logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hobi    Menulis    Fiksi

Contoh Resensi Fiksi Novel Emak Ingin Naik Haji


Ilustrasi contoh resensi fiksi
Ingin mencoba membuat sebuah resensi? Inti daris ebuah resensi itu adalh memberikan penilaian terhadap sebuah karya. Sebelum membuat resensir sebaiknya banyak membaca tentang resensi. Buku-buku yang diresensi bisa buku-buku non fiksi atau juga buku fiksi. Setelah itu melihat contoh.  Contoh resensi fiksi maupun non fiksi dapat Anda lihat di media-media massa. Setelah menganalisis beberapa contoh resensi, barulah mencoba membuat resensi sendiri. Tingkatkan pengetahuan sehingga hasil resensi yang semakin tajam.

Menulis Resensi Fiksi

Contoh resensi fiksi yang baik tidak akan berisi tentang sinopsis dan pujian kepada sang penulis saja. Seorang peresensi boleh saja memberikan masukan atau saran atas kelemahan sebuah karya. Tetapi memang tidak boleh malah mencari-cari kelemahan dan menonjolkan kelemahan tersebut. Kalaupun tidak setuju dengan karya tersebut, sebaiknya tidak menggunakan kata-kata pedas dan masih berdiri di koridor ‘objektivitas’ secara keilmuan dan keilmiahan. Bila perlu mengatakan apa yang harus dipersiapkan oleh pembaca sebelum membaca karya itu.

Persiapan itu sendiri sebagai penyaring agar apa yang dibaca tidak mengganggu konsep dan prinsip hidup yang telah diyakini selama ini. Kata-kata itu sangat penting karena kata-kata membedakan karakter seseorang. Kalau kata-kata yang digunakan sangat pedas dalam mengkritik, orang akan mengira bahwa yang membuat resensi mungkin merasa cemburu atau merasa terganggu dengan karya tersebut. Memilih sebuah karya yang akan diresensi memenag hak masing-masing orang yang akan meresensi.

Setiap peresensi pasti mempunyai maksud dan tujuan sendiri ketika memilih karya tersebut. Bisa saja ia memilih karya itu karena ia memang suka dengan karya tersebut dan ia yakin bahwa resensi yang dibuatnya akan dimuat di koran atau media cetak lainnya. Bisa juga pemilihan sebuah karya itu karena sang penulis adalah temannya atau karya seseorang yang sangat dihormatinya. Sebagai bentuk penghormatan itu, ia membuat resensi untuk karya tersebut.

Apapun niat dan tujuan membuat resensi karya apapun, yang harus diperhatikan adalah bahwa resensi itu seperti membuat catatan bagi suatu karya agar orang yang belum membaca memahami sedikit mengenai karya tersebut. Dengan kata lain,  meresensi buku berarti memberi opini terhadap sebuah buku yang dibaca. Opini tersebut bersifat subjektif menurut kemampuan si peresensi. Seorang peresensi dituntut mampu menggambarkan kandungan dan isi buku yang diresensi kepada para pembaca.

Sehingga orang yang belum mengetahui sebuah buku dapat tertarik untuk membacanya, atau dapat dijadikan sebagai panduan bagi seseorang yang ingin memiliki buku bersangkutan. Jika resensi ingin dimuat dan ditampilkan di media massa, haruslah buku-buku terbitan terbaru yang dijadikan bahan resensi. Serta jenis buku yang Anda resensi sesuai dengan karakter media massa yang Anda tuju.

Meresensi buku tak hanya berpengaruh pada tingkat skill kepenulisan Anda, meresensi juga menjadi cara efektif menambah finansial penghasilan, mendapatkan banyak buku-buku baru, menjalin link dengan penerbit dan penulis. Tidak sedikit penulis yang ingin dibuatkan resensi untuk bukunya. Kalau bukunya diresensi oleh seorang peresensi profesional, biasa pihak media massa akan cepat mengakomodirnya. Dengan demikian, buku tersebut masuk koran dan itu merupakan suatu iklan dalam bentuk lain.

Tentu saja sang penulis harus memberikan bukunya kepada sang peresensi. Tidak hanya penulis, penerbit juga sering ‘meminjam’ tangan ahli seorang peresensi hebat untuk membedah beberapa buku terbitannya. Ada harga untuk ini. Bagi sang peresensi, ia tidak hanya mendapatkan uang dan buku dari penerbit, juga mendapatkan honor dari koran yang memuat resensinya.  Hal ini bisa diterima dengan akal karena memang untuk mendistribusikan buku-buku itu juga membutuhkan dana. Kalau tidak dipromosikan, bagaimana orang akan tahu tentang buku itu?

Latihan adalah kunci menjadi seorang peresensi yang baik. Suatu saat pasti akan ada gaya yang khas yang akhirnya menjadi ciri tersendiri.
 Anda juga sebetulnya sedang berlatih menjadi seorang kritikus. Apakah sama teknik meresensi buku-buku fiksi dan non fiksi? Anda mungkin membutuhkan contoh resensi karya fiksi untuk memastikan dimana letak perbedaan kedua jenis resensi tersebut. Jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang belum terjadi.

Kalau ingin mencoba meresensi, lakukan saja. Bila tidak memulai, maka tidak akan mendapatkan pengalaman. Pilihlah satu buku yang kira-kira memang patut ditelaah. Ciri-ciri buku atau karya yang patut dibedah adalah bahwa buku itu mempunyai kebermanfaatan yang sangat besar bagi para pembacanya. Buku itu bukan sebauh karya jiplakan atau sang penulis tidak mempunyai karakter yang baik. Buku itu ditulis dengan kata-kata yang mudah dimengerti. Ilmu   yang dihadirkan dalam buku itu adalah ilmu yang baru.

Kalaupun bukan ilmu baru, paling tidak buku itu memberikan pengetahuan yang bagus yang akan memberikan inspirasi kepada pembacanya. Buku yang bagus tidak harus mahal dan dari penerbit yang terkenal maupun dari penulis yang sudah mempunyai nama. Yang dilihat adalah isi dalam buku dahulu. Kalau penulisnya yang ditonjolkan, pastikan bahwa nama penulis tersebut memang identik dengan nilai-nilai yang baik dan bukan penulis yang mengajarkan sesuatu yang tidak baik.

Teknik Meresensi

Secara umum, meresensi buku fiksi dan non fiksi mempunyai teknik yang sama. Tujuan dari meresensi adalah sama-sama ingin menggambarkan kandungan isi buku maupun penampilan buku secara representatif kepada para pembaca. Hanya saja, meresensi buku-buku fiksi mengharuskan Anda menyelami unsur-unsur  yang terkandung dalam buku yang Anda resensi. Pengetahuan tentang kesusastraan sangat penting. Penulisan dengan bahasa Indonesia yang baku juga sangat diperlukan.

Tidak boleh menggunakan bahasa gaul atau bahasa ‘status di facebook’.  Unsur-unsur tersebut dapat berupa: tema yang diangkat, karakter tokoh, ketajaman konflik, kekuatan latar belakang konflik, setting dan alur, gaya bahasa dan sebagainya. Inilah yang akan dinilai dan interpretasikan kepada para pembaca sebagai bahan panduan bagi para pembaca untuk mengetahui isi dan kandungan novel tersebut. Dari resensi itu pembaca paling tidak bisa menebak arah alur dan nilai-nilai yang akan didapatkannya dari cerita tersebut.

Berikut ini ditampilkan contoh resensi fiksi dari bagian isi sebuah resensi. Novel yang dipilih adalah novel yang cukup terkenal dan sudah difilmkan. Temanya cukup menarik dan sangat menyentuh akar permasalahan yang ada di sekitar kehidupan sehari-hari. Kisah ini memang menarik dan perlu disimak.

Contoh Sebuah Resensi Fiksi

Asma nadia kembali menunjukkan ketangkasannya dalam menulis sebuah karya sastra. Emak Ingin Naik Haji merupakan novel buah karya adik kandung dari sastrawan wanita nasional Helvy Tiana Rossa. Siapa yang tak kenal keduanya? Dua orang bersaudara sebagai sosok-sosok yang aktif di dunia kepenulisan tanah air melalui sebuah komunitas kepenulis yang cukup akbar di tanah air, Forum Lingkar Pena.

Emak Ingin Naik Haji merupakan karya yang terlahir dari rasa ketulusan seorang penulis. Asma Nadia mampu membidik dan mengangkat sebuah tema yang cukup berkesan di hati para pembaca.

Tema yang lain dari pada yang lain. Kalau orang banyak menulis tentang persoalan cinta, harta dan keduniaan lainnya, maka Asma Nadia justru mengangkat tema sederhana yang jarang terpikirkan oleh kita. Kisah seorang miskin yang memiliki cita-cita tulus untuk menunaikan ibadah haji, yakni Emak Zein. Emak Zein adalah contoh seorang tokoh yang cukup berkarakter. Seorang kekurangan yang hidup dengan ketulusan dan doa yang suci kepada Tuhan.

Emak Zein dan Zein sendiri hidup sabar dengan kondisi yang sulit, meskipun dalam hati Emak Zain membuncah rasa rindu yang teramat untuk dapat menunaikan ibadah suci ke tanah Makkah. Berbagai cobaan datang untuk menguji ketulusan niat Emak Zain, sementara Zain merupakan tokoh yang memiliki karakter sangat sayang dengan sang ibu.

Ia pun mencari banyak cara untuk bisa meluluskan keinginan ibunya pergi ke tanah Makkah. Namun Tuhan punya cara lain untuk menjawab doa hambaNya. Meskipun sempat lolos undian untuk pergi haji gratis, namun ternyata Tuhan justru ingin Zein dan Emaknya pergi haji melalui tangan seorang haji kaya raya yang juga tetangganya.

Kisah haru biru keluarga Zein sangat representatif dengan kondisi real masyarakat. Asma Nadia mampu jujur dalam melukiskan kondisi kesulitan hidup masyarakat. Ia tidak menipu, sebagaimana sering kita saksikan pada kehidupan glamour yang disajikan di layar sinetron. Inilah potret nyata kehidupan masyarakat Indonesia.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Resensi Wanita Berkalung Sorban: Sebuah Perlawanan
  • Belajar Dari Contoh Cerpen Persahabatan
  • Beberapa Tips Menulis Novel
  • Contoh Resensi Novel Laskar Pelangi
  • Menjadi Pemenang Lomba Menulis Cerpen
  • Mengintip Proses Kreatif Penulis Laskar Pelangi
  • Teknik Menulis Cerpen dengan Mudah
  • Kumpulan Cerpen Religi: Lukisan Kaligrafi
  • Jenis Menulis dan Penulis Berkarakter
  • Hakikat Menulis: Mengapa Anda Menulis?
  • Apa Memang Sulit Membuat Parafrase Puisi?
  • Mengenal Beberapa Penulis Terkenal di Indonesia
  • Kerangka Karangan Permudah Menulis Karangan!
  • Tips Menulis Artikel Bagus dan Bernyawa
  • Adakah Tips Menulis Puisi?
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA