Mengintip Penyebab, Gejala, dan Rahasia Mengatasi Depresi
Pernahkah Anda mengalami sebuah situasi yang disebut sebagai depresi? Lantas, apa sebenarnya arti kata “depresi” tersebut? Depresi merupakan suatu keaadaan atau perasaan sedih yang amat dalam. Perasaan sedih ini dapat terjadi setelah kehilangan seseorang yang sangat berarti maupun selepas mengalami kejadian menyedihkan lain.
Akan tetapi, perasaan sedih pemicu depresi itu sebenarnya tidak sebanding dengan peristiwa yang telah terjadi. Boleh jadi, peristiwa tersebut merupakan hal yang tidak terlalu menyakitkan tetapi terus-menerus dirasakan dan disesali dalam jangka waktu yang tidak normal.
Tanda-tanda Depresi
Lantas, kapan seseorang boleh dikatakan telah mengalami depresi? Sebenarnya, sekitar 10 persen orang yang pernah mengunjungi dokter untuk menyampaikan keluhan psikologisnya, secara tidak disadari telah menderita depresi. Depresi tidak dapat dipandang sebelah mata meskipun penyebab dan pengaruhnya dirasa wajar-wajar saja. Bahkan, penderita depresi sering “mengingkari” bahwa dirinya tengah mengalami depresi.
Kapan Depresi Mulai Timbul?
Seperti yang telah disebutkan, setiap orang rentan mengalami depresi. Penyebabnya pun beragam, sesuai tingkat kemampuan mental setiap orang untuk menghadapi masalah hidup. Umumnya, depresi mulai timbul pada orang dewasa, yaitu pada usia 20-40 tahun. Anak-anak belum memiliki kecenderungan untuk mengalami depresi karena perkembangan otak dan mental yang belum terlampau matang.
Depresi biasanya terjadi dalam episode tertentu. Sebuah episode depresi, umumnya, berlangsung sekitar 6 hingga 9 bulan. Namun, pada sebagian penderita (sekitar 15 sampai 20 persen), dapat berlangsung dalam rentang waktu 2 tahun, bahkan lebih. Depresi cenderung memiliki episode yang berulang dan dapat terjadi beberapa kali.
Jenis-jenis Depresi
Meskipun penyebab dan efeknya boleh dikatakan hampir sama pada setiap orang, ternyata depresi memiliki beberapa jenis. Berikut ini merupakan 3 jenis depresi berdasarkan spesifikasi penyebabnya.
1. Jenis-jenis Depresei - Depresi Situasional
Yaitu depresi yang terjadi setelah seseorang mengalami sebuah peristiwa traumatik. Misalnya, pascakematian seseorang yang sangat dicintai.
2. Jenis-jenis Depresi - Holiday Blues
Yaitu depresi yang terjadi saat seseorang tengah menjalani liburan atau tengah merayakan momen tertentu. Namun, depresi jenis ini hanya bersifat sementara.
3. Jenis-jenis Depresi - Depresi Endogenous
Yaitu depresi yang terjadi tanpa memiliki sebab atau pemicu yang pasti.
Penyebab Depresi
Sebenarnya, pemicu atau penyebab depresi belum dimengerti sepenuhnya. Begitu banyak faktor yang bisa mengakibatkan seseorang menjadi penderita depresi. Berikut ini merupakan empat dari sekian banyak faktor pemicu depresi.
- Faktor genetik atau faktor keturunan.
- Efek samping obat-obatan tertentu yang dikonsumsi “calon” penderita.
- Kepribadian yang introvert.
- Peristiwa yang bersifat emosional, terutama setelah kehilangan orang yang sangat dicintai.
Apakah Depresi Bisa Semakin Parah?
Sama halnya dengan penyakit fisik, depresi bisa mencapai titik yang semakin parah atau memburuk. Depresi dapat terjadi, bahkan semakin parah, meskipun tidak disertai stres yang berarti. Dibanding pria, kaum wanita lebih rentan terkena depresi. Yaitu, dua kali lebih mudah terserang depresi daripada pria meskipun alasannya belum diketahui secara jelas.
Sebuah penelitian di bidang kejiwaan mendapatkan data bahwa wanita cenderung lebih merespon kesengsaraan atau penderitaan hidup dengan cara menyalahkan dirinya sehingga ia menarik diri atau mengasingkan diri dari lingkungan. Namun, kaum pria justru mengalami hal sebaliknya. Mereka cenderung menolak dan mengalihkan hal itu ke dalam beberapa kegiatan.
Respon yang berlainan antara pria dan wanita, terutama dipicu oleh faktor biologis yang bersifat hormonal. Perubahan kadar hormon pada wanita sangat berperan penting dalam hal ini. Misalnya, perubahan suasana hati yang biasa terjadi beberapa saat sebelum menstruasi (ketegangan pre-menstruasi) dan pascapersalinan (depresi post-partum).
Perubahan hormon seperti itu pun dapat terjadi pada wanita pengonsumsi pil KB yang mengalami depresi. Kelainan fungsi tiroid yang kerap terjadi pada wanita pun turut menjadi faktor yang berperan dalam terjadinya depresi.
Depresi Terjadi Bersamaan dengan Sejumlah Penyakit dan Kelainan Fisik
Satu hal yang tidak kalah mencengangkan, ternyata depresi bisa pula terjadi karena atau bersamaan dengan beberapa penyakit maupun kelainan fisik. Kelainan fisik seseorang dapat menyebabkan depresi dengan tiga cara, yaitu sebagai berikut.
- Secara langsung. Misalnya, saat penyakit tiroid mengakibatkan perubahan kadar hormon yang dapat menjadi pemicu depresi.
- Secara tidak langsung. Misalnya, saat penyakit artritis rematoid mengakibatkan nyeri serta cacat yang dapat memicu depresi.
- Secara langsung dan tidak langsung. Misalnya, AIDS yang secara langsung dapat menyebabkan depresi apabila virus penyebabnya telah merusak otak. Secara tidak langsung, penyakit tersebut dapat menjadi pemicu depresi apabila menimbulkan efek negatif bagi kehidupan penderita.
Selain beberapa faktor penyebab yang telah disebutkan, beberapa jenis obat yang diresepkan, terutama obat untuk mengatasi hipertensi, ternyata dapat menyebabkan depresi. Beberapa jenis kelainan jiwa, seperti penyakit kecemasan, alkoholisme dan penyalahgunaan zat-zat lainnya, skizofrenia, serta demensia stadium awal, dapat menyebabkan penderitanya mengalami depresi.
Kelainan Fisik Pemicu Depresi
Fakta bahwa tidak semua orang bisa memiliki fisik sempurna merupakan hal yang tidak dapat dielakkan lagi. Keadaan fisik yang tidak sempurna sering menjadi penyebab seseorang mengalami depresi. Perasaan minder dan berbeda dengan orang lain menjadi pemicu utama penderita kelainan fisik mengalami depresi. Berikut ini merupakan beberapa jenis kelainan fisik yang dapat menyebabkan depresi.
- Efek samping obat-obatan, seperti amfetamin, obat antipsikosa, pil KB, metildopa, reserpin, dan air raksa.
- Infeksi, seperti AIDS, influenza, sifilis stadium lanjut, virus hepatitis, dan tuberkulosis.
- Kelainan hormonal, seperti penyakit addison, penyakit cushing, hiperparatiroidisme, dan hipopituitarisme.
- Penyakit jaringan ikat, seperti artritis rematoid dan lupus eritematosus sistemik.
- Kelainan neurologis, seperti tumor otak, cedera kepala, tidur apneu, stroke, dan epilepsi lobus temporalis.
- Kelainan gizi, seperti pellagra (kekurangan vitamin B6) dan anemia pernisiosa (kekurangan vitamin B12).
- Kanker, seperti kanker indung telur, kanker usus besar, dan kanker yang menyebar ke seluruh tubuh.
Gejala Depresi
Gejala depresi biasanya muncul secara bertahap dalam rentang waktu beberapa hari atau beberapa minggu. Gejala awalnya, penderita depresi terlihat tenang dan sedih, bisa juga mudah tersinggung dan mudah cemas.
Gejala depresi vegetatif biasanya penderita lebih menarik diri dari pergaulan, tidak mau makan, tidak mau tidur, dan jarang berbicara. Sementara itu, penderita depresi agitasi akan meremas-remas tangannya, terlihat gelisah, dan lebih banyak berbicara.
Banyak pula penderita depresi yang tidak mampu lagi merasakan perubahan emosi, seperti senang dan sedih secara normal. Bagi penderita depresi, dunia akan terasa suram, tidak ada kehidupan, bahkan mati. Mereka cenderung lebih jarang berbicara maupun melakukan kegiatan umum lainnya sehingga aktivitas volunternya benar-benar terhenti.
Penderita depresi akan mengalami kesulitan untuk tidur dan lebih mudah terbangun, terutama saat dini hari. Mereka pun akan kehilangan gairah serta kenikmatan seksual. Nafsu makan penderita depresi akan memburuk sehingga mengakibatkan penurunan berat badan. Pada wanita, keadaan ini sering mengakibatkan berhentinya siklus menstruasi.
Pikiran penderita depresi cenderung dipenuhi perasaan bersalah serta sering berpikir untuk menghancurkan diri sendiri. Yang lebih penting, penderita depresi tidak mampu lagi berkonsentrasi dengan baik. Mereka lebih sering menarik diri, merasa bimbang, merasa tidak berdaya, dan berputus asa sehingga sering menghadirkan pikiran untuk mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri.
Selain kedua jenis depresi yang cukup berat, ada jenis depresi yang gejalanya cukup ringan. Depresi ringan ini dinamai depresi distritmik yang sering muncul pada masa awal kehidupan serta berhubungan dengan kepribadian yang nyata.
Penderita depresi ini tampak muram, pesimis, tidak senang bercanda, tidak dapat merasakan kesenangan, pasif, mudah curiga, sering mengkritik, dan sering menyesali diri mereka sendiri. Pikiran mereka kerap dipenuhi dengan kegagalan, kekurangan, peristiwa negatif. Namun, mereka memiliki nafsu makan yang tinggi sehingga berat badannya akan meningkat.
Cara Mengatasi Depresi
Berikut ini merupakan 5 solusi praktis untuk mengatasi depresi.
1. Cara Mengatasi Depresi - Bercerita dan Minta Orang Lain Mendengarkan
Ketika Anda memiliki perasaan tertekan atau emosi negatif, segeralah berbagi dengan orang lain. Jangan simpan perasaan merugikan itu sendirian. Ceritakanlah pada orang-orang yang tepat dan dapat dipercaya, misalnya keluarga, sahabat, maupun penasihat agama.
Bercerita kepada orang lain akan membantu Anda untuk melepaskan beban emosi negatif yang sangat mengganggu. Jika merasa malu untuk berbagi dengan orang lain, Anda bisa menuliskan perasaan tersebut dalam sebuah buku harian. Dengan demikian, secara tidak sadar, Anda tengah mengurangi energi negatif yang berbaung di hati. Secara perlahan, Anda pun akan merasa lebih baik.
2. Cara Mengatasi Depresi - Self Acceptance
Belajar menerima diri sendiri dan segala kekurangannya adalah salah satu cara terbaik untuk mengatasi depresi. Daripada terus berusaha mengubah hidup dengan terpaksa, lebih baik Anda terima diri sendiri dan lebih berkonsentrasi pada hal-hal yang mampu dilakukan. Cobalah untuk berdamai dengan ketidaknyamanan yang menghinggapi diri Anda.
3. Cara Mengatasi Depresi - Giving
Salah satu teknik ampuh yang dapat mengobati depresi adalah beramal (giving). Anda cukup bersedekah selama 29 hari dengan apa pun yang dimiliki, materi, tenaga, maupun hal terbaik lain yang mampu diberikan. Pikirkanlah bahwa apa yang Anda berikan pada orang lain haruslah hal terbaik. Teknik ini sangat ampuh untuk mengatasi berbagai kasus penyakit akibat gangguan emosi (psikosomatis).
4. Cara Mengatasi Depresi - Berdoa
Mendekatkan diri pada Sang Pencipta adalah cara terbaik untuk mengatasi setiap masalah, termasuk saat Anda mengalami depresi. Percayalah bahwa pertolongan akan datang bagi orang yang memintanya. Proses doa, yaitu meminta, meyakini, dan menerima, merupakan kegiatan 3 in 1 pada saat bersamaan. Yakinlah bahwa hanya dengan bantuan Tuhan, semua hal menjadi mungkin.
5. Cara Mengatasi Depresi - Success and Happy Program
Depresi merupakan sebuah indikasi bahwa Anda mempunyai masalah di dalam diri yang harus segera ditemukan solusinya. Depresi tidak sebatas penyakit. Depresi merupakan sinyal dari otak yang harus segera dipecahkan. Depresi harus dipecahkan dengan mengembangkan diri untuk mengubah hidup, otak serta pola pikir. Oleh sebab itu, success and happy program merupakan sebuah terapi yang dapat membantu Anda untuk memahami alasan-alasan psikologis yang menyebabkan depresi.






