Generasi Bisu, Dampak Teknologi Informasi dan Komunikasi
Ilustrasi dampak teknologi informasi dan komunikasi
Tahukah anda, setiap hal pada dasarnya selalu memiliki dua sisi yang berbeda yang saling bertolak belakang. Filosofi ini biasanya diibaratkan dengan dua sisi koin. Hitam dan putih, bagus dan jelek, dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua hal tersebut pada dasarnya menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu di dunia ini yang sempurna, karena kesempurnaan adalah milik Tuhan yang Maha Kuasa.
Dampak Positif Teknologi Informasi dan Komunikasi
Lebih lanjut, contoh nyata bahwa ada sisi yang berbeda pada suatu hal adalah tentang kemajuan teknologi saat ini. Seperti yang kita tahu, saat ini manusia dapat pergi ke tempat-tempat yang mereka inginkan dengan lebih cepat. Misalnya saja, pada jaman dahulu saat Indonesia masih terdiri dari kerajaan-kerajaan, manusia harus menempuh perjalanan menggunakan jalan kaki ataupun berkuda.
Jika mereka menginginkan bepergian ke luar pulau pun, mereka harus melakukan perjalanan laut dengan menggunakan kapal. Hal tersebut tentu sangat berbeda dengan apa yang kita temui sekarang. Dengan adanya kuda besi atau kereta, dan juga burung besi atau pesawat terbang, kita bisa bepergian jauh dengan waktu yang relatif singkat.
Untuk bepergian ke Balikpapan misalnya, hanya di perlukan waktu kurang lebih 1,5 jam jika ditempuh menggunakan pesawat dari Surabaya. Harga tiketnya pun saat ini kian terjangkau saja. Saat menyenangkan bukan?
Bukan hanya pada sisi transportasi saja, saat ini di sisi komunikasi pun teknologi telah menjadi semakin maju. Salah satu contohnya adalah saluran telepon yang telah dapat memberi kesempatan kita untuk berbicara dengan sanak saudara ataupun teman yang bertempat tinggal di luar pulau ataupun luar negeri.
Bahkan, saat ini teknologi juga telah bisa membuat kita melakukan video camera melalui saluran internet. Rasa rindu kepada orang yang jauh dari pandangan pun dapat disalurkan melalui layanan tersebut. Bukan itu saja, layanan jejaring sosial pun telah membuat kita dapat berkenalan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak kita kenal. Sungguh, kemajuan teknologi telah sangat banyak membantu manusia.
Dampak Negatif Teknologi Informasi Dan Komunikasi
Akan tetapi, seperti yang telah dikatakan di awal, setiap hal pasti mempunyai sisi baik dan juga sisi buruk. Begitu pula dengan teknologi. Teknologi internet yang pada satu sisi telah membuat banyak orang dapat menjalin hubungan persaudaraan yang baik, pada sisi lain malah membuat manusia kehilangan sifat kemanusiaannya. Lebih lanjut, berikut adalah ulasan tentang dampak teknologi informasi dan komunikasi
Kenapa ada dampak teknologi informasi dan komunikasi? Hal ini disebabkan karena pada banyak orang saat ini, teman-teman di dunia maya sungguh telah menyita hati dan pikiran mereka. Akibatnya, orang-orang tersebut menjadi tidak lagi peduli atau kehilangan rasa sensitifitasnya terhadap hal-hal yang terjadi di sekelilingnya di dunia nyata.
Contoh nyatanya adalah jamaknya orang yang keranjingan memainkan ponsel atau gadgetnya di tempat umum. Bahkan, tak jarang kita temui orang-orang tersebut tertawa keras sambil terus menatap layar gadgetnya tersebut. Miris memang. Lagaknya seakan-akan tidak membutuhkan orang lain di dunia nyata. Salah satu film di Indonesia bahkan dengan jelas menyebut orang-orang yang keranjingan gadget sebagai 'generasi menunduk'.
Sebutan generasi menunduk bukanlah satu-satunya sebutan yang cocok untuk diberikan kepada mereka yang kecanduan dengan gadget dan dunia maya. Label 'generasi bisu' juga cocok diberikan kepada mereka. Apakah generasi bisu itu? Generasi bisu adalah sebuah generasi yang tak banyak berkomunikasi secara tatap muka.
Komunikasi mereka hanya melalui dunia maya. Mereka lebih banyak mengenal orang-orang nun jauh dari seluruh pelosok bumi yang mungkin tak memakai nama mereka yang sebenarnya. Sebuah keadaan yang penuh kepura-puraan dan hanya mementingkan kepentingan pribadi masing-masing. Sebuah generasi yang tak mengenal tenggang rasa. Inilah dampak teknologi informasi dan komunikasi.
"Bagaimana ngomongnya?" Pertanyaan tersebut sering kali ditanyakan oleh anak zaman sekarang bila sudah menyangkut cara menyampaikan sesuatu secara langsung dan dengan kata-kata sopan memakai kalimat yang agak formal.
"Kalau gaya aq sih ya l3b4y aje ghichu", ini juga jawaban yang biasa kita dengar dari para anak-anak generasi 'l3bay' saat ini. Bila ini terus berlangsung, maka suatu saat kita akan menemui anak-anak yang tak pandai berbahasa halus dan tak tahu kapan harus menggunakan kata-kata formal. Lama-lama generasi yang akan datang juga tak mempunyai etika.
Inikah tanda-tanda 'generasi bisu' sebagai dampak teknologi informasi dan komunikasi?
“Enyahlah,” kata pembawa acara quiz disalah satu TV swasta ketika meminta salah satu pemain yang tereleminasi untuk meninggalkan arena permainan.
Bagi yang terbiasa menggunakan bahasa dengan tingkat sopan santun yang tinggi, kata 'enyah' bermakna sangat kasar walau diucapkan sambil bercanda. Itu adalah salah satu contoh dari segi berbahasa. Ternyata, lebih banyak lagi kata-kata yang dulunya dianggap kasar, kita terasa enteng dilidah. Umpatan yang menggunakan nama-nama hewan pun semakin sering terdengar.
Teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan setiap orang untuk mengungkapkan perasaannya secara bebas tanpa harus berbicara langsung. Sayangnya, kondisi ini membuat pemakainya menjadi gagap ketika harus berbicara secara langsung. Chatting dan bahasa tulisan lainnya ketika sedang berkomunikasi lewat internet membuat orang tidak peduli dengan tata bahasa dan tata kalimat yang baik. Seolah-olah mereka mempunyai bahasa 'khusus' yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri.
Selain dari segi berbahasa, anak-anak yang terlalu sering berada di depan internet, menjadi tidak pandai memahami perasaan orang lain. Ketagihangame online, misalnya, menyebabkan anak tidak mandi, tidak makan, tidak belajar bahkan tidak tidur. Kesehatan yang menurun, kualitas diri apalagi karakter diri yang jauh dari standar akan membuat anak tersebut menjadi anak terisolasi dari dunia nyata.
Bisa dibayangkan ketika anak tersebut tak mampu beradaptasi dengan dunia di sekitarnya ditambah kemampuan berbahasa yang pas-pasan terutama bila sudah menyangkut bahasa beretika, maka bukan tidak mungkin bahwa anak tersebut akan menjadi 'generasi bisu'.
Bila 'generasi bisu' benar-benar terlahir, akan semakin sempitlah ruang gerak dalam bersosialisasi. Silaturrahmi dengan cara berkunjung dari rumah ke rumah akan semakin jarang terjadi. Mengobrol santai di taman dekat perumahanpun akan tinggal cerita. Masing-masing 'generasi bisu' itu hanya akan berbicara lewat teknologi informasi dan komunikasi. Sikap gotong-royong akan sirna, rasa tenggang rasa akan terkubur. Semua akan berbahasa sekadar basa-basi tak bermakna ketulusan.
Pada akhirnya 'generasi bisu' sebagai dampak dari teknologi informasi dan komunikasi ini akan merubah tatanan kehidupan kemasyarakatan. Bisa jadi di masa itu pernikahan dan kumpul-kumpul antar keluarga dilakukan secara online. Sentuhan secara fisik akan semakin berkurang. Dampak yang lebih jauh adalah kejahatan yang berkaitan dengan teknologi ini akan semakin canggih dan tak terbendung lagi.
Cara Menanggulangi Dampak Negative Dari Kemajuan Teknologi
Agar 'generasi bisu' tidak menjadi kenyataan, para orang dewasa dan orang tua hendaknya lebih sering bersama anak-anaknya dan memberikan pengertian kepada mereka akan pentingnya 'sentuhan fisik' dalam berkomunikasi. Tatap muka yang terjadi dalam komunikasi akan membuat kita merasakan perasaan orang lain dengan lebih baik.
Selain itu, membawa anak-anak untuk berjalan-jalan ke tempat yang memungkinkan interaksi dengan banyak orang juga dapat menjadi salah satu langkah jitu agar anak terbiasa sejak dini berinteraksi dengan orang lain. Salah satu contoh tempat yang cocok untuk anak-anak adalah taman kota, playground, kolam renang, dan banyak lagi yang lainnya.
Sebaiknya, jangan terlalu sering membawa anak anda ke pusat perbelanjaan ataupun mall. Kenapa? Hal ini dikarenakan banyak contoh yang kurang baik bagi anak-anak di tempat tersebut. Misalnya saja para remaja yang bermain gadget tanpa henti, orang-orang yang berpakaian terlalu mini dan juga hal-hal lainnya yang memungkinkan anak-anak mempunyai perilaku konsumtif.
Selain itu, ada baiknya dari awal para pemegang gadget sudah membatasi diri dan mengatur waktu untuk berinteraksi dengan gadget dan berinteraksi dengan dunia nyata. Poin penting yang harus kita ingat adalah, jangan sampai gadget dan dunia maya mengatur dan merubah kehidupan kita. Kita sebagai pemiliknyalah yang seharusnya mengatur gadget agar tidak sampai mengganggu interaksi sosial kita dengan orang-orang di dunia nyata.

