logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Karya Ilmiah    Contoh Karya Ilmiah

Contoh Metode Ilmiah dalam Menyusun Paper


Ilustrasi contoh metode ilmiah

Meneliti itu proses yang jelas dan mempunyai arahan. Anda bahkan bisa mengikuti langsung dari contoh metode ilmiah yang sudah ada. Dari beragam contoh metode ilmiah, tentunya yang dari bidang Anda sendiri. Walau metode ilmiah yang dimaksud adalah kebanyakan yang dicari oleh para mahasiswa bidang sosial.

Cukup banyak kesulitan untuk membuat semacam kerangka menyusun paper. Yang utamanya karena kesulitan menerapkan teori di kelas dengan praktiknya di lapangan. Padahal, hal semacam itu bisa dikategorikan dengan bahasa yang lugas dan sederhana “tidak juga.”

Bidang sosial memang memiliki semacam kontruksi yang belum selesai tentang cara pandang menjadikan suatu kasus merupakan ‘ilmiah’ atau ‘tidak  ilmiah’. Apakah suatu gejala sudah universal, atau itu hanya letupan kontemporer yang tidak berlaku dalam hitungan waktu yang singkat.

Oleh karena itulah, di kalangan sarjana sosial, sedikit didapati rasa pede terhadap metode ilmiahnya sendiri. Ini karena merasa ingin menyempurnakan pengamatan ilmiah terhadap suatu permasalahan. Sebab pengamatan ilmiah bukan sekedar mengamati, juga bukan sekedar menonton. Pengertian pengamatan ilmiah sebagaimana yang ditulis Karl Weick yang dikutip dari Seltiz, Wrigtsman dan Cook dalam Rakhmat (2000) mendefinisikannya sebagai :

  1. Pemilihan,
  2. Pengubahan,
  3. pencatatan, dan
  4. pengkodean serangkaian perilaku dan suasana yang berkenaan dengan organisme in situ sesuai dengan tujuan-tujuan empiris.

Metode Ilmiah dalam Sudut Pandang Teoretis

Ketidaksempurnaan tidak menghentikan para filsuf sosial mengurai banyak masalah dengan metode ilmiah yang sudah ajeg. Dengan pelbagai teknik, pendekatan teoretis yang ada, dan pendekatan penelitian yang telah umum. Contoh metode ilmiah yang didapatkan pun semakin kaya, utamanya untuk mencari hal baru memahami humanisme. 

Dunia ilmiah pada abad ke-20 nyaris dikuasai ilmu-ilmu eksak – meminjam istilahnya Dilthey natuurwissenschaft, sedangkan Geisteswissenschaft harus mengekor pada metode ilmiah yang bercorak positivistik. (Filsafat Bahasa dan Filsafat Ilmu, Jurnal Filsafat, Desember 2003)

Contoh metode ilmiah sebagaimana yang dipahami sebagai paradigma klasik dari Thomas S. Kuhn, bisa kita jadikan batasan pemahaman, bagaimana metode ilmiah bisa dilakukan pada penelitian sosial. Sebagaimana dalam Ritzer, (1992 ) dan Bryman, (1988).

  1. Kuhn menekankan kesatuan metode ilmiah, di mana semua metode ilmiah bertujuan pada generalisasi.
  2. Kuhn mendorong peneliti untuk menolak teknik-teknik yang tidak ilmiah.
  3. Kuhn mendorong peneliti untuk menggunakan indikator-indikator perilaku yang tampak untuk mengetahui apa yang sedang berlangsung dalam benak para pelaku.
  4. Kuhn lebih menyukai metode ilmiah tradisional dengan menggunakan variabel-variabel dan definisi-definisi operasional yang diteliti.
  5. Kuhn lebih cenderung berpikir dalam kerangka yang lebih statis dan berstruktur baik dalam pentahapan proses penelitian atau pun instrumen pengumulan data yang dipergunakan.
  6. Peneliti cenderung melihat realitas sosial sebagai suatu wujud statis, yang telah jadi dan bisa diamati pada waktu tertentu.
  7. Peneliti cenderung terfokus dalam usaha penemuan “kebenaran”, atau the truth, yang berlaku umum untuk fenomena yang diteliti.
  8. Hubungan teori dengan data empirik adalah data empirik memberi konfirmasi bagi teori.
  9. Dalam analisis data, dipergunakan single level analysis (hanya pada level individu saja, atau komunitas saja).

Bagaimana Penerapan Praktis Metode Ilmiah

Kita juga bisa mengambil contoh langsung terhadap metode ilmiah-nya, dari penelitian tentang wayang, karya Yopie Nugraha. Ia adalah seorang sarjana ilmu komunikasi. Dalam penelitiannya, menggunakan pendekatan kualitatif dan pisau bedah etnografi. 

Sebagaimana dalam Lexy Moleong: Pada dasarnya, penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya pelaku dan lain-lain, secara holistic dan dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan beberapa metode ilmiah (Moleong, 2004). 

Selanjutnya, dalam kontruksi contoh metode ilmiah sebagaimana karya dari Yopie Nugraha di bawah ini.

1. Judul

Konstruksi Komunikatif Dalang Pada Era Modern.

2. Latar Belakang Masalah

Pada contoh metode ilmiah ini, penulis memberikan latar belakang  masalah “Dalang dalam dunia pewayangan diartikan sebagai seseorang yang mempunyai keahlian khusus memainkan boneka wayang (ndalang). Keahlian yang diperoleh dari bakat turun - temurun dari leluhurnya. Atau belajar secara formal.”

3. Identitifikasi Masalah

Identitifikasi masalah, atau juga disebut sebagai perumusan masalah, pokok bahasan, dan sebagainya. Dengan mengidentifikasikan beberapa permasalahan, sebagai berikut :

  1. Bagaimana makna situasi komunikatif pewayangan pada era modern.
  2. Bagaimana makna peristiwa komunikatif pewayangan pada era modern.
  3. Bagaimana makna tindak komunikatif pewayangan pada era modern.

4. Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian yang dipakai adalah kualitatif, deskriptif,  menggambarkan realitas yang kompleks, peneliti sebagai intrumen.

5. Teori

Teori yang dipakai yakni Etnografi sebagai ilmu pengetahuan yang menguraikan atau melukiskan segala sesuatu. Dengan kekhususan: Etnografi Komunikasi membangun suatu pengertian yang sistematik mengenai semua kebudayaan manusia dan perspektif orang.

6. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dikumpulkan penulis dalam penelitian didapat dengan menggunakan teknik-teknik:

a. Teknik Obsevasi Partisipasi

Pengamatan dilakukan tanpa dan dengan partisipasi peneliti. Mengamati sambil berpartisipasi dapat menghasilkan data yang lebih banyak, lebih mendalam, dan lebih terinci. Observasi dilakukan pada wilayah penelitian yang meliputi seluruh lokasi, tempat subjek penelitian melakukan aktivitas kesehariannya. Hasil pengamatan dicatat dalam suatu laporan harian dan selanjutnya dilakukan analisis terhadap hasil-hasil observasi tersebut.

b. Wawancara Terbuka dan Mendalam

Untuk melengkapi data dalam upaya memperoleh data yang akurat tentang penelitian ini, peneliti melakukan wawancara dengan informan. Menurut Guba, wawancara dilakukan untuk mengkonstruksikan mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, tuntutan, kepedulian, dan lain-lain. (Moleong, 2000:135)

Cara melakukan wawancara adalah mengikuti saran Moustakas bahwa “The Phenomenological interview involves an informal, interactive process and utilizies open-ended comment and questions” (Moustakas, 1994:114)

c. Studi Kepustakaan

Dilakukan dengan jalan mengumpulkan berbagai informasi seputar masalah yang dikaji. Lalu, dicari titik ketersinggungannya dengan realitas yang diamati. Penelusuran informasi lebih lanjut membantu peneliti dalam menganalisis masalah.

d. Observasi

Yaitu teknik di mana orang melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala atau fenomena yang diselidiki.

e.Instrumen Penelitian

Manusia sebagai informan Adalah alat bantu atau instrumen dalam penelitian ini. Instrumen penelitian di sini dimaksudkan sebagai alat mengumpulkan data, seperti tes pada penelitian kualitatif.

7. Teknis Analisis Data

Pada teknis analisis data, penulis akan memberikan rangkuman tentang tata cara melakukan analisis terhadap data yang telah digali. Cara penyampaian kembali, penyusunan kerangka pemikirannya, dan akhirnya memberikan kesimpulan.

Dalam hal ini, penulis menyimpulkan sementara dari data pembuka, bahwa wayang adalah dunia bayang-bayang hiperrealitas yang bukan dikuasai oleh sang dalang. Namun sebaliknya, sang dalang yang dikuasai oleh kontruksi lakon wayangnya.

8. Organisasi Karangan

Organisasi karangan merupakan cara penulis untuk membentuk idenya secara runut, tersusun, dan memiliki kerangka yang teroganisir. Berikut ini organisasi karangannya:

a. Bab I Pendahuluan

Bab ini memuat latar belakang masalah, perumusan masalah, identifikasi masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, pembatasan masalah, kerangka pemikiran, metode penelitian dan pendekatan, teknik pengumpulan data, serta organisasi karangan.

b. Bab II Tinjauan Teoritis

Berisi mengenai telaah literatur dari masalah, metode, dan obyek penelitian.

c. Bab III Metodologi dan Subjek Penelitian

Dalam bab ini penulis menyajikan pembahasan teori Etnografi Komunikasi sebagai penelitian kualitatif dan memahami proses pemaknaan dalang terhadap Audiensinya.

d. Bab IV Pembahasan

Bab ini menguraikan dan membahas segala hasil yang diperoleh dari penelitian yang bertajuk tentang permasalahan objek yang diteliti, berdasarkan pendekatan Etnografi Komunikasi dalam menganalisis kebudayaan “konstruksi Komunikatif dalang ditengah era modern”.

e. Bab V Penutup

Meliputi kesimpulan dari analisis yang telah dilaksanakan. Selain itu, penulis juga memaparkan saran-saran yang kiranya dapat bermanfaat dalam tataran praktis maupun teoritis.

Demikianlah contoh metode ilmiah yang diterapkan pada Ilmu sosial, berserta dengan kelengkapan teoretis dan praktisnya.

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Contoh Makalah Upacara Adat
  • Contoh Metode Penelitian.
  • Penulisan Laporan - Beberapa Tips dan Faq
  • Contoh Karya Tulis Ilmiah Kesehatan Masyarakat
  • Contoh Penulisan Skripsi Bagian Awal dan Akhir untuk Mahasiswa UI
  • Contoh Judul Penelitian Korelasi Bidang Pendidikan
  • Contoh Abstrak
  • Artikel Pencemaran Lingkungan Sekitar
  • Makalah tentang CPU (Central Processing Unit)
  • Contoh Makalah Ibadah Islam
  • Sekilas Tentang Teknik Penulisan Ilmiah
  • Makalah Tentang Pembangunan Berkelanjutan
  • Contoh Skripsi - Kumpulan Pedoman Penulisan Skripsi yang Baik
  • Makalah Penyalahgunaan Narkoba dan Solusi Mengatasinya
  • Skripsi Metode Penelitian Kuantitatif
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA