Megahnya Dekorasi Pelaminan Pernikahan Adat Minangkabau

Di antara tren pelaminan minimalis, pelaminan minangkabau masih termasuk jajaran pelaminan tradisional yang diminati karena efek megah yang ditimbulkan dari dekorasi pelaminan pernikahannya. Betapa tidak, dekorasi pelaminan pernikahannya tidak hanya berkilauan tetapi atapnya juga berbentuk rumah gadang (jika atap gedungnya cukup tinggi) yang khas Sumatera Barat.
Untuk tata rias pengantinnya juga tidak kalah heboh, serupa dengan adat Palembang, untuk mempelai perempuan mengenakan mahkota yang sangat besar dan berat disebut ‘suntiang’. Walau sebenarnya di Minangkabau tidak semua mempelai perempuan mengenakan ‘suntiang’, ada juga yang memakai ‘tanduak’ yang lebih ringan, tergantung asal wilayahnya.
Ragam Dekorasi Pelaminan Pernikahan Minangkabau
Sejatinya, dekorasi pelaminan pernikahan dengan desain klasik yang didominasi warna merah dan emas dimiliki oleh kalangan bangsawan yang hanya digunakan oleh keluarga secara turun temurun. Jika ada pihak nonbangsawan yang hendak menggunakannya, maka harus meminta izin pada Puti-nya.
Kini, jarang masyarakat minangkabau yang menggunakan dekorasi pelaminan pernikahan secara lengkap. Berbagai kendala juga ditemukan seperti misalnya, sudah tidak ada yang memproduksi lagi karena mungkin pernah hilang atau rusak pada zaman penjajahan dulu.
Namun, walau ternyata bukan dalam formasi lengkap, masih banyak bagian-bagian dekorasi pelaminan pernikahan minangkabau yang memiliki banyak makna.
Berikut bagian-bagian dekorasi pelaminan pernikahan yang umum digunakan oleh para bangsawan minangkabau.
- Layang-layang
Layang-layang adalah selembar kain penutup loteng (pagu) yang berada persis di atas kepala kedua mempelai. Pada layang-layang ini digantungkan tirai lidah-lidah (tirai pecah). Jadi, dekorasi pelaminan pernikahan minangkabau ini selalu memiliki atap, bisa jadi datar, bisa jadi berbentuk kepala rumah gadang. - Lida-lida (Lidah-lidah)
Bentuk lidah-lidah menyerupai taplak meja tamu persegi yang terbuat dari beludru hitam. Hiasannya bersulam emas dan kaca-kaca gemerlapan. Lidah-lidah mengandung makna berkaca diri. Dalam setiap fase kehidupan, seseorang diharapkan senantiasa berkaca diri agar tetap rendah hati. - Angkin
Angkin merupakan hiasan tambahan di antara lidah-lidah dan juga berbahan beludru dengna motif tumbuhan dan hewan. Angkin merupakan simbol kebahagiaan dan kesejahteraan. - Tabie (Tabir)
Tabir adalah pelapis dengan tiga warna dasar: hitam, kuning, dan merah. Tabir adalah makna dari keberagaman dalam kehidupan rumah tangga dan beratu padunya kedua keluarga besar yang juga beragam. - Tonggak Katorok (Tiang katorok)
Tongak katorok terbuat dari tiang buluh atau talang yang dibalut secara teratur dengan kain berpilin sehingga membentuk gelombang-gelombang. Tongkat katorok diletakkan di antara kain berjalin sebagai pengertian bahwa untuk mencapai mufakat tidak cukup dari satu kali pertemuan. - Setajuak Tarikat
Adalah sepasang janur yang dijalin sedemikian rupa sehingga membentuk 5 dan 6 pucuk. Total pucuknya adalah 11 yang berarti tingkatan bangsawan sang pemilik hajatan. Mereka yang bukan bangsawan tidak diperkenankan menggunakan setajuak tarikat. - Banta Kopek
Bantal kopek ialah bantal yang disusun di atas kasur tempat dudukan. Jumlahnya disesuaikan dengan tingkat bangsawan si pemilik hajatan. - Sarang camin (Sarang cermin)
Sarang cermin berupa rumbai-rumbau yang dipasang pada bagian atas pada bagian ujung pangkal garedeng. Sarang camin ini merupakan pertanda bahwa yang punya pelaminan adalah kalangan bangsawan di masyarakat minangkabau.
Dari Sunatan Hingga Kematian
Penggunaan dekorasi pelaminan pernikahan minangkabau ternyata beragam. Bagi masyarakat minangkabau pelamian bukan sekadar pelengkap acara baralek (perkawinan) tetapi dapat digunakan hampir di setiap momen hajatan pelaminan minangkabau digunakan.
- Sunatan: Untuk acara sunatan dibuatkan pelaminan tunggal lengkap dengan cirano ketan merah dan ketan putih. Sedangkan si anak yang baru disunat akan duduk di bawah mengenakan baju adat sambil disuapi ketan oleh para ninik mamaknya.
- Malam Dara: Untuk dekorasi pelaminannya kurang lebih sama, yaitu pelaminan tunggal. Calon mempelai perempuan mengenakan suntiang. Sedangkan isi ciranonya ada yang berbeda yaitu ditambah pacar untuk mewarnai kuku calon mempelai perempuan. Sayang tradisi ini tidak berkembang sepesat acara siraman ala adat Jawa.
- Pelepasan Calon Marapulai: Marapulai adalah pengantin pria. Sesuai dengan adat matriakat yang dianut masyarakat minangkabau, maka pada saat sebelum akad nikah calon mempelai pria beserta keluarga akan dijemput oleh ‘utusan’ keluarga calon mempelai perempuan. Nah, sebelum keluarga calon mempelai perempuan tiba, diadakan semacam acara doa pelepasan.
Para ninik mamak akan menyuapi calon mempelai pria dengan ketan, lalu diakhiri dengan doa dan nasihat. Setelahnya, calon mempelai pria akan mejeng di pelaminan hingga keluarga calon mempelai perempuan datang. Keluarga calon mempelai perempuan akan datang sambil membawa sarung songket dan sirih (jumlahnya disesuaikan dengan tingkat bangsawan keluarga calon mempelai pria).
Usai kedua belah pihak petata petiti (ramah tamah), sebelum beranjak meninggalkan rumah calon mempelai pria harus bersalaman atau meminta doa restu dari seluruh keluarganya yang hadir satu per satu. - Pernikahan: Pernikahan adalah ajang dekorasi pelaminan pernikahan minangkabau hadir dalam kesatuan lengkap. Rumah gadang dan jumlah gubuk menandakan tingkat bangsawan sang pemilik hajatan.
- Kematian: Satu hal yang unik dari penggunaan dekorasi pelaminan pernikahan ini adalah dapat digunakan sebagai dekorasi di rumah duka. Hal ini menunjukkan rasa hormat bagi arwah yang telah berpulang. Dekorasi pelaminan pernikahan yang digunakan adalah tabia (tabir) dan layang-layang lengkap dengan tirai lidah berkaca. Mayat diletakkan persis di tengah bawah tirai lidah tersebut.






