Contoh Komunikasi Verbal Wanita dan Pria
Pria dan wanita diciptakan untuk saling mencintai. Namun, tidak jarang kita temui dalam kisah percintaan dua jenis insan yang berbeda ini terjadi pertikaian di antara mereka. Katanya cinta, tapi kok sering berantem?
Ya, cinta yang dibangun terkadang malah berakhir dengan perpisahan. Terkadang kaum pria tidak mengerti apa yang diinginkan oleh kaum wanita.
Pun para wanita, kebingungan dengan apa yang diinginkan oleh kaum pria. Ketidak saling mengerti ini berpuncak pada masalah perbedaan komunikasi verbal di antara mereka.
Dalam buku Men are from Mars and Women are from Venus, Dr. John Gray menjelaskan perbedaandi antara mereka yang merusak terciptanya hubungan cinta yang saling melengkapi.
Dr. John Gray mencoba memberi trik mengenai cara mengatasi perbedaan dalam gaya komunikasi, kebutuhan emosional, dan cara tingkah laku untuk memajukan suatu pemahaman yang lebih besar di antara masing-masing pasangan.
Berdasarkan hasil penelitiannya, ungkapan Men are from Mars and Women are from Venus dapat dijelaskan melalui perbedaan kosakata yang digunakan oleh pria dan wanita. Salah satu penyebanya adalah sosialisasi mereka yang berbeda, khususnya minat mereka yang berlainan terhadap berbagai aspek kehidupan.
Contoh Komunikasi Verbal Wanita
Konon, wanita mengenal lebih banyak nama warna dan lebih sering menggunakan kata-kata sifat. Hal ini kemungkinan karena wanita sering berada dalam dominasi pria, bahasa mereka tidak setegas bahasa pria.
Wanita juga lebih sering menggunakan kalimat-kalimat yang mengandung questions tag seperti: “Anne Ahira ada di sini kan?” daripada “Apakah Anne Ahira ada di sini?” atau kalimat yang diakhir dengan ”betul?” atau “kan?”.
Kekurangpercayaan diri mereka juga diekspresikan lewat kata-kata penguat, misalnya sangat, amat, juga berbagai kata yang melemahkan seperti mungkin, sepertinya, dan tetapi.
Wanita juga lebih sering menggunakan kutipan langsung daripada menggunakan kata-kata sendiri dan juga lebih sering menggunakan pertanyaan atas jawaban pertanyaan yang bertujuan untuk mencari persetujuan.
Seperti jawaban atas pertanyaan “kapan kita berangkat?” adalah “sekitar pukul 6?”. Jawaban tersebut seolah-olah mencari persetujuan dan bertanya apakah waktu tersebut sesuai atau tidak.
Bahasa Wanita vs Bahasa Pria
Wanita menggunakan lebih banyak pertanyaan daripada pria dan mereka menggunakaannya sebagai strategi pemeliharaan percakapan. Wanita cenderung menata pembicaraan secara kooperatif, sedangkan pria cenderung menatanya secara kompetitif.
Komunikasi wanita juga ditandai dengan daya respon yang tinggi karena wanita peduli terhadap orang lain, misalnya dengan mengatakan “itu menarik”.
Dan yang paling menonjol dari wanita adalah paling sering melakukan pembicaraan ekspresif yang bertujuan untuk menyatakan emosi, memelihara dan menciptakan hubungan baik, menunjukkan dukungan, dan membangun komunitas.
Di samping itu, wanita juga menggunakan suara-suara yang menunjukkan bahwa mereka mendengarkan seperti “oh”, “betul”, “heegh”.
Interupsi mereka bukan untuk mengendalikan seperti yang dilakukan pria, bukan menantang atau mengancam lawan bicara, melainkan untuk mendukung atau menegaskan pembicara.
Sementara itu, pria lebih banyak menggunakan pembicaraan untuk mempengaruhi dan mengendalikan orang lain, melaporkan informasi, memecahkan masalah, dan menyelesaikan tugas melalui pertukaran informasi.
Pokok persoalan di sini bukanlah bahwa bahasa pria lebih baik daripada bahasa wanita. Hal ini hanya menunjukkan bahwa faktor sosial mendorong kita menggunakan bahasa yang sesuai dengan peran kita.Kerugian akan muncul ketika wanita dan pria tidak terampil mengubah suatu gaya ke gaya yang lain yang sesuai dengan tuntutan situasi.
Oleh karena itu, yang kita perlukan saat ini adalah keluwesan menggunakan bahasa, bagaimana agar pria dan wanita dapat menggunakan bahasa yang dimaksudkan untuk dapat saling mengisi kekurangan, tanpa saling menyakiti.






