Sulitnya Menumpahkan Curahan Perasaan dan Humor
Curahan perasaan dan humor atau humor sebagai curahan perasaan? Kisah klasik sepasang suami istri yang sedang perang dingin berikut bisa menjadi gambaran betapa tidak mudah menumpahkan curahan perasaan terutama kepada orang yang paling dikasihi.
Keegoisan seolah-olah menang terus. Humor pun kadang tidak mempan mengurangi ketegangan di antara keduanya. Bahkan humor bisa bikin darah semakin naik karena salah satu di antara mereka merasa jadi bahan olokan.
Suatu malam sang suami menulis di selembar kertas. “Tolong bangunkan aku pukul 7 ya? Terima kasih”. Sang istri membaca tulisan tersebut, lalu tidur. Keesokan harinya sang suami sambil menahan marah menuliskan kedongkolannya. “Kenapa aku tidak dibangunkan? Aku ada rapat pukul 8. Sekarang sudah pukul 9. Teganya!” Sang istri menyodorkan tulisannya, “Bangun! Bangun! Udah pukul 7.”
Tersenyumkah Anda membaca cerita di atas atau pengalaman itu adalah pengalaman Anda sendiri. Bagaimana dengan cerita klasik berikut ini?
Lady : Aku tak mau berbicara denganmu lagi.
Gent : Gak mungkin.
Lady : Pokoknya aku gak mau bicara denganmu lagi.
Gent : Aku bilang gak mungkin.
Lady : Kamu tidak percaya kalau aku benar-benar gak mau bicara denganmu?
Gent : Gaklah.
Lady : Akan kubuktikan bahwa aku gak akan bicara denganmu lagi.
Gent : Sekarang ini apa yang sedang kamu lakukan?
Humor atau kelucuan itu bila diperhatikan banyak sekali terjadi di sekitar hubungan dua orang yang saling mengasihi. Sulitnya mengendalikan nafsu marah ketika bersama pasangan yang sudah hidup selama belasan tahun bisa dipandang suatu kelucuan oleh orang lain.
Misalnya, seorang suami yang marah-marah mencari kunci mobilnya. Lalu, sang istri yang tidak terima karena sudah dipersalahkan juga marah-marah. Topik kemarahannya dapat merambat ke masalah lain yang tidak ada hubungannya dengan kunci mobil.
Setelah capek teriak-teriak, sadarlah sang suami bahwa kunci mobil itu masih berada di genggamannya. Bagaimana sikap istri? Tentu semakin merajuk. Sedangkan suami? Diam saja. Berlalu ke mobilnya tanpa meminta maaf kepada istrinya.
Keadaan ini lazim saja dijumpai di kehidupan suami istri. Keengganan keduanya untuk mengucapkan kata-kata sakti, seperti, maaf, terima kasih, dan tolong, menyebabkan pintu curahan perasaan tertutup. Bila saja keduanya mau berdamai dan saling menumpahkan perasaan, kemarahan yang telah lalu dapat menjadi sumber humor yang luar biasa.
Bagaimana kalau sepasang suami istri yang sedang marah-marahan memakai topeng. Bila sang suami sedang marah, maka istrinya akan memakai topeng lutung kasarung alias monyet atau gorilla. Sang suami jadi sungkan marah-marah sama monyet atau gorilla.
Begitu pun ketika istrinya marah, sang suami akan memakai topeng ular kobra yang menakutkan. Melihat topeng seram itu, sang istri lari ke kamar dan diam saja di sana untuk beberapa saat. Sang suami kasihan melihat istrinya yang ketakutan, lalu mengganti topeng ular dengan topeng bintang film kesayangan istrinya.
Dengan langkah yang dibuat-buat sang suami masuk kamar dan menghampiri istrinya sambil meminta maaf. Cairlah suasana. Kalau suasana sudah kondusif, keduanya dapat mencurahkan perasaan dengan tenang dan sambil tersenyum bahagia. Tentunya suasana ini tak bisa dibuat oleh salah satu pihak saja. Butuh kerja sama dari keduanya. It takes two to tango.
| Beri rating untuk artikel di atas |








