Gerakan Kembali ke Desa
Anda tentu masih ingat dengan sebuah lagu kanak-kanak yang menggambarkan tentang sebuah desa. Yaitu lagu ‘Desaku’ karangan AT.Mahmud. Yah benar, lagu tersebut benar-benar mencitrakan kehidupan desa namun dalam versi masa lalu. Secara fisik desa-desa sekarang di Indonesia mungkin tidak lagi seperti itu.
Makna Desa
Berdasarkan tinjauan dari struktur pemerintahan yang sudah baku di Indonesia. Maka yang dimaksud dengan desa adalah suatu tingkatan pemerintahan yang terendah yang membawahi tingkat kerukunan tetangga (RT) serta kerukunan warga (RW).
Kehidupan Desa
Sebenarnya kehidupan desa tidak berbeda jauh dengan hidup di kota atau tempat lainnya. Aktivitas yang terjadi adalah sama hanya fasilitas dan suasana saja yang sedikit membuat kehidupan di dua tempat tersebut terasa berbeda.
Kelebihan hidup di kota dibanding desa biasanya terletak pada fasilitas serta kecenderungan. Orang kota selalu membutuhkan alat bantu untuk mengimplementasikan kegiatannya. Contohnya, butuh mall untuk berbelanja dan bersosialisasi, butuh time zone atau play ground untuk tempat bermain anak, dan butuh gymnasium untuk tempat berolahraga.
Sedangkan kehidupan di desa berjalan lebih apa adanya dan bersahaja. Komunitas orang yang hidup di desa lebih mandiri dalam melakukan semua aktivitas sehari-hari. Karena semua yang tersedia di desa adalah merupakan jawaban dari kebutuhan hidup orang di desa.
Aspek Kehidupan Di Desa
Setiap manusia pada dasarnya memerlukan tiga aspek kehidupan untuk menunjang berjalannya aktivitas sehari-hari. Tiga aspek tersebut adalah Work, Rest dan Play. Ketiga aspek tersebut dibutuhkan orang hidup yang tinggal di manapun.
Bagi Anda yang terbiasa hidup di kota besar; ketiga aspek ini terkadang sengaja diciptakan. Dan hasilnya justru terlihat glamour ketika telah tercipta. Seperti water boom yang terlihat nampak fantastis dan mewah untuk ukuran orang desa; namun sebenarnya hanyalah tiruan dari air terjun atau ceruk yang biasa dan banyak ditemui di desa-desa.
Lalu bagaimana ketiga aspek tersebut, apakah benar ada dalam tatanan kehidupan di desa. Penjelasannya adalah sebagai berikut :
- Work. Work atau bermakna kerja. Justru kerja merupakan aspek utama bagi masyarakat desa. Setiap kegiatan hidup adalah bekerja. Bekerja di sawah, di ladang, berdagang, bekerja sebagai peternak, pengijon, buruh, pamong, pendidik, dan sebagainya.
- Rest. Rest atau beristirahat. Untuk ukuran orang yang desa tidak dimanifestasikan sebagai sesuatu yang berlebihan. Cukup dengan minum kopi atau rehat di kedai kopi sudah merupakan bentuk beristirahat. Kegiatan menampi padi dari gabahnya bagi perempuan desa juga istirahat.
Memberi makan ayam dan bebek sebagai bentuk istirahat dan relaksasi. Berjalan setiap hari berkilo-kilo meter jauhnya juga sebenarnya adalah beristirahat. Sehingga kemandirian orang desa lebih nyata dari orang kota, karena tidak memerlukan alat bantu untuk mendapatkan kebutuhan beristirahat. - Play. Atau bermain. Kegiatan bermain atau dialih bahasakan sebagai kegiatan bersifat hiburan (entertainment) justru terasa kental dan padat sekali di desa.
Anak-anak di desa memiliki beragam permainan yang dapat mereka mainkan kapanpun. Mereka berlomba terjun bebas di ceruk (air terjun), atau lomba berenang di kali (sungai), lomba racing dengan menggunakan kuda atau sapi sebagai kendaraannya.
Adu jangkrik atau adu rumput teki sebagai pengganti robot-robotan yang sering dimainkan anak kota. Bermain hujan-hujanan atau bermain lumpur, sementara di kota harus sampai merancang suatu jenis permainan yang berbasis air demi menjawab kebutuhan bermain.
Dari ketiga aspek tersebut terasa sekali perbedaan-perbedaan. Kehidupan di desa sepertinya sudah menawarkan secara alami kebutuhan bagi orang-orang yang hidup di desa; sementara di kota justru perlu menciptakan berbagai fasilitas hidup sebagai jawaban kebutuhan hidup orang-orang di kota.
Gerakan Kembali ke Desa
Berdasarkan pada ulasan sebelumnya tersebut maka kini mulai dirasakan adanya ‘gerakan kembali ke desa’. Gerakan kembali ke desa tidak diterjemahkan dalam artian sempit sebagai perpindahan secara fisik kehidupan dari kota ke desa (re-urbanisasi) namun lebih secara implicit sebagai perpindahan atau penciptaan kesannya saja.
Maka, meski tetap tinggal di kota – beberapa orang tua kota sengaja mengirimkan anak-anak mereka untuk sengaja memberi kesempatan bermain bersama di desa. Contohnya adalah Komunitas Hong di Jawa Barat, yang menampung berbagai arus anak-anak kota yang ingin bermain-main dengan anak-anak desa atau permainan desa/kampung lainnya.
Selain juga ada gerakan re-urbanisasi semi permanen. Artinya beberapa orang kota memang sengaja menanam investasi mereka di desa, sebagai tempat peristirahatan.
Bagi kelompok ini, ada baiknya sebagai saran yang mungkin dapat Anda terima; pilihlah rumah atau property yang memang berada di lingkungan orang-orang desa atau singkatnya utamakan pembauran. Jadi bukan berupa vila-vila yang terkungkung oleh tembok tinggi yang justru menambah dalam jurang perbedaan antara mereka (kaum urban) dengan masyarakat desa.






