Dampak Cerita Porno
Apabila genitalia wanita dan pria disebut satu persatu bagaikan melakukan cros cek terhadap daftar barang belanjaan, maka tidak ada masalah apa-apa, toh genitalia itu hanya sebatas kategori tanpa arti.
Namun apabila genitalia itu diceritakan berdasarkan prosa penuh arti, di realisasikan dengan ungkapan yang vulgar. Maka seorang paderi pun akan on fire di buatnya.
Cerita porno dengan demikian akan memberikan phalus palsu kepada pembacanya, mendorong aksi seksual pasif seperti masturbasi, lantas menjadikan seksualitas itu sebagai benda ilutif, yang pada akhirnya merusak sudut pandang seseorang tentang seksualitas itu sendiri.
Bila orang dewasa, pengaruhnya hanya sesaat, karena pelarian dan frustasi seksualnya bisa dilepaskan kepada pasangan sah masing-masing. Namun bila anak-anak yang membacanya? Teruskan dengan bahasa Anda sendiri.

