logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Suku    Suku Dayak

Suku Dayak Kekayaan Tradisi Indonesia


Ilustrasi dayak

Beragam suku bangsa tinggal di negeri kepulauan Indonesia. Salah satu suku bangsa yang dikenal pada masyarakat Indonesia adalah suku Dayak yang tinggal di kepulauan Kalimantan. Suku dengan kebudayaannya yang bersifat daratan ini kegiatan sehari-harinya adalah bertani, berkebun, dan berburu.

Suku Dayak

Sebutan Dayak sebenarnya bukan sebutan berasal dari suku tersebut melainkan sebutan dari orang Inggris kepada suku-suku yang tinggal di Kalimantan Utara. Kemudian, istilah ini dikenal dan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat.

Suku Dayak sendiri lebih suka menyebut identitas sukunya dengan sebutan berdasarkan tempat tinggal. Mereka biasanya tinggal di dekat aliran sungai besar dan menyebut dirinya berdasakan nama sungai tersebut, misalnya orang Dayak yang tinggal di daerah pesisir sungai Kahayan, menyebut dirinya sebagai uluh Kahayan, uluh Katingan, uluh Barito yang artinya orang Kahayan, orang Katingan, dan orang Barito.

Suku Dayak dipercaya sebagai suku asli di Kalimantan. Namun, ada beberapa teori yang menyatakan bahwa suku Dayak berasal dari bangsa China yang bermigrasi pada 3000-1500 SM.

Sebagian ada yang mengembara ke Tumasik atau sekarang dikenal dengan nama Singapura serta semenanjung Melayu. Saat itu, benua Asia dan Kalimantan masih menyatu, sehingga memungkinkan mereka melakukan migrasi melalui jalan darat.

Sebenarnya suku Dayak pernah memiliki kerajaan. Menurut tradisi lisan suku Dayak ada istilah Nansarunai Usak Jawa, yaitu sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Jawa atau Majapahit. Kejadian ini diperkirakan terjadi antara 1309-1389 (Fridolin Ukur, 1971). Tentu saja, kejadin itu membuat suku Dayak semakin terdesak ke pedalaman Kalimantan.

Menurut kepercayaansuku Dayak Ma’anyan, Allah yang Maha Agung telah menciptakan manusia pertama yang diberi nama Datu Mulia Munta, Maha Raja Mula Ulun. Dan, sebagai pasangannya diciptakanlah manusia kedua berjenis kelamin perempuan yang diberi nama Dara Mula Lapeh, Suraibu Hengkang Ulun.

Dari kedua manusia itulah yang akhirnya menciptakan masyarakat suku Dayak Ma’anyan dengan tempat hidup mereka disebut Tane Tipak Sulau. Suku Dayak Ma’anyan ini diduga hidup di daerah Marabahan (Kabupaten Barito Kuala) karena kuburan Nini Punyut ditemukan di sebuah pulau kecil ditengah danau di Marabahan ini yang disebut Tamak Sapala.

Menurut cerita, pada Zaman purba setelah Datu Mula Munta dan Dara Mula Lapeh memperanakkan begitu banyak anak, sehingga menjadi masyarakat suku Dayak Ma’anyan, kehidupan masyarakat sangatlah liar. Tidak ada hukum adat, tidak ada pemimpin, dan tidak ada peraturan apa pun yang mengatur kehidupan bermasyarakat.

Margasatwa pun ikut tidak bias diatur. Semua kehidupan pada masa itu sangat kacau balau. Pertumpahan darah, perkelahian, hubungan seks sedarah, hubungan manusia dengan binatang. Kekacauan ini membuat prihatin Sang Pencipta.

Akhirnya Allah menjatuhkan segumpalan benang kusut sebesar buah kelapa yang disebut Tundun Taking disertai pesan bahwa siapa saja dari antara mereka, baik manusia maupun margasatwa, yang dapat menguraikan kekusutan benang kusut itu tanpa terputus, maka ia akan menjadi pemimpin yang memberikan keputusan hukum adat bagi siapa saja yang bersalah.

Seluruh penduduk bergantian mencoba, namun tidak ada satupun yang berhasil. Lalu, datanglah Etuh yang dipanggil Nini Punyut. Ia dalah seorang perempuan tua yang lusuh dan berpenampilan sangat kotor.

Dengan kesabaran, telaten, dan iman yang sangat kuat kepada Allah, Nini Punyut berhasil membuka simpul demi simpul kekusutan benang tersebut dengan sangat sempurna. Dan, Sang Pencipta akhirnya menepati janjinya untuk menjadikan Nini Punyut yang bijaksana dan sabar ini sebagai pemimpin suku Dayak Ma’anyan.

Sejak dipimpin Nini Punyut, kehidupan masyarakat Dayak Ma’anyan menjadi teratur. Antara manusia dan hewan hidup berdampingan dengan rukun. Hukum adat yang ditetapkan Nini Punyut juga membuat kehidupan antar manusia menjadi lebih baik.

Mereka mulai berladang untuk menghidupi kebutuhan mereka, berkebun untuk mendapatkan berbagai macam buah-buahan, dan ketika agama Hindu masuk ke daerah mereka, suku Dayak Ma’anyan langsung berbaur, sehingga masyarakat Dayak Ma’anyan dalam kehidupan sosialnya juga mengenal adanya kasta-kasta.

Suku Dayak Ma’anyan ini juga ditemukan di daerah Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara yang dapat dibuktikan dengan adanya Candi Laras. Persebaran penduduk suku Ma’anyan dikarenakan peperangan antarsuku yang pernah terjadi, sehingga yang selamat akhirnya meninggalkan desa mereka dan bermukim di daerah yang baru.

Senjata Khas Suku Dayak

Suku Dayak merupakan salah satu kekayaan tradisi di Indonesia. Suku Dayak memiliki senjata yang sangat khas, di antaranya sipet atau sumpitan merupakan senjata utama yang berbentuk bulat dan berdiameter 2-3 cm, panjangnya sekitar 1,5-2,5 meter.

Terdapat lubang untuk memasukkan anak sumpitan yang disebut damek. Di ujung atas ada tombak yang terbuat dari batu gunung yang diikat dengan rotan dan telah dianyam. Selain itu, ada tempat anak sumpitan yang disebut telep.

Selain sipet, senjata suku Dayak yang terkenal adalah mandau. Mandau merupakan senjata utama yang sangat keramat. Mandau merupakan senjata tajam sejenis parang. Namun, berbeda dengan parang, mandau memiliki ukiran-ukiran di bagian bilahnya yang tidak tajam. Ada juga mandau yang ditambahi lubang-lubang di bilahnya yang ditutup dengan kuningan atau tembaga untuk memperindah bilah mandau.

Biasanya senjata ini diserahkan secara turun temurun. Bentuk mandau panjang dengan dihiasi tanda ukiran dalam bentuk tatahan maupun ukiran. Mandau terbuat dari batu gunung yang ditatah dan diukir dengan emas, perak, tembaga, dan dihiasi dengan bulu burung atau rambut manusia. Sebenarnya, mandau memiliki nama asli yang panjang, yaitu Mandau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau.

Pelestarian Suku Budaya

Negara yang terdiri dari ribuan pulau membuat Indonesia terdiri dari beragam suku budaya. Ada banyak suku yang mendiami berbagai wilayah di tanah air ini, selain dari suku Dayak tadi. Hingga pelosok-pelosok, terdapat lebih dari seribu suku bangsa yang ada di Indonesia. Setiap suku memiliki keanekaragaman masing-masing.

Keragaman suku juga disertai dengan keragaman budaya. Itulah yang membuat suku budaya Indonesia sangat dikenal bangsa lain karena budayanya yang unik. Berbagai bidang budaya mewarnai keragaman suku ini.

Keragaman suku budaya ini harus dilestarikan. Tantangan terberat adalah menghadapi era globalisasi ini di mana banyak orang yang menganggap bahwa semua yang berbau tradisional sudah ketinggalan jaman. Sudah saatnya kita sebagai warga negara Indonesia turut melestarikan suku budaya yang ada.

Kebudayaan di Indonesia semakin hari semakin terkikis. Masyarakat Indonesia semakin terpengaruh oleh kebudayaan luar melalui perkembangan teknologi yang semakin canggih ini, sehingga melupakan kebudayaan sendiri.

Begitu juga tentang kebudayaan di Indonesia. Kebudayaan Indonesia semakin hilang di telan waktu. Penyebabnya karena perkembangan zaman yang memengaruhi masyarakat Indonesia dari kebudayaan luar yang banyak masuk ke Indonesia.

Hal tersebut menjadikan masyarakat Indonesia melupakan kebudayaan sendiri. Pengaruh dari luar memang sangat kuat untuk mempengaruhi kebudayaan yang ada di Indonesia.

Memang perkembangan zaman itu dapat mengubah suatu negara dan masyarakatnya sendiri. Akan tetapi, perubahan tersebut harus dibarengi dengan norma-norma dan kebudayaan yang berlaku di negara ini.

Pengaruh atau kebudayaan dari luar yang masuk ke Indonesia harus disaring terlebih dahulu. Harus ada penyeleksian, mana yang baik dan mana yang buruk untuk kemajuan negara ini. Jangan asal menerima begitu saja pengaruh atau kebudayaan dari luar.

Perkembangan teknologi yang semakin canggih, membuat kebudayaan dari luar Indonesia masuk dan perkembang. Dalam berbagai bidang, pengaruh dari luar itu ada, bahkan sampai mengubah sistem yang telah berlaku di negara ini.

Dalam bidang kebudayaan saja, banyak hal yang berubah karena perkembangan zaman tersebut. Kebudayaan tradisional, mulai dari bahasa, suku, adat istiadat, tarian, pakaian, rumah adat, dan lain sebagainya, mulai jarang dipelajari dan dihapal oleh masyarakat, terutama generasi mudanya.

Untuk itu, kebudayaan yang ada di Indonesia ini, perlu dirawat dan dilestarikan oleh masyarakatnya sendiri. Kalau bukan masyarakat sendiri sudah tidak dapat melestarikan kebudayaan tersebut, maka kebudayaan itu akan hilang bersamaan dengan hilangnya para pewaris ilmu budaya.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk melestarikan kebudayaan tradisional. Dengan mempelajarinya dan tentu saja dengan mempraktekkannya. Selain itu, mewariskan ilmu budaya tradisional kepada para generasi muda sejak usia dini, sehingga mereka mencintai kebudayaan sendiri.

Meskipun pengaruh kebudayaan dari luar mempengaruhi mereka, tapi karena sejak usia dini sudah ditanamkan cinta kebudayaan sendiri, maka dengan sendirinya mereka akan menyaring kebudayaan dari luar.

Suku budaya yang ada di Indonesia memang berbeda-beda, tapi bukan berarti dengan perbedaan tersebut Indonesia menjadi terpecah belah. Justru dengan perbedaan tersebut, masyarakat Indonesia dapat bersatu untuk saling melestarikan kebudayaan Indonesia.

Kerja sama anatara suku yang satu dengan yang lainnya untuk melestarikan budaya yang ada di negeri ini. Jangan saling menghina atau menjelekkan kebudayaan dari daerah yang berbeda budaya. Hal tersebut dapat menimbulkan perpecahan antar suku budaya. Demikian uraian mengenai suku Dayak dan pelestarian suku budaya yang ada di Indonesia.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Suku Dayak di Kalimantan
  • Mengenal rumah adat suku Dayak
  • Cerita di Balik Patung Suku Asmat
  • Mengenal Jenis Pakaian Adat Suku Dayak
  • Mengenal Pakaian Suku Dayak
  • Mata Pencaharian Suku Dayak
  • Benarkah Asal Usul Suku Dayak Berasal dari Keturunan Bangsa China?
  • Adat Istiadat Suku Dayak, Menyatu Dengan Alam
  • Tradisi dan Upacara Adat Suku Dayak
  • Tradisi Khas Suku Dayak Kalimantan
  • Suku Dayak Asli - Suku Dayak Ma'anyan
  • Tradisi Suku Dayak Pedalaman, Ngayau
  • Mengenal Berbagai Tradisi Suku Dayak
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA