Definisi Ibadah dalam Islam
Ilustrasi definisi ibadah
Secara bahasa definisi ibadah adalah merendahkan diri serta tunduk. Ibadah pun dapat diartikan sebagai bentuk ketaatan, keyakinan, dan ketakutan. Meskipun memiliki banyak arti namun maksud dan tujuannya adalah sama. Ibadah yang baik adalah ibadah yang diyakini dengan hati.
Definisi Ibadah
Tidak hanya itu, selanjutnya setelah diyakini dengan hati, maka haruslah diucapkan dengan lisan yang kemudian haruslah melaksanakan ikrar tersebut dengan perbuatan nyata dari anggota tubuh. Karena ibadah merupakan kesatuan antara hati, lisan, dan perbuatan.
Dalam Islam, kebanyakan orang menilai bahwa ibadah hakiki umat Islam adalah shalat, puasa, zakat, dan naik haji. Padahal tidaklah demikian. Seperti yang tercantum dalam firman Allah Swt, bahwa manusia dihidupkan hanya untuk beribadah kepada-Nya, sehingga apapun yang dilakukan selama hidup di dunia adalah bentuk ibadah kepada-Nya.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (menyembah) kepada Ku”. (Az-Zaariyaat: 56)
Kemudian, ayat tersebut dilengkapi oleh firman selanjutnya yang menunjuk manusia sebagai pemimpin (khalifah) di muka bumi ini.
“Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah (penguasa-penguasa) di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa darajat untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu”. (Al-An’aam: 165)
Jadi, ibadah dalam islam tidak hanya sebatas hubungan antara manusia dengan Tuhan. Tetapi juga, antara manusia dengan makhluk ciptaan lainnya, seperti sesama manusia, hewan, dan tumbuhan. Inilah yang disebut dengan keseimbangan hidup.
Ibadah yang baik adalah ibadah yang diawali serta diniatkan untuk Sang Maha Kuasa. Artinya, apapun yang dilakukan oleh manusia, bila ingin dinilai sebagai ibadah haruslah berniatkan dan bertujuan untuk Allah Swt. Itulah salah satu syarat penilaian sebuah ibadah. Adapun syarat-syarat lainnya adalah sebagai berikut.
- Membenarkan niat.
- Melaksanakannya sesuai dengan syari’at Islam.
- Perkara yang dilakukan haruslah diperbolehkan oleh syari’at Islam.
- Perkara tersebut memberi manfaat yang baik.
- Tidak mengganggu dan meninggalkan ibadah utama kepada Allah Swt.
Kelima syarat utama itu tadi adalah landasan sebelum melakukan kebaikan (ibadah) kepada sesama ciptaan-Nya. Karena sebagai makhluk zoonpoliticoon, manusia mau tidak mau akan saling membutuhkan satu sama lainnya, sehingga diharapkan dapat membentuk kehidupan yang harmonis. Hubungan inilah yang disebut dengan hubungan ibadah secara horizontal.
Contoh ibadah dalam hal ini sebenarnya sederhana saja. Hanya saja kerap kali manusia terlalu angkuh dan enggan untuk memulainya atau mengawalinya terlebih dahulu.
Misalnya tersenyum, menyapa, memberikan salam, memaafkan, jujur dalam bertransaksi bisnis (berniaga), berpikir positif (tidak suudzon), menjenguk rekan atau saudara yang sedang terkena musibah, membantu orang-orang yang kurang beruntung, bermusyawarah (berpolitik), dan keseharian yang lainnya.
Itulah indahnya ibadah dalam Islam. Sehingga kehidupan yang rukun dan baik akan tercipta apabila semuanya dilandasi dengan rasa ikhlas dan karena Allah Swt. semata (lillahita'ala).
Selain itu, ibadah puasa adalah salah satu rukun Islam yang ketiga. Setiap orang memandang ibadah puasa itu sangat merepotkan, sehingga tidak sedikit yang malas untuk beribadah puasa.
Kemampuan setiap orang dalam mengendalikan dirinya merupakan aspek penting dalam pergaulan manusia untuk menuju tata kehidupan yang harmonis, penuh tenggang rasa, dan cinta kasih. Dengan argumen demikian, semakin terlihatlah bahwa arti puasa memiliki peran penting dalam kehidupan manusia.
Macam-Macam Ibadah
Dalam penerapannya, terdapat tahapan-tahapan atau bisa disebut juga macam-macam bentuk ibadah. Karena pada masing-masing tahapan tersebut, ada bentuk ibadah yang berbeda-beda yang harus dilakukan.Seperti yang telah dijabarkan, bahwa ibadah yang baik adalah ibadah yang harus diyakini dengan hati, diucapkan secara lisan kemudian dilaksanakan. Dan, itulah bentuk pembagian ibadah dalam Islam.
Seperti yang kerap kali kita dengar, diam adalah selemah-lemahnya diam. Apa artinya? Bahwa ibadah yang dilakukan baru sebatas diyakini dengan hati, belum sampai pada tahap mengikrarkan secara lisan. Sehingga pembagian ibadah ada 3 macam, yakni sebagai berikut.
- Ibadah yang berkaitan dengan hati, contohnya rasa takut, mengharap, cinta, ketergantungan, dan senang.
- Ibadah yang berkaitan dengan lisan dan hati, contohnya tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati.
- Ibadah yang berkaitan dengan fisik dan hati, contohnya shalat, zakat, haji, dan jihad.
Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Seperti yang telah difirmankan oleh Allah Swt berikut ini.
“Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat: 56-58]
Dalam firman-Nya tersebut, Allah Swt memberitahukan akan hikmah dari penciptaan jin dan manusia, hikmahnya adalah agar mereka (jin dan manusia) melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla.
Meskipun pada dasarnya tanpa disembah Allah Swt tetap mulia, tetapi Allah tetap mewajibkan ibadah kepada diri-Nya karena makhluk-makhluk ciptaan-Nya lah yang membutuhkan-Nya bukan diri-Nya yang ingin disembah. Karena ketergantungan mereka kepada Allah itulah, maka barang siapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia termasuk golongan makhluk yang sombong.
Dan, barang siapa yang beribadah kepada-Nya, tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia termasuk kepada golongan pelaku bid’ah. Serta, barang siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah yang mengesakan Allah.
Sejak dari kecil, seorang muslim sudah mempelajari tentang agama Islam. Mulai dari belajar mengaji Al Quran, anak-anak diperkenalkan dengan agama Islam. Selain itu, dibantu juga dengan pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah.
Akan tetapi, apakah hal tersebut cukup untuk membekali anak tentang kerangka dasar agama Islam? Apabila anak tersebut sudah tumbuh dewasa, apakah keimanannya bertambah atau malah berkurang?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memang harus dipertanyakan, terutama kepada orang tua yang mendidik anak-anaknya. Banyak kasus yang memprihatinkan pada zaman sekarang ini.
Sejak kecil, seorang anak sudah dididik tentang ajaran agama Islam, tapi ketika tumbuh dewasa, anak tersebut menjadi anak yang nakal, seperti mengonsumsi narkoba dan pergaulan bebas. Sangat disayangkan sekali hal tersebut. Ke mana ajaran agama yang selama dia masih kecil dipelajari.
Kemudian, siapa yang harus disalahkan? Apakah anak itu sendiri, orang tuanya, atau lingkungannya? Tanyalah pada diri sendiri dan resapi. Kita tidak dapat menyalahkan seseorang secara penuh. Semua aspek saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Mungkin saja seorang anak seperti itu karena kurangnya pengawasan dari orang tuanya dan ditambah dengan bergaul di lingkungan yang buruk, sehingga anak tersebut terpengaruh.
Selain itu, pembelajaran tentang kerangka dasar agama Islam tidak cukup di sekolah atau tempat-tempat pengajian, tapi di rumah pun sangat penting. Lingkungan keluarga adalah tempat yang paling berpengaruh untuk anak belajar.
Di lingkungan keluarga, orang tua dapat mengajarkan ilmu agama dalam kehidupan sehari-hari. Di mulai dengan mencontohkan berprilaku yang baik, seperti mengucapkan salam ketika akan pergi atau pulang ke rumah. Selanjutnya, dengan mengajak anak beribadah, seperti mengajak anak untuk solat lima waktu. Ketika bulan puasa tiba, mengajak anak untuk ikut puasa.
Hal-hal yang sederhana tersebut, dapat melatih dan membiasakan anak untuk beribadah, ketika sudah tumbuh dewasa. Seorang anak banyak belajar dari lingkungan keluarganya, terutama orang tuanya.
Apabila keimanan seorang anak sudah dipupuk sejak dini, ketika dia terjun ke dunia luar, maka dia sudah punya tameng untuk menghalau segala macam pengaruh negatif. Anak tersebut sudah mengerti mana yang baik untuk diri dan agamanya, serta mana yang bisa membuatnya hancur.
Apabila, orang tua sudah berusaha mendidik anaknya dengan sepenuh kemampuannya, tapi anak tersebut masih berprilaku buru, maka itu sudah menjadi urusan Allah Swt.
Selain itu, orang tua juga harus mengerti dan memahami kerangka dasar agama Islam itu apa. Karena, untuk mendidik seorang anak tentang ajaran Islam, orang tua harus paham dulu tentang ajaran Islam. Jadi, kita pahami dulu apa itu kerangka dasar agama Islam.
Allah Swt telah menjadikan Islam, yang diturunkan melalui lisan Rasul Muhammad Saw, sebagai ajaran yang syamilan wa kamilan, komprehensif, dan sempurna. Keutuhan dan kesempurnaan Islam bisa dipahami secara mudah dari kerangka dasar agama Islam, sehingga beribadah itu sangat menyenangkan.
Demikian definisi ibadah yang sangat luas sekali. Semoga informasi tersebut dapat bermanfaat bagi Anda dan menambah keimanan Anda untuk beribadah kepada Allah Swt secara keseluruhan.

