Contoh Surat Peringatan Pertama yang Gagal
Ilustrasi contoh surat peringatan pertama
Bagi perusahaan atau organisasi yang bergelut dengan karyawan nakal akan dibuat sebal. Mereka melakukan kesalahan berulang dan terus membandel. Perilaku indispliner macam telat, berbohong, dan mark up membuat institusi berang bukan kepalang.
Cara ampuh untuk mengatasi kelakuan bengal tersebut adalah surat peringatan pertama. Surat peringatan bertujuan untuk memberi shock of theraphy sebelum diberi sanksi. Surat ini bersifat teguran terhadap sebuah kesalahan. Contoh surat peringatan pertama di beberapa situs internet bisa menjadi rujukan.
Tips
Timing pemberian surat peringatan pertama harus pas. Semakin abai perusahaan terhadap suatu kesalahan akan membuat preseden buruk. Berikut ini tips memberikan surat peringatan peretama:
- Segera. Ketika suatu aturan telah dilanggar. Segera beri surat peringatan pertama. Tanpa ampun agar bisa jera.
- Komunikasi. Surat peringatan pertama bersifat formal. Mesti diimbangi komunikasi informal. Bicara dari hati ke hati tentang inti dari surat peringatan tersebut.
- Shock theraphy. Surat peringatan pertama harus membuat jera. Agar karyawan lain tidak tergoda melakukan hal serupa. Terapi kejut ini bisa diberikan dengan pemilihan diksi kata dan ancaman sanksi.
- To the point. Surat peringatan pertama harus dibuat seringkas dan sepadat mungkin. Tidak bertele-tele. Tapi, langsung menusuk pada point pembicaraan.
- Jelas. Berikan penjelasan yang utuh dan komprehensif mengenai letak kesalahan. Agar tidak terjadi misspersepsi.
Mengapa Gagal?
Namun, tidak semua surat peringatan pertama mampu berjalan baik. Karyawan punya alasan untuk menunggu surat peringatan kedua bahkan ketiga. Surat peringatan pertama dianggap enteng. Terutama jika surat peringatan pertama berisi hal normatif. Budaya ini akan membuat reward & punishment di perusahaan akan bergerak mandet. Berikut ini beberapa penyebab kegagalan surat peringatan pertama.
- Sanksi. Sanksi yang diberikan relatif ringan. Sehingga karyawan acuh. Menghiraukan surat peringatan pertama.
- Preseden. Surat peringatan pertama terus menerus diberikan. Namun, kesalahan yang sama terus menerus terjadi. Ini preseden buruk yang membuat karyawan menyepelekan surat peringatan pertama.
- Budaya. Kultur terhadap sanksi yang abai. Jadi tidak ada sistem reward & punishment yang baik. Maka ketika satu kesalahan yang dibuat tidak berarti.
- Content. Isi surat peringatan pertama yang bertele-tele. Dan malu dalam menyebut titik kesalahan. Membuat penerima sanksi jadi bingung. Terlalu formal.
- Context. Surat peringatan pertama tidak harus selalu sama dengan pendahulu. Di lapangan kerap terjadi copy paste. Padahal context sekarang dengan kini berbeda. Usahakan agar membuat surat peringatan pertama yang orisinil sesuai dengan konteks yang terjadi.

