logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Sosial    Masalah Sosial

Ayam Kampus - Fenomena Ceweknakal di Kampus


Ilustrasi ceweknakal

Pernahkah Anda mendengar kata-kata ayam kampus diucapkan oleh sekelompok orang? Atau kata-kata ayam kampus diberitakan di berbagai media cetak dan elektronik? Tentunya Anda sudah mengerti bahwa pengertian ayam kampus disini, bukan merujuk pada binatang jenis ayam sesungguhnya yang berkeliaran di kampus. Tetapi, ayam kampus adalah istilah bagi ceweknakal dari kalangan mahasiswi.

Ceweknakal dan Eufimistik

Mewarisi adat Timur, masyarakat Indonesia dikenal santun dalam berbahasa. Dalam percakapan sehari-hari, kata-kata kasar atau vulgar teramat jarang diucapkan. Kalau pun diucapkan, kata-kata tersebut biasanya sudah ‘diperhalus’ bahasanya. Dalam ilmu kebahasaan, ini dikenal dengan istilah eufimistik.

Yakni penggunaan kata atau kalimat yang secara etika lebih santun digunakan daripada kata atau kalimat tertentu yang dianggap kasar atau tidak santun. Salah satu contohnya adalah penggunaan istilah ceweknakal di kampus yang disebut sebagai ayam kampus.

Sebagian masyarakat Indonesia cenderung menggunakan pengertian ceweknakal di kampus dengan istilah ayam kampus. Padahal, penggunaan ayam kampus bagi yang tidak mengerti akan memaknainya seperti lahiriah arti dari kalimat tersebut (makna denotatif) yakni ayam sungguhan. Padahal, ayam kampus di sini merujuk pada makna konotatifnya (istilah), yaitu sebutan bagi pelacur atau ceweknakal yang masih berstatus mahasiswi.

Begitu juga dengan kata pelacur, jarang diucapkan. Dipilih kata atau kalimat lain yang dianggap lebih santun didengar atau dibaca, seperti wanita tuna susila (WTS) atau pekerja seks komersial (PSK). Bukan dengan menyebut dengan kata pelacur yang dinilai ‘kasar’ dan ‘tidak beradab’ dikatakan atau dituliskan. Kata WTS atau PSK adalah contoh lain penggunaan eufimistik yang menggambarkan ceweknakal (pelacur) di masyarakat yang kini lebih lazim digunakan.

Sangat jarang ada tokoh masyarakat yang berbicara menggunakan kata pelacur untuk merujuk pada makna ceweknakal penjajah seks. Mereka akan menggunakan kata-kata lain yang secara bahasa dianggap santun atau etis oleh masyarakat luas. Kalau pun ada yang menyebut cewek nakal dengan kata pelacur, biasanya hanya dari kalangan budayawan (seniman) yang tidak terlalu mempedulikan segala ‘tata krama’ dalam berbahasa.

Para budayawan umumnya tipikal orang spontanitas, baik itu dalam berperilaku maupun dalam berbicara. Bagi mereka, penggunaan eufimistik dalam berbahasa hanya akan mengaburkan makna seseungguhnya dari apa yang dimaksud. Selain itu, eufimistik juga mencederai kecenderungan budayawan yang menyukai sesuatu apa adanya.

Jika baik maka katakan baik. Begitu juga jika jelek, akan dikatakan jelek. Tidak akan ditutupi dengan menggunakan kalimat yang secara lahiriah bermakna positif atau netral seperti lazimnya kalimat yang mengandung makna eufimistik.

Ceweknakal di Kampus dan Kebobrokan Moral

Kembali ke perbincangan mengenai ceweknakal di kampus (ayam kampus), sejatinya merupakan sesuatu yang memprihatinkan. Memang, hingga saat ini belum ada sumber valid yang menginformasikan kapan mulanya istilah ayam kampus mulai digunakan untuk memotret munculnya praktik prostitusi di kampus.

Yaitu, fenomena ceweknakal dari kalangan mahasiswi yang menjalani dua kehidupan secara bersamaan, sebagai pelajar dan pelacur. Dua kehidupan yang saling bertolak belakang. Yang satunya memiliki citra positif (kehidupan sebagai pelajar) dan satunya bercitra negatif (kehidupan sebagai pelacur). Namun, ada sebagian pemerhati sosial menyatakan istilah ayam kampus mulai marak digunakan oleh masyarakat sekitar pertengahan tahun 90-an.

Tentu saja, fenomena ceweknakal di kampus dalam praktiknya telah ada jauh sebelum era 90-an. Hanya saja istilah ayam kampus belum lazim digunakan. Selain itu, pengaruh kebebasan media pascareformasi ’98, juga turut andil dalam membuka selubung kehidupan hitam di masyarakat. Segala borok masyarakat berupa berbagai penyakit sosial seperti korupsi, perjudian hingga prostitusi terselubung, diangkat ke permukaan dan diketahui khalayak umum.

Ada pun fenomena ceweknakal di kampus termasuk salah satu bentuk dari prostitusi terselubung. Sesuatu yang sebelumnya hanya diketahui segelintir orang (bersifat eksklusif), kini sudah jadi konsumsi publik. Istilah ayam kampus pun digunakan untuk menyebut para mahasiswi yang berprofesi sebagai perempuan penjajah seks atau pemberi kenikmatan sesaat.

Maraknya pemberitaan akan fenomena ceweknakal di kampus, jelas merupakan pukulan telak bagi penegakan moralitas di masyarakat. Indonesia yang dikenal sebagai negara religius dan disebut-sebut masih memegang teguh tradisi Timur dengan segala norma sosialnya, kiranya harus mulai melakukan introspeksi mendalam.

Sudah sejauh mana pengaruh kebebasan berperilaku yang diusung oleh dunia Barat dengan tradisi filsafat liberalisme, memengaruhi alam pikir masyarakat Indonesia. Dan sampai dimana pemahaman nilai-nilai agama yang dianut, mampu menyaring hal-hal negatif dari kebebasan (salah satunya kebebasan dalam perihal kehidupan seks) ala dunia Barat.

Apalagi, fenemona ceweknakal ini terjadi di kampus. Suatu tempat yang idealnya menjadi garda terdepan dalam mendidik dan mencetak manusia yang bukan hanya cerdas dalam hal kemampuan intelektual, namun juga memiliki moralitas yang selaras dengan nilai agama dan adat ketimuran masyarakat Indonesia.

Kenyataan akan keberadaan ceweknakal berstatus sebagai mahasiswi, harus menjadi keprihatinan bersama. Semua elemen masyarakat seyogyanya segera tanggap untuk bertindak. Berpikir mencari solusi dan melakukan aksi yang efektif dalam menangkal bahaya dari praktik prostitusi terselubung berwajahkan dunia kampus ini.

Hal tersebut bisa dimulai dari pembenahan sistem pendidikan di Indonesia yang miskin akan nilai-nilai keteladanan atau moralitas (akhlak) dalam praktik kehidupan sehari-hari. Termasuk juga menguatkan pendidikan di tingkat keluarga dan masyarakat di luar kehidupan kampus.

Jadi, sinergi antara pihak penyelenggara pendidikan formal (dunia kampus) dengan pihak penyelenggara pendidikan nonformal (keluarga dan masyarakat umum) diharapkan dapat meredam fenomena ceweknakal di kampus yang kini semakin menggejala di mana-mana.

Ceweknakal di Kampus dan Keluarga Broken Home

Ada asumsi yang menyatakan bahwa fenomena ceweknakal di kampus disebabkan oleh faktor ekonomi. Yakni tuntutan kebutuhan hidup (khususnya biaya kuliah dan sebagainya) yang tidak diiringi kemampuan untuk mencari uang dengan cara halal, selain dengan melacur. Alasan yang juga menjadi sebab keumuman mengapa seorang perempuan memilih berprofesi sebagai seorang pelacur.

Hanya saja, asumsi ini segera tertolak ketika mencermati fenomena ceweknakal di kampus. Lazimnya, para ceweknakal (ayam kampus) tersebut berasal dari keluarga kaya atau paling tidak dari keluarga menengah ke atas. Jadi, tidak mungkin mereka memilih menjadi ceweknakal karena alasan finansial terbatas.

Ada juga asumsi menyatakan bahwa ceweknakal di kampus rata-rata berasal dari keluarga broken home. Jadi, alasan mereka memilih menjadi ceweknakal bukan disebabkan masalah finansial, tetapi karena masalah psikologis akut. Mereka memilih untuk melacur sebagai suatu bentuk pelampiasan (katarsis) dari kondisi keluarga tidak harmonis.

Asumsi ini mendekati kebenaran dalam memotret realita ceweknakal di kampus. Mengapa? Karena walaupun tidak semua ayam kampus itu melacur karena faktor psikologis, tapi sebagian besar memang berasal dari keluarga broken home.

Dan efek negatif dari keluarga broken home, membuat mereka memilih mencari kebahagiaan di luar rumah, yakni dengan cara menjajakan tubuhnya kepada siapa saja yang mereka minati. Bahkan, ada sebagian ceweknakal tidak meminta bayaran kepada orang yang berhubungan seksual dengan mereka. Hubungan terjadi murni karena suka sama suka, tidak ada motif ekonomi sedikit pun.

Kondisi ini pastinya sangat memiriskan. Bukan hanya moralitas yang sudah dihargai teramat murah, tapi hubungan seksual antara manusia pun dimaknai sekadar aktivitas biasa. Tidak ada lagi penghargaan terhadap sakralitas dan kesucian dari hubungan intim tersebut. Untuk itu, fenomena cewek nakal di kampus mengantarkan pada satu kesimpulan bahwa nilai-nilai agama dan norma sosial di masyarakat, harus dapat dinternalisasikan dengan baik.

Caranya, seperti telah dibahas sebelumnya yaitu melalui penguatan pendidikan berbasis karakter, baik di sekolah (kampus) maupun di dalam keluarga yang merupakan titik awal pembentukan karakter seseorang.

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Mencegah Kerusakan Lingkungan Hidup
  • Sekilas Tentang Lagu Anak Jalanan
  • Golput, Masalah Sosial Masyarakat
  • Hantu Itu Bernama Masalah Kependudukan
  • Faktor Penyebab Pengangguran
  • Pandangan Faktor Penyebab Kemiskinan
  • Dampak Negatif Berita Kriminal Pemerkosaan
  • Menelisik Akar Masalah TKI Bermasalah
  • Menjadi Pekerja PSK, Siapa Mau?
  • Menangani Kasus Kekerasan TKI secara Tuntas
  • Berbagai Masalah Sosial yang Dihadapi Indonesia - ANNEAHIRA.COM
  • Jenis Jenis Pengangguran dan Potensi Problem Sosial
  • Masalah Kemiskinan di Indonesia
  • Pengertian Penyimpangan Sekunder (Secondary Deviance)
  • Kekerasan TKI di Malaysia
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA