Contoh Bisnis: Bisnis Bau
Contoh bisnis kali ini adalah bisnis yang berbau. Bau yang tidak sembarang bau. Bau banget dan sangat menusuk hidung. Setiap kali melintasi tempat tersebut, bersiaplah menghirup aroma yang membuat perut mual, bila belum terbiasa. Namun, bau ini mendatangkan lembaran pecahan seratusan ribu yang tidak sedikit.
Bau apakah itu?
Sebelum mulai berbisnis, lakukan survei. Tidak hanya pasar, tempat, dan harga, tetapi juga survei tempat produksi alias contoh pabrik yang telah atau sedang beroperasi.
Bicara tentang pabrik atau tempat produksi, pernahkah Anda mengunjungi pabrik karet, pabrik kelapa sawit, dan pabrik tahu? Ketiganya adalah contoh produk yang cukup menjanjikan, bukan?
Apalagi, untuk karet dan kelapa sawit. Sekali panen, jutaan rupiah sudah bisa dipastikan mengalir ke rekening Anda. Meskipun demikian, tahukah Anda bahwa ketiganya mempunyai kesamaan yang tidak disukai orang banyak?
Ketiganya bau. Bau tersebut berasal dari limbahnya. Limbah kelapa sawit yang masih basah biasanya ditumpuk di beberapa tempat dan membentuk bukit-bukit setinggi kurang lebih 8-10 meter. Baunya seperti berada di pegunungan sampah.
Limbah karet pun tidak kalah baunya. Dari jarak ratusan meter, bau tersebut sudah tercium. Begitupun limbah tahu, tidak kalah bau dari kedua bisnis yang disebutkan sebelumnya.
Untuk limbah kelapa sawit, kalau sudah kering, akan menjadi pupuk yang sangat bagus. Jadi, bau itu bau pembusukan yang memang sangat dibutuhkan. Limbah karet memang belum secemerlang limbah kelapa sawit.
Sementara limbah tahu, ada yang memanfaatkan sebagai makanan babi. Selain itu, masyarakat banyak merasa bahwa limbah tahu menjadi pengganggu hidung dan perusak air sungai –bila limbah tersebut di alirkan langsung ke sungai tanpa diolah tersebih dahulu-.
Ketiganya hanyalah sedikit contoh tentang bisnis berbau. Masih banyak contoh lainnya, seperti bisnis sampah, pembuatan kompos, dan pupuk. Lalu, tetap menarikkah bisnis yang berbau ini?
Tentu saja. Kita ambil contoh di wilayah Sumatera Selatan. Maraknya bisnis kelapa sawit dan karet, ditambah semakin meleknya mata masyarakat akan bisnis ini, membuat begitu banyak hutan menjadi kebun kelapa sawit dan karet.
Harga tanah meningkat tajam. Bila beberapa tahun lalu harga tanah satu hektar (sekali lagi, satu hektar atau 10.000 meter persegi) hanyalah Rp 1.500.000,00 atau malah kurang dari harga tersebut. Kini, dengan harga karet yang bisa mencapai Rp 9000,00/kilo gram, tidak ada masyarakat yang tertarik untuk menjual tanahnya lagi kalau tidak sangat terpaksa.
Bayangkan, seorang petani inti yang mempunyai lahan sekitar 3 hektar, baru saja membeli motor Yamaha Scorpio keluaran terbaru seharga Rp 22.500.000,00. Sang petani juga dengan santainya mengunjungi cucu-cucunya yang ada di Medan, Depok, dan Yogyakarta dalam waktu dua minggu.
Mempunyai rumah besar dengan desain modern, naik pesawat bak seorang pebisnis, membeli makanan di bandara, mengganti HP berkali-kali, makan di restoran yang sekali makan bisa habis Rp 200.000,00, bukanlah hal mewah lagi baginya.
Seiring semakin meningkatnya pengetahuan para petani sukses tersebut, semakin paham juga mereka betapa berharganya tambang ‘emas’ bau tersebut. Tertarik dengan bisnis ini?
Teruskanlah niat Anda berbisnis di bidang ini.






