Ciri-Ciri Masyarakat Modern
Ilustrasi ciri ciri masyarakat modern
Ciri-ciri masyarakat modern dapat kita temukan di perkotaan. Pendorong munculnya modernisasi, seperti perkembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan teknologi, hampir berkembang secara dinamis di perkotaan.
Meskipun demikian, bukan berarti ciri-ciri masyarakat modern tidak dapat kita jumpai di desa-desa. Siapa pun yang selaras dengan semangat modernisasi pasti akan memiliki ciri-ciri masyarakat modern.
Pada umumnya, para pakar sepakat bahwa ciri utama yang melatarbelakangi ciri-ciri masyarakat modern adalah derajat rasionalitas yang tinggi berdasarkan pada nilai dan pola yang objektif (impersonal) dan efektif (utilitarian). Ia cenderung mengihdari nilai-nilai yang bersifat primordial, seremonial, atau tradisional.
Masyarakat Modern dan Ciri-Ciri Masyarakat Modern
Setiap pembahasan mengenai modernisasi harus berha dapan dengan adanya postulasi
bahwa modernisasi, paling tidak dalam pengertiannya sekarang, sinonim dengan westernisasi. Jelas memang cara berpakaian, pola konsumsi dan gaya hidup pada umumnya dari “orang modern” bersumber dari barat. Yang dimaksud “barat” di sini adalah sistem nilai yang awalnya berkembang di Eropa bagia n Barat dan menyebar ke benua-benua lain.
Banyak pihak menampik pandangan ini. Beberapa pakar dari dunia Barat, seperti Giddens
(1991, 1995), juga berpendapat bahwa meskipun pada tahap awalnya proses modernisasi ini
berlangsung di dunia Barat (baca: Eropa Barat), tetapi dengan berkembangnya negara-negara
baru, (banyak di antaranya yang maju seperti di kawasan dunia bagian timur), dan perubahan yang makin cepat terjadi dalam masyarakat modern, menunjukkan telah terjadi persenyawaan dari nilai-nilai yang berkembang di dunia Barat dengan bagian dunia lainnya.
Dengan demikian konsep modernisasi tidak hanya mengenal satu model yang seragam, tetapi dapat terdiri dari beragam model. Misalnya, Jepang banyak menyumbang kepada peningkatan proses dan teknologi produksi yang besar pengaruhnya pada makin cepatnya perkembangan teknologi di dunia.
Sekarang disadari bahwa tidak hanya ada satu jalan ke arah modernisasi, yaitu mengikuti
urutan-urutan yang dialami negara-negara Barat. Sekali lagi misalnya Jepang, dan negara-negara industri baru lainnya di kawasan Asia Timur, menempuh jalan pintas untuk tiba pada taraf modernisasi yang setara dengan negara-negara Barat.
Namun, setelah mengatakan demikian, tidak dapat kita menghindari kenyataan bahwa dunia modern sekarang berawal dari modernisasi Eropa, khususnya dipacu oleh proses industrialisasinya. Proses itu sendiri dipicu oleh revolusi ilmu pengetahuan yang terjadi sekitar empat abad yang lalu, dibangkitkan oleh Galileo dan dikembangkan serta dilembagakan oleh Bacon, tetapi pengembangan ilmu pengetahuan itu (scientific knowledge), barulah mengambil bentuk yang nyata setelah revolusi industri, bahkan menurut para ahli baru sekitar pertengahan abad ke-19.
Memang benar bahwa dalam perjalanan sejarah manusia yang panjang, telah terbentuk pusat-pusat peradaban di berbagai bagian dunia, dan telah terjadi pergeseran pada pusat-pusat keunggulan teknologi yang mencerminkan tingkat peradaban. Selama 10 abad, antara abad ke-3 sampai dengan abad ke -13, ilmu dan teknologi di Cina jauh berada di atas bangsa-bangsa di Eropa.
Bukan hanya dari Cina Eropa belajar, melainkan juga dari dunia Islam. Pada awal abad pertengahan, titik pusat peradaban Eropa berada di wilayah Laut Tengah, yang pada waktu itu dikuasai oleh Islam mulai dari Timur Tengah, Afrika Utara sampai Spanyol.
Sehingga apabila pengertian modern dan modernitas kita batasi semata-mata dengan
perkembangan kemajuan peradaban suatu negara yang didorong oleh perkembangan pengetahuan dan teknologinya, jelas bahwa modernisasi tidak sebatas westernisasi.
Namun, pengertian modernitas yang dikenal sekarang lebih luas dan unsur-unsurnya
meliputi keseluruhan aspek-aspek kehidupan masyarakat, selain ilmu pengetahuan dan teknologi, juga sistem ekonomi, sistem politik, dan tata hubungan antarindividu dan antara individu dan kelompok-kelompok masyarakat, katakanlah sistem sosialnya. Dan tidak bisa kita sangkal rujukannya ada pada perkembangan peradaban dan budaya Barat yang terjadi dalam dua abad terakhir ini.
Seperti dikemukakan tadi, tidak hanya ada satu model masyarakat modern. Namun, pada
umumnya para pakar sepakat bahwa ciri utama yang melatarbelakangi sistem atau model mana pun dari suatu masyarakat modern, adalah derajat rasionalitas yang tinggi dalam arti bahwa kegiatan-kegiatan dalam masyarakat demikian terselenggara berdasarkan nilai-nilai dan dalam pola-pola yang objektif (impersonal) dan efektif (utilitarian), ketimbang yang sifatnya primordial, seremonial atau tradisional.
Derajat rasionalitas yang tinggi itu digerakkan oleh perkembangan-perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dan teknologi seringkali disebut sebagai kekuatan pendorong (driving force) bagi proses modernisasi. Dengan derajat rasionalitas yang tinggi itu, maka berkembang antara lain ciri-ciri masyarakat modern yang kurang lebih berlaku umum, seperti:
1. Tindakan-Tindakan Sosial
Dalam masyarakat tradisional, tindakan-tindakan sosial (social action) lebih bersandar
pada kebiasaan atau tradisi, atau prescribed action. Dalam masyarakat modern, tindakantindakan sosial akan lebih banyak bersifat pilihan. Oleh karena itu, salah satu ciri yang terpenting dari masyarakat modern adalah kemampuan dan hak masyarakat untuk mengembangkan pilihan-pilihan dan mengambil tindakan berdasarkan pilihannya sendiri.
2. Orientasi Terhadap Perubahan
Dalam masyarakat pramodern, perubahan berjalan lambat. Dalam masyarakat praagraris
perubahan bahkan hampir tidak terjadi selama ribuan tahun. Makin maju masyarakat makin cepat perubahannya. Masyarakat modern adalah masya rakat yang senantiasa berubah cepat, bahkan perubahan itu melembaga.
Seperti sering dikatakan “orang modern”: satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Perubahan ini merupa kan ciri tetapi sekaligus masalah yang senantiasa dihadapi masyarakat modern, karena frekuensinya yang makin cepat, sehingga acapkali tidak bisa diikuti oleh seluruh lapisan masya rakat.
Akibatnya, maka terjadi ketegangan-ketegangan dan bahkan disintegrasi dalam masyarakat yang lebih berat bebannya dan lebih traumatis akibatnya dibandingkan dengan pada masyarakat tradisional yang langka perubahan. Perubahan itu sendiri didorong dan dipercepat oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang sepertinya roda percepatannya bergerak dengan intensitas yang makin tinggi.
Ciri-Ciri Masyarakat Modern
Derajat rasionalitas yang tinggi itu disebabkan oleh perkembangan-perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam semangat modernisasi yang seringkali disebut sebagai kekuatan pendorong.
Hal itulah yang menyebabkan terbentuknya ciri-ciri masyarakat modern seperti berikut ini.
- Dalam masyarakat modern, tindakan sosial diambil berdasarkan pilihan, bukan berdasar kebiasaan atau tradisi.
- Masyarakat modern selalu mengalami perubahan-perubahan secara cepat karena kualitas permasalahan yang dihadapai oleh masyarakat modern cenderung kompleks sehingga masyarakat modern terus berupaya menyesuaikan diri.
- Kompleksitas permasalahan yang dihadapi masyarakat modern memunculkan adanya spesialisasi di segala bidang.
- Sistem perekonomian masyarakat modern berorientasi pada efisiensi dan kemampuan untuk memelihara pertumbuhannya, sedangkan mekanismenya bertumpu pada pasar.
- Dalam masyarakat modern, hubungan antarindividu telah jauh berkurang. Masyarakat modern cenderung individualis, namun lebih objektif dalam memandang individu lainnya.
- Dalam masyarakat modern, penghargaan lebih besar diberikan kepada individu berdasarkan kemampuan intelektualnya yang mendatangkan banyak prestasi.
- Manusia modern selalu ingin memperoleh pengakuan sebagai individu, selain sebagai anggota masyarakat.
- Masyarakat modern senantiasa berupaya untuk terus maju, tidak statis, dan berusaha menampilkan serta mencari yang terbaik sehingga masyarakat modern sangat menjunjung tinggi profesionalitas.
- Pada umumnya, manusia modern mampu membimbing dirinya sendiri. Mampu menetapkan pilihan-pilihan dan mengambil keputusan sendiri untuk menghadapi setiap perubahan-perubahan.
- Struktur sosial masyarakat modern bersifat terbuka dan sukarela.
- Mobilitas sosial masyarakat modern sangatlah tinggi, baik ke atas maupun ke bawah sehingga siapa pun bisa berpindah-pindah kelas, atas atau bawah, kapan saja, bergantung pada potensinya.
- Masyarakat modern menjunjung tinggi HAM dalam memperoleh keadilan, kesempatan, serta hak dan kewajiban yang sama.
- Tingkat perekonomian dan pendidikan masyarakat modern umumnya merata dan berada pada garis menengah.
- Hukum yang digunakan adalah hukum tertulis formal daripada nilai-nilai normatif dalam masyarakat.
Dampak Modernisasi dalam Masyarakat Modern
Saat memasuki era milenium ketiga ini, tampaknya arus modernisasi dan globalisasi tidak akan dapat dihindari oleh negara-negara di dunia dalam berbagai aspek kehidupannya. Menolak dan menghindari modernisasi dan globalisasi sama artinya dengan mengucilkan diri dari masyarakat internasional.
Kondisi ini tentu akan menyulitkan negara tersebut dalam menjalin hubungan dengan negara lain. Berbagai tanggapan dan kecenderungan perilaku masyarakat dalam menghadapi arus modernisasi dan globalisasi. Secara garis besar dapat dibedakan menjadi sikap positif dan sikap negatif berikut ini.
- Penerimaan secara terbuka atau open minded. Sikap ini merupakan langkah pertama dalam upaya menerima pengaruh modernisasi dan globalisasi. Sikap terbuka akan membuat kita lebih dinamis, tidak terbelenggu hal-hal lama yang bersikap kolot, dan akan lebih mudah menerima perubahan dan kemajuan zaman.
- Mengembangkan sikap antisipatif dan selektif; sikap ini merupakan kelanjutan dari sikap terbuka. Setelah kita dapat membuka diri dari hal-hal baru, langkah selanjutnya adalah kita harus memiliki kepekaan (antisipatif) dalam menilai hal-hal yang akan atau sedang terjadi kaitannya dengan pengaruh modernisasi dan globalisasi.
- Sikap antisipatif dapat menunjukkan pengaruh yang timbul akibat adanya arus globalisasi dan modernisasi. Setelah kita mampu menilai pengaruh yang terjadi, maka kita harus mampu memilih (selektif) pengaruh mana yang baik bagi kita dan pengaruh mana yang tidak baik bagi kita.
- Adaptif, sikap ini merupakan kelanjutan dari sikap antisipatif dan selektif. Sikap adaptif merupakan sikap mampu menyesuaikan diri terhadap hasil perkembangan modernisasi dan globalisasi. Tentu saja penyesuaian diri yang dilakukan bersifat selektif, artinya memiliki pengaruh positif bagi si pelaku.
- Tidak meninggalkan unsur-unsur budaya asli, seringkali kemajuan zaman mengubah perilaku manusia, mengaburkan kebudayaan yang sudah ada, bahkan menghilangkannya sama sekali.

