dengan Diaz. Kalau kamu mau jujur, sebenarnya kamu sedang berada dalam dunia angan-angan. Itulah kenapa aku tak setuju, kamu terlalu akrab dengan anak tetangga itu."

"Mestinya kamu tidak bicara seperti itu, Dan. Coba sedikit mengerti tentang perasaanku sebagai wanita ... "

"Yang belum dikaruniai momongan..." kang Dani melanjutkan. Aku diam. Air mata kembali jatuh tak bisa aku tahan.
Sore hari lewat gordyn aku melihat sedan keluar dari garasi, di jok depan jelas hanya ada mama Diaz. Ia nyetir sendiri. Tiba-tiba muncul keberanianku untuk menelpon. Telpon diterima oleh pengasuhnya.

"Sore, Mbak. Diaz ada?"

"Dari mana?"

"Bu Guru!"

"Lagi tidur, Bu!" katanya pelan.

Suatu pagi seperti biasa aku berangkat kerja. Aku tak ingin berangan-angan lagi. Karena aku sangat sadar, angan-anganku itu pada akhirnya akan mengakibatkan aku nelangsa.

"Celamat pagi, bu Guyu!"

"Diaz?" aku tersentak dan bersorak mendengar suara putri mungil itu. Aku berbalik dan betapa kagetnya menemukan Diaz berdiri di balik pagar besi yang kokoh dan tinggi.

"Celamat pagi, bu Guyu!" ulangnya. Aku gemetar tapi tak ingin aku menangis.

***

Bagaimana menurut Anda cerita dalam cerpen sedih di atas? Menarik, bukan? Selain menarik, jika dibaca dengan penghayatan yang lebih mendalam, Anda akan merasakan suasana dan perasaan yang sama eperti yang dirasakan oleh bu guru dalam cerpen sedih di atas.

Ya, kekuatan diksi dan pencitraan penulis cerpen sedih yang sudah ahli memang selalu berhasil membuat pembacanya seolah-oalah seperti menjadi tokoh utama dalam cerpen sedih yang dibuatnya. Acungan jempol layak diberikan pada penulis-penulis cerpen sedih.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Menulis Pantun Sahabat Di Akhir Pekan
  • Resensi Novel Jalan Tak Ada Ujung
  • Membuat Ringkasan Novel
  • Belajar Dari Contoh Cerpen Persahabatan
  • Teknik Menulis Resensi Fiksi
  • Tips Menulis Dongeng Pendek Bahasa Inggris
  • Contoh Resensi Novel Fiksi
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA