logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Pengetahuan Umum    Alat dan Teknologi

Mengenal Lebih Dekat Dasar Dasar Fotografi


Fotografi, yang berasal dari kata photography, terdiri atas foto yang berarti cahaya dan graphia yang berarti menulis atau menggambar. Jadi, dapat disimpulkan bahwa dasar dasar fotografi adalah suatu teknik menulis ataupun menggambar sebuah objek dengan menggunakan cahaya. Oleh sebab itu, cahaya sangat berperan penting dan merupakan sumber utama dalam menghasilkan sebuah gambar.

Bagi para kawula muda yang akrab dengan teknologi, dan khususnya mereka yang merupakan pecinta fotografi dan digital imaging, pastilah mengenal program-program maupun software yang dapat memanipulasi gambar. Maksudnya, gambar yang kurang bagus dapat terlihat luar biasa keren dengan bantuan program sejenis.

Beberapa orang berpikiran sederhana bahwa untuk menghasilkan sebuah gambar yang sempurna, tidak perlu bersusah payah untuk berlatih apalagi harus mengenal dasar dasar fotografi.

Tentu saja pemikiran yang demikian sudah pasti salah besar. Ingat, sesuatu yang diterima begitu saja dengan instan, tanpa perlu mempelajari dasar-dasarnya, pasti akan mudah dan cepat terlupakan.

Lagipula, apakah Anda akan merasa puas apabila mendapatkan gambar bagus bukan murni dari kemampuan Anda melainkan oleh bantuan peralatan-peralatan canggih tersebut? Tentu tidak, bukan?

Oleh karena itu, berikut informasi tentang dasar dasar fotografi untuk memperdalam pengetahuan Anda, para pembaca yang tertarik atau mungkin baru akan memulai berfotografi ria. Berikut ini beberapa dasar penting dalam fotografi:

1. Aperture (Diafragma)

Aperture atau diafragma merupakan istilah yang digunakan untuk menyebutkan bukaan lensa. Fungsi aperture adalah sebagai katup yang membatasi jumlah sinar yang masuk ke lensa menuju sensor.

Jika diibaratkan sebagai sebuah jendela, diafragma adalah tirainya, yang bisa dibuka dan ditutup untuk menyesuaikan intensitas pencahayaan yang masuk. Pada kamera, aperture dilambangkan dengan huruf F dan dengan satuan sebagai berikut: f/1.2; f/1.4; f/1.8; f/2.0; f/2.8; f/3.5; f/4.0 dst.

Harus diingat, semakin kecil angka satuannya maka semakin besar bukaan lensa. Misalnya, antara f/1.4 dan f/4.0, f/1.4 lebih besar bukaannya dibandingkan dengan f/4.0. 2.

Cara terbaik untuk memahami konsep dari aperture, yaitu dengan menggunakan kamera dan melakukan beberapa eksperimen. Pergilah keluar dan carilah tempat yang memungkinkan Anda bisa mengambil objek foto, baik jarak dekat maupun jauh. Kemudian, ambillah beberapa foto dengan setting aperture yang berbeda. Mulai dari yang terkecil sampai terbesar. Dengan cara demikian, Anda dengan cepat bisa mengetahui dampaknya pada foto tersebut.

Pada bidang fotografi landscape, Anda akan menemui fotografer yang menggunakan pengaturan aperture kecil. Dengan pengaturan tersebut, foreground sampai horizon masih tampak fokus. Di lain sisi dalam bidang fotografi portrait, biasanya lebih mengutamakan fokus pada subyek dan background tidak fokus (blur).

Fotografi portrait biasanya ingin menonjolkan subyek sebagai focal-point. Untuk menghasilkan foto seperti ini harus menggunakan bukaan besar (bilangan kecil). Fotografi makro juga menggunakan bukaan besar. Penggunaan aperture besar ini bertujuan untuk memastikan bahwa subyek benar-benar menarik perhatian dan sisa elemen foto tampak tidak fokus

2. Shutter Speed (Kecepatan Rana)

Shutter speed atau kecepatan rana merupakan kecepatan membuka dan menutupnya jendela kamera, sehingga cahaya dapat masuk ke dalam image sensor. Satuan dari shutter speed adalah detik, yaitu 1/1, ½, ¼, 1/8, hingga 1/2000.

1/1 menunjukkan kecepatannya 1/1 detik, sedangkan 1/2000 menunjukkan kecepatannya 1/2000 detik. Jadi, hubungan antara angka satuan dengan shutter speed adalah berbanding lurus. Semakin besar angka satuannya, berarti semakin cepat rana membuka dan menutup, sehingga semakin sedikit pula cahaya yang masuk.

Sebaliknya, semakin kecil angka satuannya, berarti semakin lambat rana membuka dan menutup, sehingga semakin banyak pula cahaya yang masuk.Perlu Anda ketahui, shutter speed sangat bergantung dengan keadaan cahaya saat melakukan pemotretan.

Ketika cahaya terang pada siang hari, shutter speed harus disesuaikan menjadi lebih cepat, misalnya 1/250 detik. Hal ini bertujuan, agar cahaya yang masuk sedikit dan cahaya tidak menjadi buram atau blur. Sementara, ketika malam hari yang pencahayanya sangat sedikit, shutter speed juga harus disesuaikan menjadi lebih lama, semisal 1/4 detik.

Pertimbangan yang penting ketika memilih shutter speed yang tepat adalah gerakan. Sebanyak apa gerakan yang ingin Anda rekam? Apakah Anda ingin ‘freeze’ sebuah gerakan, supaya mendapatkan foto yang bersih (tanpa blur)? Apabila iya, Anda perlu menggunakan shutter speed cepat. dengan menggunakan shutter speed, Anda bisa menangkap momen sebelum bergerak menghilang.

Mungkin juga, Anda ingin menambahkan nuansa blur yang berasal dari obyek gerak? Caranya mudah, Anda hanya perlu menggunakan shutter speed lambat untuk mendapatkan foto tersebut.

Menentukan kecepatan (bilangan) pada pengaturan shutter speed akan bergantung pada tingkat ‘freeze’ atau ‘blur’ yang Anda inginkan. Dengan sedikit “trial dan error” adalah cara tepat untuk menguasai penentuan shutter speed ini.

3. Exposure (Pencahayaan)

Hal terpenting yang diperhatikan ketika melakukan pemotretan adalah unsur pencahayaan. Pencahayaan adalah proses dicahayainya film yang ada di dalam kamera. Artinya, saat menjepret sebuah objek yang dijadikan target, cahaya yang diterima oleh objek tersebut harus cukup intensitasnya, sehingga mampu terekam di dalam film.

Exposure (proses pencahayaan) berkaitan erat dengan beberapa komponen, yaitu besarnya aperture, shutter speed dan kepekaan film (ISO).

Ketiga hal tersebut sangat menentukan keberhasilan seorang fotografer untuk memperoleh gambar yang mendapat pencahayaan secara normal. Sebab, apabila kurang memperhatikan hal itu, gambar yang akan anda ciptakan akan cenderung kepada dua hasil. Pertama foto terlalu gelap karena kurang cahaya (under exposured), kedua foto terlalu terang karena kelebihan cahaya (over exposured).

Menikmati setiap hasil jepretan pada subyek dengan berbagai karakter cahaya adalah cara terbaik untuk mempelajari cahaya mana yang tepat bagi subyek foto. Satu hal yang patut diingat adalah cahaya bagus tidaklah konstan, terkadang Anda harus menunggu momen pas untuk menghasilkan foto yang sempurna. Mungkin juga, Anda bisa saja kembali ketempat yang sama untuk memotret sebuah subyek, dikarenakan cahaya kurang bagus ketika pertama kali memotret di tempat tersebut.

Sebagai seorang fotografer, tentu harus tahu teknik dasar pencahayaan yang cocok ketika berhadapan dengan sinar matahari kuat di siang hari. Apalagi jika ditambah dengan bayangan jelek. Teknik mudahnya adalah dengan mencari naungan bagi subyek foto Anda. Arah cahaya yang baik akan membuat foto Anda menjadi terlihat lebih memiliki dimensi.

4. Kepekaan Film (ISO)

Kepekaan film (ISO) berkaitan dengan tingkat kepekaan sensor terhadap pencahayaan yang diterima. Semakin rendah ISO, semakin film kurang peka terhadap cahaya. Hal ini menyebabkan semakin banyak cahaya yang dibutuhkan untuk menyinari film tersebut.

Demikian pula sebaliknya, semakin tinggi ISO, semakin film peka terhadap cahaya. Dengan begitu, akan menyebabkan semakin sedikit cahaya yang dibutuhkan untuk menyinari film tersebut.

ISO rendah yang tidak peka cahaya, sangat cocok digunakan pada tempat yang pencahayaannya sangat tinggi, sedang ISO tinggi yang peka cahaya, cocok digunakan pada tempat yang bercahaya rendah sehingga gambar yang diperolah menjadi jelas.

Semakin cepat sebuah film menangkap cahaya, semakin tinggi pula ISO film bersangkutan. Meskipun demikian, ada satu kelemahan pada film yang mempunyai ISO tinggi. Kelemahan yang dimaksud adalah  butir emulsinya lebih kasar dari film yang ber-ISO rendah.

Kekasaran butir emulsi ini lebih terlihat nyata lagi, jika dilakukan pembesaran dalam pencetakan fotonya. Tapi dengan adanya kemajuan teknologi, kekasaran butir-butir emulsi film tersebut selalu diusahakan untuk menguranginya. Oleh karena itu, pada saat ini di pasaran pun sudah beredar film negatif ber-ISO 1000, atau lebih.

Jadi, apabila Anda ingin memulai belajar fotografi, jangan lupa untuk mempelajari dasar dasar fotografi terlebih dahulu, kemudian praktek di lapangan alias menjeprat-jepret ria. Dan tetap berlatih, berlatih dan berlatih tentunya.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Perkembangan Teknologi Transportasi Darat dengan Segala Keunikannya
  • Mengenal Inverter Si Alat Pengubah Arus Listrik
  • Tip Memilih dan Merawat Pompa Air untuk Rumah Anda
  • Mengenal Bagian-bagian Mikroskop dan Jenis-Jenisnya
  • Solar Cell, Cara Jenius Menghemat Energi
  • Pengertian Telepon dan Sejarah Penemuannya
  • Mengenal Jenis dan Tipe PABX
  • Mempelajari Semua Hal tentang Mikroskop
  • Pengertian Teropong Bumi dan Jenis Teropong
  • Scanner - Piranti Ajaib Lebih Dari Sekadar Meng-copy
  • Synthesizer - Alat Produksi Suara Elektronik Serba Bisa
  • Mengenal Dunia Fotografi
  • Sepeda Listrik - Kendaraan Sederhana Tanpa BBM yang Lebih Hemat
  • Mari Mengenal Kabel UTP
  • Kapal Selam Jepang - Penghancur Pearl Harbour Amerika
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA