Desa Pampang, Wisata Budaya Kota Samarinda
Sesaat setelah melihat ada pengunjung yang memasuki areal parkir Desa Pampang, tak lama hadir segerombolan anak-anak lengkap dengan baju adat Dayak. Jefri, satu di antaranya tergopoh-gopoh menyusul teman-temannya dengan baju yang belum dikancing sempurna.
Anak-anak ini terbiasa untuk bersiaga ketika ada pengunjung yang ingin mengeksplorasi salah satu obyek wisata budaya yang terdapat di Kota Samarinda itu. Mereka mengambil porsi sebagai obyek foto pelengkap bersama pengunjung. Di akhir sesi foto, mereka akan meminta bayaran yang besarnya dinegosiasikan.
Sejarah Desa Pampang
Jefri beserta penghuni Desa Pampang merupakan orang turunan Dayak Kenyah yang awalnya berdomisili di daerah Apokayan, Kutai Barat. Mereka secara bertahap kemudian pindah dan membentuk pemukiman di daerah Sungai Siring, 20 km dari Kota Samarinda dan menamakan pemukiman tersebut Desa Pampang. Pada tahun 1991, secara resmi Pemerintah Kalimantan Timur menetapkan secara resmi Desa Pampang sebagai Desa Budaya.
Kehidupan & Rutinitas
Penduduk Desa Pampang menjalankan kehidupan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku, mendirikan rumah adat yang disebut Lamin, membuat kerajinan, dan menjalankan upacara adat secara teratur. Meski tetap memegang adat Dayak yang berlaku, penduduk Desa Pampang, tetap tersentuh oleh kemajuan pembangunan. Mereka bersekolah dan memakai pakaian sehari-hari yang sama. Sekarang bahkan sudah jarang ditemui orang Dayak di Desa Pampang yang masih bertelinga panjang.
Lamin, Rumah Panjang
Saat mengunjungi Desa Pampang, sepanjang jalan masuk dari Gapura Desa Pampang, akan terlihat areal persawahan. Setelah 1 km, terlihat pemukiman penduduk dengan rumah berornamen khas Dayak Kenyah. Dan obyek wisata utama adalah Lamin atau rumah panjang sebagai pusat berlangsungnya kegiatan adat. Di dalam Lamin terdapat ruangan luas dan tinggi nyaris tanpa sekat yang dihiasi dengan ukiran khas yang indah.
Pada hari kerja, kegiatan di Lamin relatif tidak ada, hanya diramaikan oleh para ibu-ibu yang menjual souvenir khas mereka seperti hiasan manik. Beberapa menjual asesoris dengan bahan asli dari binatang seperti gigi beruang madu, tanduk babi, dan sisir dari bulu landak. Bahan asli dari binatang ini dipercaya mempunyai kekuatan magis tertentu untuk penyembuhan penyakit atau penangkal bahaya.
Acara kesenian baru digelar pada hari Minggu dengan jam yang terbatas, yaitu jam 14.00-15.00 WITA. Pengunjung yang akan menyaksikan upacara adat akan ditarik bayaran Rp 2000 dan tiket untuk kendaraaan Rp 5000. Upacara adat besar-besaran diadakan setahun sekali, dikenal dengan nama Pelas Tahun.
Akses
Akses menuju Desa Pampang relatif mudah dengan kendaraan pribadi. Dari Kota Samarinda, pengunjung dapat mengambil jalan menuju arah utara, ke arah jalan Kota Bontang. Setelah kurang lebih 20 km akan terlihat gapura Desa Pampang di sebelah kiri jalan. Setelah masuk sekitar 1 km akan terlihat pemukiman penduduk Desa Pampang. Sayang, tidak seluruh jalan masuk dalam keadaan baik.
Selamat berwisata budaya di Kota Samarinda.






