logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Kesehatan    Gaya Hidup Sehat    Menjaga Kesehatan

Mengenali Gejala Penyakit Demam Tifoid dan Pencegahannya


Ilustrasi demam tifoid

Sebagai salah satu penyakit yang menular, demam tifoid adalah penyakit yang harus diwaspadai oleh para orang tua. Meskipun orang dewasa bisa saja tertular penyakit ini, namun anak-anak adalah sosok yang paling rentan tertular penyakit ini.

Di Indonesia, penderita demam ini jumlahnya masih banyak yaitu sekitar 8000 penduduk per tahun dan tersebar di mana-mana. Masih banyaknya anak-anak kita yang menyukai jajanan yang diragukan kebersihannya turut berperan menyebarkan kuman demam ini.

Kunci penanganan penyakin ini adalah penanganan secara dini. Semakin cepat penyakit ini ditangani, maka semakin mudah merelokasi kuman. Artikel ini akan membantu Anda mengenali atau mendeteksi kuman demam tifoid, serta cara-cara penanganannya.

Penyebab dan Gejala Demam Tifoid

Demam tifoid atau typhus abdominalis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri salmonella enterica, yang mengakibatkan infeksi pada usus kecil. Penyakit ini dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Sejak seseorang mulai dapat mengkonsumsi makanan di luar, maka ia beresiko terinfeksi bakteri salmonella ini.

Bakteri salmonella enterica dapat ditularkan melalui mulut. Melalui perantara makanan dan minuman yang tidak higienis, bakteri ini dapat langsung masuk ke dalam lambung, menuju kelenjar limfoid usus kecil, akhirnya masuk ke dalam peredaran darah.

Dalam kurun waktu 24-72 jam, bakteri masuk ke dalam peredaran darah. Pada fase ini, penderita belum merasakan gejala-gejala yang mengganggu, namun sebetulnya bakteri sudah menyerang organ-organ hati, kandung empedu, limpa, sumsum tulang belakang, bahkan ginjal. Pada masa inkubasi yaitu 5-9 hari, bakteri masuk kembali ke dalam aliran darah untuk kedua kalinya, disaat inilah terjadi pelepasan endoktoksin yang menyebar ke seluruh tubuh, sehingga menimbulkan gejala tifoid.

Masa inkubasi demam ini rata-rata 7-14 hari, dengan gejala klinis yang beragam dan lebih ringan terutama pada penderita usia anak-anak. Gejala yang paling sering muncul adalah demam yang fluktuatif, pagi hari suhu badan turun namun sore menjelang malam demam kembali terjadi.

Gejala menyerupai infeksi akut akan muncul dalam minggu pertama, seperti demam, sakit kepala, mual, nafsu makan menurun, sakit perut, diare, atau sembelit selama beberapa hari. Pada fase ini, demam tifoid belum terdeteksi kecuali suhu tubuh yang meningkat dan menetap.

Memasuki minggu kedua, gejala-gejala demam tifoid yang khas mulai muncul, seperti demam tinggi terus menerus, nafas berbau tak sedap, bibir pecah-pecah. Dalam beberapa kasus, kulit dan rambut menjadi kering. Lidah tampak tertutupi selaput putih kotor, ujung lidah dan tepi tampak kemerahan dan tremor.

Terjadi pembesaran limpa dan hati, sehingga perut tampak kembung dan menimbulkan rasa nyeri saat diraba. Pada kasus yang kronis, penderita akan mengalami komplikasi pendarahan, perforasi atau pendarahan usus, infeksi selaput usus, renjatan, atau bahkan kelainan otak.

Secara umum, hampir sebagian besar penderita tifoid dapat sembuh total. Namun bila pasien terlambat ditangani, maka dapat terjadi berbagai komplikasi, diantaranya:

  • Bagi penderita pendarahan usus, akan terjadi pendarahan hebat sekitar 2% yang terjadi pada minggu ketiga.
  • Terjadi nyeri perut yang hebat pada 1-2% penderita, diakibatkan oleh isi usus menginfeksi rongga perut atau istilahnya peritonitis.
  • Pada minggu kedua, biasanya terjadi pneumonia, akibat infeksi pneumokokus.
  • Terjadi infeksi kandung kemih, infeksi tulang, infeksi katup jantung, bahkan infeksi katup jantung

Pengobatan dan Perawatan Demam Tifoid

Lebih dari 90% penderita penyakit ini dapat disembuhkan dengan antibiotik yang tepat, seperti ampicillin, trimethoprim-sulfamethoxazole, kloramfenikol, dan ciprofloxacin. Panduan pengobatan untuk penderita penyakit ini sendiri telah ditetapkan oleh Association of Pediatric (IAP) pada Oktober 2006. Meskipun panduan pengobatan ini dikeluarkan untuk penderita demam ini pada anak-anak, namun IAP juga direkomendasikan untuk pasien dewasa.

Berikut adalah beberapa pengobatan demam tifoid ringan berdasarkan rekomendasi IAP.

  • Cefixime dan sebagai lini kedua azitomisin.
  • Untuk demam tifoid yang lebih berat, diberikan ceftriaxone, aztreonam,  dan imipenem.
  • Apabila terjadi perforasi pada usus, maka diberikan antibiotik berspektrum luas. Jenis obat tersebut diberikan mengingat banyaknya bakteri yang akan masuk ke dalam rongga perut. Pada beberapa kasus danjurkan untuk melakukan pembedahan untuk memperbaiki atau mengangkat bagian usus yang mengalami enfeksi.

Selain mengandalkan obat yang direkomendasikan dokter, diperlukan pula perawatan yang dapat menghentikan penyebaran kuman, mempercepat pembasmiannya, mencegah komplikasi, dan tentu saja mempercepat penyembuhan. Perawatan biasanya bersifat istirahat total dan menjaga asupan makanan secara ketat. Pasien diwajibkan berbaring selama masa penyembuhan dan secara kontinyu mengkonsumsi cairan dan kalori (sesuai anjuran dokter).

Berikut beberapa perawatan yang dapat dilakukan untuk merawat penderita penyakit ini.

  1. Pastikan pasien terus berbaring di tempat tidur dengan posisi baring yang diubah-ubah. Lakukan langkah pertama ini selama jangka waktu 5-7 hari hingga demam mereda.
  2. Jika demam mereda dan gejala-gejala demam tifoid berkurang, pasien diperbolehkan untuk duduk satu kali sehari dengan durasi 2x15 menit, demikian seterusnya hingga kesehatan pulih dan pasien diizinkan pulang oleh dokter.
  3. Selama masa perawatan, dokter akan menganjurkan pasien untuk mengonsumsi semua jenis makanan dengan cara disaring. Intinya, hanya makanan yang mudah dicerna, lunak, mengandung cukup cairan, kalori, serat, tinggi protein dan vitamin, tidak merangsang, dan tidak mengandung gas, yang diperbolehkan dimakan oleh pasien demam tifoid. 
  4. Jenis makanan lunak secara bertahap diganti dengan bentuk normal apabila kondisi kesehatan membaik atau sembuh. Umumnya, pola jenis makanan untuk pasien demam ini pada hari pertama dan kedua adalah makanan yang disaring, hari ketiga makanan biasa, dan seterusnya.

Pencegahan Demam Tifoid

Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindari penyakit ini.

  1. Menyediakan air minum yang higienis, baik isi dan wadahnya.
  2. Pembuangan kotoran manusia pada tempatnya.
  3. Membiasakan lingkungan sekitar bersih dan bebas dari lalat.
  4. Pengawasan terhadap penjual dan rumah-rumah makan.
  5. Memberikan vaksin tifus (oral) kepada orang-orang yang akan melakukan perjalanan atau pelancong. Sedikit tips, para pelancong sebaiknya tidak mengkonsumsi sayuran mentah dan jenis makanan lainnya yang disimpan dan disajikan dalam suhu ruangan. Sebaiknya, pilih makanan yang masih panas atau dibekukan, minuman berkaleng dan buah yang kulitnya dikupas.
  6. Mencuci tangan sehabis buang air kecil dan buang air besar.
  7. Mengawasi penderita, seperti memisahkan tempat makan dan minumnya dari orang yang sehat.
  8. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pola hidup sehat.

Demam tifoid atau typhoid yang disebabkan oleh bakteri salmonella enteric ini bisa disebarkan melalui minuman dan makanan yang tercemar oleh tinja. Bagi orang tua, lakukan pencegahan terhadap anak-anak, seperti menyiapkan bekal makanan dari rumah dibandingkan memberikan mereka uang jajan.

Untuk Anda yang memiliki balita dan masih menyuapi mereka, biasakan makan di dalam rumah. Terkadang, karena ananda susah makan, orangtua lebih memilih area di luar rumah, seperti taman bermain atau bahkan lapangan luas, agar si anak makan sambil bermain bersama teman-temannya.

Cara seperti ini sangat beresiko tertular bakteri salmonella. Biasanya, sekali saja anak terserang typhus, maka akan lebih mudah baginya untuk terserang kembali, apalagi jika kebersihan makanan dan minumannya tidak terjaga dengan baik.

Tentunya, lebih aman mencegah daripada mengobati bukan? Jadi, biasakan ananda untuk pola hidup sehat, termasuk memilih jajanan dan tempat makan yang higienis. Beri pengertian pada ananda tentang bahaya membeli jajanan di sembarang tempat, apalagi jika makanan tersebut banyak dihinggapi lalat.

Demikianlah, artikel tentang demam tifoid. Semoga Anda mendapat pencerahan, sehingga semakin berhati-hati dalam menjaga kesehatan keluarga.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Sistem Pencernaan Makanan dalam Tubuh Manusia
  • Bahaya Pemakaian Narkoba
  • Makna Kedutan - Dari Mitos Hingga Medis
  • Pusing? Jangan Minum Obat!
  • Senam Kegel, Teknik dan Manfaatnya
  • Hamil Sehat dengan Tips Kesehatan Ibu Hamil
  • Penyakit Keputihan Saat Hamil dan Obatnya
  • Aneka Khasiat di Balik Amisnya Fish Oil
  • Tip Berhenti Merokok
  • Makalah Tentang Bahaya Narkoba bagi Generasi Muda
  • Penyakit Asam Urat dan Pengobatannya
  • Mengenali Ciri Gejala Maag
  • Cara Mengobati Keputihan
  • Memelihara Kesehatan Ibu dan Bayi
  • Menghilangkan Rasa Lelah Saat Bangun Tidur
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA